Dari Jendela Abdul Hasyim

Minggu, 27 Jan 2013 13:55 WIB

“Saudara saya banyak tinggal di Kalibata. Mereka orang berhasil semua. Sejak banjir sampai sekarang belum nengokin saya,” kata lelaki kelahiran 1954 itu. Sejak lahir ia sudah tinggal di tepi Ciliwung. “Tapi dulu kalau banjir cuma sehari. Gak lama-lama.”

Itu karena dulu Ciliwung belum menyempit oleh tanah dan bangunan-bangunan rumah. V Lestari mencatat dalam “Saat Ciliwung Bergelora” bahkan gelora di antara dada karakter novelnya tak terganggu deram deru naiknya permukaan Ciliwung.

Dan kini, bagi Abdul Hasyim Al Hadad yang tinggal Gang H Anwar, Jatinegara, belakang RS Hermina, Ciliwung adalah lumpur yang masuk ke rumah. Menenggelamkan bangunan yang tak seberapa kokoh. Merusak barang yang tak seberapa mahal. Pun tak ada sanak keluarga datang.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi