Apresiasi dan Harapan Pada POLRI

Dalam laporan bertajuk Law and Order Index, Indonesia di posisi ke-9. Riset ini mewawancarai hampir 150 ribu orang dewasa di 142 negara soal tingkat kepercayaan mereka terhadap polisi lokal.

Kamis, 12 Jul 2018 05:27 WIB

Puluhan polisi cilik binaan Polda di Indonesia melakukan formasi baris berbaris pada peringatan HUT

Puluhan polisi cilik binaan Polda di Indonesia melakukan formasi baris berbaris pada peringatan HUT ke-72 Bhayangkara yang dihadiri Presiden Joko Widodo, di Istora Senayan, Rabu (11/7). (Foto: Antara/Wahyu Putro A).

Meski sempat tercoreng rangkaian teror bom di Surabaya dan Pasuruan juga rentetan aksi begal yang makin sadis, Indonesia rupanya masih masuk dalam daftar negara teraman di dunia. Setidaknya begitu hasil riset Internasional Gallup's Law and Order.

Dalam laporan bertajuk Law and Order Index, Indonesia menempati posisi ke-9. Lembaga riset ini mewawancarai hampir 150 ribu orang dewasa di 142 negara soal berapa besar tingkat kepercayaan mereka terhadap polisi lokal. Hasil riset ini disampaikan Presiden Joko Widodo dengan rasa bangga di acara upacara peringatan Hari Bhayangkara ke-72, kemarin (11/7/2018).  Rasa bangga itu ditimpali dengan laporan Kapolri Tito Karnavian. Orang nomor satu di jajaran kepolisian itu mengatakan saat ini kepercayaan publik terhadap polisi makin meningkat.

Ah, baiklah. Kita pun turut mengapresiasi pencapaian itu. Hanya saja jangan lantas berpuas diri. Jangan kendor, tantangan mendatang makin kompleks dengan ragam jenis ancaman kejahatan baru di era digital. Juga masih banyak pekerjaan rumah yang mesti dibenahi di internal kepolisian. Salah satunya adalah mengedepankan tindakan humanis dalam menangani setiap permasalahan sosial yang timbul. Ini adalah salah satu perintah Presiden.

Setuju. Ini juga harapan kita. Menengok catatan setahun terakhir LSM Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Polisi dan TNI masih menjadi pelaku terbanyak kasus penyiksaan. Jumlahnya 130 kasus penyiksaan.

Semoga bukan harapan muluk, jika kita berharap polisi mengedepankan HAM dalam upaya penindakan. Semoga masyarakat yang aman dan terayomi bukan lagi mimpi. Supaya celetukan klasik ‘lapor ke polisi malah nambah masalah’ tak lagi kita dengar. 

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Konflik agraria dari tahun ke tahun terus naik. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat terjadi 600an konflik agraria sepanjang tahun lalu, meningkat 50 persen dibandingkan 2016.