guru agama penyebar toleransi

Ketika meliput Syamsuri mengajar agama Islam di SDN Pengasinan IV Bekasi, saya duduk di bangku paling belakang. Syamsuri adalah guru agama dan alumnus pelatihan toleransi dari ICRP. Pelajaran Rabu kemarin adalah penciptaan Adam dan Hawa.


Dari 36 murid di dalam kelas, perhatian saya tertuju pada Jessica, satu-satunya siswi tanpa kerudung. Ketika temannya yang laki-laki dan perempuan berbaris meminta nilai tugas, Jessica hanya duduk di mejanya.


Usai kelas, saya bertanya pada Jessica apakah Syamsuri pernah menjelekkan agamanya.


“Enggak,” jawabnya singkat.


Saya menanyakan hal serupa ke Shella, teman sebangku Jessica yang muslim.


“Enggak,” kata Shella malu-malu.


Saya lalu mengobrol dengan Syamsuri soal metode mengajarnya. 


“Kami arahkan ke anak-anak untuk tetap menjaga kebersamaan, menghargai, toleransi antar satu dan lainnya. Artinya kepercayaan yang Jessica yakini sampai hari ini tentu tidak diusik-usik oleh kita,” jelas Syamsuri.


Tapi pelajaran dari guru belumlah cukup. Sebab Ketua Yayasan Cahaya Guru, Henny Supolo, mengatakan toleransi adalah pengalaman. 


“Penyadaran itu beda sekali dengan pengetahuan,” kata Henny.


Artinya, murid bisa lancar menjelaskan toleransi, tapi tidak benar-benar bisa berteman dengan orang beda agama. Jawaban Jessica dan Shella tidak menjamin konflik itu benar-benar tidak ada.


Tapi kekuatiran saya hilang ketika bel istirahat berbunyi. Saya melihat Jessica keluar dengan dua temannya, bukan Shella, tapi dua teman itu juga berkerudung. Mereka bertiga jajan ke warung di depan sekolah dan membeli sosis goreng. Mereka mengobrol sambil berjalan-jalan ke perumahan warga. 


Ternyata Jessica benar-benar diterima. 


Ketika saya mengarahkan kamera saya pada mereka, salah satu teman Jessica bilang, “itu kita difoto. Difoto!”


Jessica lalu mendorong temannya yang juga malu-malu. Lalu mereka bertiga berlarian sambil menghindari bidikan saya. Mereka buru-buru masuk ke pagar sekolah mereka. Jessica dan dua temannya berbagi tawa yang sama, seolah tak ada sekat agama.


Cerita soal guru agama Syamsuri yang menyebarkan perdamaian di dalam kelas bisa dibaca di sini

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!