LIVE STREAMING

Hari-Hari Terakhir Tukang Foto Keliling

Kamis, 23/01/2014 09:32 WIB

Raidi mendekap kamera manualnya yang menggelantung di leher, mencegahnya berayun saat melangkah menyusuri perkampungan mencari pelanggan yang kian menjauh. Kamera digital dan smartphone mendesaknya ke sudut paling jauh dari pandangan orang-orang yang dulu mencarinya. Raidi terlambat beringsut, dan ia tak kuasa digilas jaman.

Mulai menjalani profesinya sebagai tukang foto keliling sejak 1983, Raidi mengalami jaman keemasan. Pelanggannya dari kalangan perumahan, bos warung tegal di kawasan Utan Kayu, hingga cady-cady cantik di drive range golf Rawasari, Jakarta Timur. Sayang kini sudah jadi apartement. Sehari menghabiskan satu roll film sudah biasa kala itu. Ia sudah punya rumah sendiri dari hasil foto keliling.

Tapi kini, dalam seminggu bisa setengah roll klise saja itu sudah keajaiban. Pelanggannya tak sabar mesti menunggu seminggu untuk menikmati hasil fotonya. Sementara Vera, pembantu centil di Jalan Mede lebih suka “selfie” foto dengan angle agak menyudut dari atas dan bisa langsung mengupload hasilnya di facebook.

Raidi sudah 53 tahun, dan istrinya sudah jauh hari melarangnya bekerja, karena lebih sering rugi daripada untung. Uang ngopi dan rokoknya tak seimbang dengan pendapatan. Tiga kamar di rumahnya, yang sudah disulap jadi kost-kostan untuk  mahasiswa UNJ, sudah lumayan mencukupi kebutuhan harian mereka. Tapi Raidi tak sudi rutinitasnya terhenti, bisa kacau metabolisme tubuhnya.

Raidi galau. Januari ini, satu-satunya tempatnya mencuci-cetak klise fotonya di Jatinegara berniat tutup karena sudah tidak ada konsumen lagi. Ia tak tahu lagi mesti bagaimana, untuk beli kamera digital pun belum cukup modal. Ia mulai menghitung hari-hari terakhir profesinya. Entah, apa jadinya jika itu benar terjadi.


Foto-foto: Danang DKW

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!