LIVE STREAMING

Tuol Sleng, Ketika Kematian Justru Dicari

Rabu, 06/03/2013 14:44 WIB

The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting. Kutipan dari penulis asal Republik Check yang kemudian jadi warga negara Prancis, Milan Kundera, ini begitu terkenal. Rangkaian kata inilah yang memasuki benak saya ketika melangkahkan kaki ke Tuol Sleng, sebuah museum warisan sejarah gelap yang ditinggalkan rezim biadab Pol Pot, di Pnom Penh, ibukota Kamboja.

Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa. Betapa benar Kundera. Memasuki kawasan museum, pikiran kita bakal diaduk-aduk tentang sebuah zaman ketika kekuasaan tampil dalam sosoknya yang bengis, kejam, dan berdarah-darah. Bahkan kematian tampaknya jauh lebih agung ketimbang hidup dalam belenggu ketertundukan total.

Tuol Sleng dulunya adalah sebuah kompleks bangunan sekolah menengah yang terdiri dari lima gedung. Namanya SMA Chao Ponhea Yat, yang diambil dari nama nenek moyang Raja Norodom Sihanouk. Namun sebuah rezim haus darah dengan cepat mengubah lembaga pendidikan ini menjadi ruang-ruang interogasi dengan berbagai tindakan horror yang mungkin tak pernah terbayangkan di benak manusia.

Agustus 1975, pasukan Khmer Merah menguasai kota, menggulingkan rezim Lon Nol. Kamboja memasuki babak baru di bawah kepemimpinan Saloth Sar lebih dikenal sebagai Pol Pot yang berhaluan Maois. Dengan cepat mereka yang dicurigai sebagai antek asing, ditangkapi. Lembaga agama, sekolah, bahkan mata uang dilarang. Masyarakat utopia agraris, itulah cita-cita Pol Pot. Maka mereka yang berkacamata, dosen, guru, mekanik, dokter -- pokoknya semua yang dianggap terpelajar lantas dikirim ke kamp-kamp kerja paksa. Sekitar dua juta orang meninggal karena disiksa. Juga karena kurang makan.

SMA Chao Ponhea Yat menjadi salah satu pusat interogasi. Dan penyiksaan. Khmer Merah mengganti nama gedung sekolah itu menjadi Penjara Keamanan 21 atau S-21. Ruang kelas pun diubah menjadi ruang tahanan, ruang guru berubah fungsi menjadi ruang interogasi lengkap dengan alat-alat penyiksaan mulai dari bor, sengatan listrik, palang besi dan sebagainya. Ruang tidur hanya cukup untuk membaringkan tubuh karena seluruh ruangan disekat-sekat ke dalam ukuran 2 meter x 0,8 meter. Itu pun kaki mereka dirantai untuk mencegah tahanan melarikan diri. Sekeliling gedung dililit kawat berduri dan dialiri listrik. Gunanya? Mencegah tahanan bunuh diri.

Ya, tampaknya mati bunuh diri menjadi pilihan mewah bagi para tahanan. Tiada hari tanpa interogasi dan penyiksaan. "Kalau kamu tak mau mengaku, aku akan menghajarmu sampai mati. Jadi mengaku saja, agar aku tidak membunuhmu," kata Chum Mey, bekas tahanan yang selamat dalam sebuah persidangan kejahatan perang dua tahun lalu.

Dalam kesaksiannya Chum Mey mengaku disiksa sedemikian hebat. Kuku jarinya dicopot dengan tang, disetrum dengan listrik berkekuatan 220 Volt, atau dipukuli dengan bilah bambu. Ia akhirnya terpaksa mengaku sebagai agen Amerika dan merekrut beberapa agen di Kamboja sesuatu yang sama sekali tak pernah ia lakukan, karena sebelum Po Pot datang, ia hanya bekerja sebagai seorang tukang jahit.

Kekuasaan Khmer Merah berlangsung hingga 1979 ketika datang pasukan Vietnam mengusir mereka. Tapi hanya dalam waktu empat tahun, penjara Tuol Sleng berhasil mencetak rekor kekejaman yang ditimpakan rezim Pol Pot kepada sekitar 17 ribu tahanan.

Memasuki museum genosida Tuol Sleng, menatap satu per satu deretan foto korban, menengok bilik-bilik penyiksaan, dan memandangi beragam jenis alat yang dipakai untuk menyakiti tahanan, sungguh membuat kita berpikir ulang tentang sebuah ciptaan. Betulkah Pol Pot hanya seorang manusia yang sakit jiwa? Atau sesungguhnya dia sebentuk monster yang susah didefinisikan?

Dari Tuol Sleng, kita bakal selalu berharap, jangan pernah ada lagi sejarah sekelam itu.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!