pemred baru

Muda, bersemangat dan punya perencanaan yang baik itulah Citra Dyah Prastuti, Direktur Produksi KBR yang baru. “Saya punya notes sampai 3, 1 buat nyatet saat rapat dengan tulisan cepat, notes kedua catatan hasil rapat yang saya tulis kembali dengan rapih, dan notes ketiga ukuran kecil berisi hal yang mesti saya kerjakan, saya juga suka buat tabel-tabel, supaya saya tak lupa pekerjaan yang mesti selesai,” ungkapnya


Citra sapaan akrabnya resmi menjadi Direktur Produksi KBR menggantikan Heru Hendratmoko pada 24 November 2014. Posisi Direktur di sebuah media, yang sekaligus menjadi pemimpin redaksi , sangatlah  jarang diisi oleh perempuan. Tugas pertama Citra menjadi Direktur Produksi KBR adalah menghadiri pertemuan Pemimpin Redaksi media nasional dengan Menteri Pertahanan RI, Ryamizard Ryacudu. “Saya datang, semuaaa laki, ngga ada perempuan. Meski baru, ya saya berusaha menjalin komunikasi, ngobrol sana, ngobrol sini,” ujarnya dengan santai.


Menjadi Direktur Produksi KBR termasuk di dalamnya PortalKBR.com adalah pekerjaan yang menantang buatnya. Meski diawal stress dan mau langsung ambil form cuti  “Semua yang saya kritik selama ini, harus saya kerjain. Jadi saat ini saya tidak bisa bilang ‘ ini sih nggak kerja’ atau ‘itu sih nggak ngerjain itu’. Sekarang saya harus ngerjain semua,” sambil tertawa.


Asal ngecap alias nyebut, inilah yang Citra juga ungkapkan teringat 10 tahun lalu saat mengisi formulir beasiswa Chevening dari pemerintahan Inggris untuk program S2 jurusan Critical Media & Cultural Studies  School of Oriental and African Studies di London pada 2005-2006. “Jadi di formulir itu ada pertanyaan: ‘10 tahun dari sekarang, kamu bakal jadi apa?’ Saya tulislah jadi ‘direktur’, namanya juga mau dapat beasiswa,” kata dia geleng-geleng tak percaya. 


12 tahun di KBR banyak sukanya. “Saya bisa pergi ke tempat yang saya inginkan, saya ke Ambon, saya Ke Aceh. Saya juga bisa milih. Saya pun bisa dapat beasiswa sekolah S2,” katanya. Pengalaman liputan yang ia ingat salah satunya saat pergi ke Aceh pada 2003. Saat itu Aceh tengah Darurat Militer. “Saya kloter pertama jurnalis yang liputan ke Aceh bareng TNI saat darurat militer. Ketika di pesawat kita dapat informasi, kalau nama-nama kita sudah ada di daftar GAM, ya belum juga nyampe, mau pulang lagi ya ngga bisa, gimana caranya sama siapa, seraaaam,” dalam hati saat itu panik juga ujarnya.


Ada juga kejadian lucu di Aceh, saat naik tronton bersama TNI menuju ke sebuah lokasi yang kabarnya pernah jadi tempat pembantaian yang dituding GAM. Karena di dalam tronton panas. Ia memilih tempat duduk dekat jendela dan membukanya. “Aduuuuh enaaak, adeeeeeeem, eh tentara sebelah saya bilang ‘mbak jangan duduk di sana nanti ke tembak’ lalu langsung geser lah sayaaa,” ingatnya.


Super Hero bagi semua. Yap, Citra Dyah Prastuti bersama Komang dan Sutami pernah mengisi posisi Cover Leave Sick (CLS). “Jadi siapa pun yang tiba-tiba sakit, atau cuti kita-kita yang gantiin, pahlawan banget kan, serba bisa kan,” kelakarnya.


Sebetulnya tak pernah bermimpi atau kepingin menjadi jurnalis ketika lulus kuliah jurusan Komunikasi Massa Unversitas Indonesia. Setelah lulus, Citra justru kursus menjadi guru bahasa Inggris sambil melamar ke media cetak. “Nggak terus bergelora di dalam hati setelah lulus, ingin menjadi wartawan yang mengungkap sesuatu. Saya cuma senang nulis panjang. Dan ketika bergabung di KBR, pikiran pertama ‘kapan nulis panjangnya’, tapi saat itu ada produk Feature SAGA yang durasinya 30 menit. Jadinya keinginan nulis panjang tersalurkan,” tuturnya panjang lebar.


Dari reporter, editor untuk feature SAGA, Editor Asia Calling Radio, manajer PortalKBR.com sampai akhirnya di posisi Direktur Produksi KBR dia masih susah mikir apa hal yang bikin jengkel di KBR. “Aduuuuuuh apaaah yaaaa, saya ini kan tipe pelupa, dibawa tidur ya hilang, yang jengkel-jengkel ya dibenahi. Yang pasti kalau kata Mas Heru Hendratmoko di pengantar buku Cheers UK yang saya tulis, ‘Citra itu selalu bisa melihat sesuatu yang menyenangkan dari sesuatu yang tak mengenakan,” ujarnya bijaksana sambil tersipu malu.


Momoles wajah KBR menjadi lebih segar, termasuk di dalamnya portalkbr adalah tantangan di depan mata. “Tantangannya berat, radio media tradisional yang semakin menyusut pendengarnya, tapi masih ada, masih banyak yang loyal, di saat yang sama kita harus survive dengan berkenalan media baru, teknologi dan pendengar baru yang kita masih raba-raba, kita ke sini atau ke sana. Tapi ya dua-duanya harus dikerjain secara barengan. Nanti saya sewa dedemit untuk itu,” sambil bercanda memecah keseriusan wawancara.


Memikirkan satu sama lain. Inilah yang ia akan selalu ingatkan kepada timnya dan keluarga besar KBR. “Semua dipaksa dalam tanda kutip, ketika liputan, ketika membuat berita, harus mikirin siaran on-air dan on-linenya di saat bersamaan, susah pasti iya. Tapi ini kuncinya, memikirkan satu sama lain. Bukan memikirkan diri sendiri,” tegasnya.


Kereta akan tetap melaju, kadang lambat, kadang cepat. “Kalau mau ikut ya ayo, kalau ngga, ya tidak apa-apa. Setiap orang punya peran dan pilihan,” tutupnya. 


Selamat Bekerja Direktur Produksi KBR Citra Dyah Prastuti!

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!