Gereja Tanpa Tanda

Ada kesenjangan ekonomi yang, sialnya, dibumbui perbedaan agama dan etnik.

Jumat, 14 Nov 2014 12:28 WIB

gereja tambora ditentang warga, warga protes gereja tambora

Reporter's Blog



Ketika meliput Gereja Katolik Tambora dua pekan lalu, jujur, saya sulit menemukannya.


Dari telusur internet, saya menemukan bahwa gereja ini ada di dalam kompleks Sekolah Damai. Saya memang menemukan sekolahnya, tapi saat saya memasuki pagar sekolah saya tak melihat gereja.


Saya mendekati satpam.


“Pak, ini betul gereja Tambora?”

“Betul.”

“Mana gerejanya?”

“Itu, iya yang itu,” ujarnya menunjuk bangunan lebar yang mirip ruang serbaguna.


Rupanya memang itulah “gerejanya”. Sepanjang temboknya banyak pengumuman soal kegiatan gereja: jadwal krisma, pengobatan gratis, pesan dari paus di Vatikan. Interiornya juga gereja tulen, ada deretan bangku, altar, dan patung Yesus. Tapi saya yakin, kalau pintu gereja ditutup, siapa pun yang melewati bangunan ini takkan ngeh itu gereja.


Dari wawancara dengan Pastor Giovanny, saya ketahui salib, lonceng, dan papan nama gereja sudah dicopot sejak diprotes warga. Lonceng itu dulu ada dekat pintu masuk, kini tinggal talinya saja.


“Bagian (dari) kompromi,” kata Giovanny.


Gereja ini sempat dapat protes besar dari warga pada 2007 dan 2013. Padahal bangunan ini sudah digunakan beribadah sejak 1968, tak pernah ada masalah. 


Saya mengonfirmasi ke dua orang di depan sekolah: seorang pedagang bubur dan pedagang es kelapa. Mereka berdua sepakat bahwa warga sekitar tidak pernah mempermasalahkan gereja itu.


“Biasa saja,” kata Azis, pedagang es kelapa.


Seperti yang diperkirakan Giovanny, “Ada bisik-bisik di warung kopi.”


Tapi situasi sekitar gereja memang menyiratkan potensi konflik. Ada kesenjangan ekonomi yang, sialnya, dibumbui perbedaan agama dan etnik. Ruko-ruko milik warga Tionghoa yang kebetulan beragama Kristen berjejer dengan warung-warung warga lainnya yang kebetulan Muslim. Mayoritas jemaat gereja memakai mobil, sementara sebagian warga sekitar lainnya memakai motor. 


Gereja sudah berusaha menjembatani itu. Mereka membuat Klinik Damai yang melayani masyarakat umum---bahkan posisi kliniknya di seberang masjid. Pengurus gereja juga rajin berkunjung ke ketua RT, ketua RW, serta ulama setempat. Selain itu, warga yang berdagang juga mendapat pelanggan dari sekolah dan gereja.


Pada akhirnya, masalahnya adalah yang disebut oknum. Mereka yang hobi membajak agama demi keuntungan pribadi yang kita tidak tahu apa. Mereka yang memaksa salib, lonceng, dan papan nama turun, sehingga gereja Tambora tidak memiliki tanda.



Baca dan dengarkan hasil liputan Rio Tuasikal di sini

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi