rebecca

Rebecca Henschke adalah Editor Asia Calling KBR dan Produser Eksekutif TvTempo. Warga asli Australia ini sudah 9 tahun menjaga gawang program Asia Calling KBR. Sebelum pindah ke Indonesia, dia memproduksi program aktual World View di SBS National Radio. Di Jakarta, dia juga bekerja untuk BBC, Public Radio International, National Public Radio di Amerika dan Deutsche Welle.  “Sejak 2005,” sebut Bec sapaan akrabnya. 

Asia Calling mengudara tiap Jumat & Sabtu, mengangkat isu terkini soal politik, ekonomi, sosial dan keberagaman budaya serta lingkungan. Diproduksi dalam bahasa Inggris, Asia Calling diterjemahkan dalam 10 bahasa di Asia dan dipancarluaskan oleh ratusan stasiun radio di penjuru Asia & Australia.“Menjadi tantangan bekerja dengan banyak reporter, koresponden dengan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Editannya pasti banyak sekali. Apalagi pendengarnya beda, jam siarnya juga beda, di 10 negara ” ujar Rebecca.

Tapiiii ya senang saja bisa datang ke suatu tempat, mencari keunikan di setiap kawasan asia dan mengemasnya menjadi sebuah cerita yang bisa dinikmati dan ketahui banyak orang. Kata dia, momen tak terlupakan ketika ia berada di Nepal “Duduk di atap rumah milik warga dengan pemandangan menakjubkan gunung Himalaya, dikelilingi oleh masyarakat desa. Mereka berbicara apa yang mereka sukai dari Asia Calling. Ini sangat menakjubkan, program dari Indonesia bisa sampai ke orang-orang tersebut,” ceritanya. 

Dia juga berkesempatan mewawancarai pemberontak di Timor Leste Alfredo Reinado sebelum akhirnya meninggal. “saat wawancara dia memegang pistol, dan setelah wawancara dia tak sabar menunjukkan kepada saya taman bunganya. Dia bicara banyak soal mawar, ini sangat berkesan buat saya,” tambahnya. 

Pada 2011, Asia Calling tak hanya disiarkan di radio tapi juga di televisi. Lagi-lagi ini menjadi tantangan baginya. “Dari format radio menjadi televisi, suara dan gambar. Saya belajar begitupun para koresponden,” ungkap Rebecca. Menurut Rebecca program ini memang sangat cocok disiarkan di televisi. “Benar-benar jendela Asia. Melalui kami, melalui koresponden kami, masyarakat bisa melihat dan mengenal apa saja yang terjadi di negara lain seperti halnya yang terjadi di negara kita dan dunia,” tutur Rebecca panjang lebar.

Rebecca tak hanya meng-edit tulisan koresponden tapi dia juga turun langsung untuk meliput. Dari hasil liputannya banyak prestasi yang ditorehkan ibu dua anak ini. Rebecca meraih penghargaan jurnalis terbaik AJI pada 2007 untuk serial investigasi soal dampak industri kelapa sawit di Kalimantan. Setahun berikutnya, penghargaan itu diraih kembali dengan liputan soal toleransi agama. 

Tahun ini Rebbeca menjadi salah satu finalis peraih Penghargaan Indonesia Australia untuk katagori media. Penghargaan tahunan ini diberikan oleh Asosiasi Australia Indonesia (AIA) dan diberikan pada warga Australia yang berkontribusi besar dalam meningkatkan hubungan kedua negara. Ada tiga katagori penghargaan, yaitu seni, pendidikan dan media.  “Juri mengatakan saya jurnalis berprestasi, sudah berkomitmen untuk itu selama 10 tahun lebih dengan menampilkan liputan 3 kali pemilihan presiden, Lalu juga seputar HAM dan isu lingkungan. Selain itu menurut juri saya juga sudah berkontribusi untuk KBR dengan penyelenggaraan training jurnalis lokal KBR,” ujar Rebecca.

Jempol buat Mbak Rebecca!!!!

Lebih jauh soal Rebecca dan kandidatnya sebagai peraih Penghargaan Indonesia Australia bisa disimak dalam Jurnalis KBR Rebecca Henschke Calon Peraih AIA Award

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!