LIVE STREAMING

Bertemu Rama - Shinta Di Gunung Padang

Rabu, 22/05/2013 15:41 WIB

Cianjur - KBR68H Nafas terasa hampir putus ketika tapak kaki mencapai dataran paling atas situs megalitikum Gunung Padang. Tangga berundak dari susunan batu ini sebetulnya tak terlalu tinggi. Mungkin hanya sekitar 100 meter. Tapi percayalah, untuk mencapai bagian atas, energi Anda bakal betul-betul terkuras. Dengan sudut kemiringan sekitar 70 derajat, tangga batu ini memang mirip jalur trek Cibodas - Kandang Batu. Atau tanjakan di Gunung Penanggungan di Jawa Timur. Pendek tapi tajam.

Buat Anda yang memiliki gangguan pernafasan atau jantung, disarankan untuk tak mengambil jalur tangga batu ini. Lantas lewat mana? Jangan khawatir, pengelola situs sudah memikirkannya. Di sebelah tangga batu curam, selepas loket karcis masuk, Anda bisa memilih jalur yang lebih landai. Bentuknya melingkar, mengelilingi punggung bukit. Jaraknya memang lebih jauh, tapi jalur trek semen beton berundak ini jauh lebih ringan dan santai.

Terletak di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, situs Gunung Padang bisa ditempuh melalui jalur jalan raya Ciancur arah Sukabumi. Sebuah papan petunjuk "Situs Megalit Gunung Padang" akan bisa Anda lihat di persimpangan Warung Kondang. Menurut petunjuk, jarak antara persimpangan ke lokasi situs sekitar 20 kilometer. Tapi jarak sependek ini butuh waktu tempuh lebih dari 30 menit karena jalanan desa yang rusak di sana- sini.

Ramai Pengunjung

Situs megalitik Gunung Padang kini jadi kawasan wisata. Ketika berjalan kaki dari tempat parkir, saya tak menduga kawasan ini bakal seramai ini. Kebetulan hari Kamis (9/5) lalu adalah hari libur. "Memang ramai kalau hari libur, seperti Sabtu atau Minggu," kata Dadi, petugas dari Balai Pelestarian Cagar Budaya. Perkiraan Dadi dalam sebulan pengunjung bisa mencapai 4 - 6 ribu orang. Cukup banyak untuk sebuah situs yang baru beberapa waktu belakangan populer akibat pemberitaan media massa.

Hari itu misalnya ada rombongan anak-anak sekolah, di samping beberapa anak muda yang datang berpasangan. Dua turis asing juga tampak di antara pengunjung. Dan rada menakjubkan, sepasang anak muda lengkap dengan juru kamera dan pengarah gaya. Foto model? Bukan. Mereka ternyata sedang membuat sesi foto pre-wedding, dengan kostum yang berbeda dengan seluruh pengunjung yang sedang berada di situ. Kedua anak muda ini mengenakan kostum tokoh wayang Rama dan Shinta. Mereka mencoba berbagai pose di atas batu-batu purba. Tanpa gangguan.

Kawasan Gunung Padang memang telah berubah sama sekali dibanding ketika pertama kali saya ke tempat ini pada 1997. Saat itu jangankan ramai pengunjung, jalan menuju situs saja luar biasa buruknya. Dari jalan raya menuju ke pemberhentian terakhir, mobil hanya bisa masuk gigi satu, saking banyaknya lubang di jalan.

Pertentangan

Situs yang berada di ketinggian 885 dpl dengan luas sekitar 900 meter persegi ini mendadak ramai dibicarakan orang sekitar dua tahun belakangan. Barangkali akibat promosi gencar yang dilakukan Staf Khusus Presiden Bidang Bencana, Andi Arief. Bersama tim yang ia sebut sebagai Tim Terpadu Riset Mandiri, Andi Arief mengkampanyekan kemungkinan adanya peradaban maju di balik tumpukan batu megalitik di atas Gunung Padang. Tim ini bahkan sempat melakukan pengeboran tepat di titik situs. "Kedalamannya sekitar 26 meter," kata Dadi.

Tak cuma mengebor, tim juga melakukan penggalian dengan kedalaman 4 meter di pinggir situs. Bekas galian yang sudah ditimbun kembali itu masih kelihatan jelas, berada di atas sebuah rumpun bambu yang sebagian sudah ditebang. "Pakai cangkul dan linggis dengan upah Rp 100 ribu/hari."

Upaya yang dilakukan Tim Terpadu Riset Mandiri ini ternyata mendapat reaksi keras dari sebagian kalangan, terutama para arkeolog. Mereka khawatir situs akan mengalami kerusakan kalau penggalian atau ekskavasi dilakukan tanpa mengikuti kaidah yang lazim dalam penelitian situs purbakala. Para arkeolog ini lantas bikin petisi yang ditujukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Di antara para penandatangan Petisi Penyelamatan Situs Gunung Padang, tertera beberapa nama yang sudah tak asing dalam urusan kepurbakalaan seperti Prof Dr Mundarjito, Prof Dr Harry Truman Simanjuntak, Dr Bambang Sulistyanto dan lain-lain. Para penandatangan kebanyakan berhimpun dalam organisasi Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

"Gunung Padang adalah bangunan megalitik terbesar di Asia Tenggara yang memiliki nilai penting sebagai bukti peradaban umat manusia...Di situs Gunung Padang saat ini sedang dilakukan penelitian oleh Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padang, yang terdiri dari sejumlah ahli atas inisiatif sendiri. Kegiatan ini dilaksanakan tanpa mengikuti kaidah-kaidah keilmuan, wawasan pelestarian, dan ketentuan administrasi sesuai izin yang dikeluarkan," begitu antara lain bunyi petisi.

Petisi ini sempat membuat Andi Arief meradang. "Dosa terberat intelektual adalah ketika mereka bergabung lalu membentuk kediktatoran riset," kata Andi dalam sebuah pesan singkatnya.

Tapi pertentangan antara dua kelompok ini tampaknya bakal mencair. Tim Terpadu yang banyak didukung para geolog sudah bertemu dengan beberapa pakar arkeologi. Kabar terakhir, pemerintah sudah mengambil alih masalah situs Gunung Padang. "Saat ini memang sudah tak boleh lagi ada penelitian di sini kalau tanpa ijin dari pusat," kata Dadi mengkonfirmasi.

Jadi kalau Anda masih bertanya, benarkah pernah ada peradaban maju di balik tumpukan batu purba di atas Gunung Padang? Anda harus sabar menunggu jawabannya.


Foto-foto: Heru Hendratmoko/KBR68H

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!