LIVE STREAMING

Menyusuri Jejak Sejarah dan Kebudayaan Melayu di Pulau Penyengat

Rabu, 13/03/2013 11:45 WIB

Pulau Penyengat adalah salah satu pulau yang ada di Provinsi Kepulauan Riau, pulau ini menjadi  salah satu objek wisata sejarah andalan di Provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini dapat ditempuh selama 15 menit dari kota Tanjung Pinang dengan menggunakan perahu motor kecil atau yang biasa disebut dengan pompong, dengan tarif Rp. 5.000 per orang  atau Rp. 80.000 per perahu jika Anda ingin menyewanya dengan sekali jalan.

Sesampai di Pulau Penyengat Anda bisa langsung melihat bangunan unik berwarna kuning, inilah Masjid Raya Sultan Riau. Konon  Masjid ini dibangun dengan tidak menggunakan semen sama sekali sebagai bahan perekatnya, hanya menggunakan campuran telur, kapur dan tanah. Di depan pintu utama masjid  pengunjung akan melihat kitab suci Al Quran tulisan tangan yang diletakkan di dalam peti kaca, Al Quran ini ditulis oleh Abdurrahman Stambul Sultan Kerajaan Riau pada tahun 1867 M. Ia adalah salah seorang Putra Riau yang dikirim Kerajaan Riau-Lingga untuk menuntut ilmu di Istambul Turki, Al Quran bergaya Istambul ini ditulisnya disela-sela kegiatannya mengajar agama Islam di Pulau Penyengat.

Puas melihat-lihat Masjid Raya Sultan Riau Anda bisa mengelilingi Pulau Penyengat dengan berjalan kaki atau jika malas berjalan kaki Anda bisa naik Becak Motor dari depan Masjid dengan tarif Rp. 25.000. Becak Motor ini akan mengantarkan Anda ke tempat-tempat bersejarah berikutnya. Sepanjang jalan Anda akan menikmati suasana Pulau Penyengat yang sepi, tidak ada suara mobil hanya ada beberapa motor yang lalu-lalang, penduduknya pun lebih memilih diam di dalam rumah.

Terdapat beberapa Kompleks Makam Bangsawan di Pulau ini salah satunya adalah kompleks makam Raja  Hamidah (Engku Puteri) pemegang Religa Kerajaan (alat-alat kebesaran kerajaan). Raja Hamidah adalah permaisuri Sultan Mahmud Syah III (1760-1812). Sultan Mahmud Syah III adalah keturunan Sultan Riau IV dengan gelarnya Raja Haji Fisabilillah yang merupakan pahlawan nasional dalam membela tanah melayu dalam peperangan melawan Belanda. Pulau ini milik Raja Hamidah yang diberikan oleh Sultan Mahmud Syah III sebagai mahar atau mas kawin.
Terdapat pula makam Raja Ali Haji (1808-1873), seorang pahlawan nasional dalam bidang sastra dan bahasa Indonesia, pujangga terkenal dengan hasil karyanya Gurindam 12, 12 pasal syair melayu yang berisikan nasihat-nasihat. Selain itu ada makam Raja Ahmad seorang penasehat kerajaan. Raja Haji Abdullah yang Dipertuan Muda Riau-Lingga IX (1855-1858) serta Permaisurinya Tengku Aisyah.

Tak jauh dari Kompleks Makam Raja Hamidah terdapat pula Kompleks Makam Raja Jafar yang Dipertuan Muda Riau-Lingga VI (1806-1831) dan Raja Ali yang Dipertuan Muda Riau-Lingga VIII (1844-1855) anak dari Raja Jafar beserta keturunannya. Hampir seluruh keturunan Raja Riau-Lingga dimakamkan di Pulau Penyengat.

Satu lagi peninggalan sejarah yang dapat Anda kunjungi adalah Balai Adat Melayu Indera Perkasa. Balai Adat adalah tempat penyimpanan perkakas-perkakas Raja dan Tuan Putri. Terdapat pelaminan pengantin di dalam Balai Adat ini. Selain itu di bawah bangunan Balai Adat Melayu Indera Perkasa terdapat sumur yang konon merupakan sumber mata air pertama di Pulau Penyengat.

Jika Anda sedang berada di kota Tanjung Pinang atau Batam, sempatkanlah berkunjung ke Pulau Penyengat di Kepulauan Riau (Mulyati Asih)

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!