Ikut Naik Motor Modifikasi Milik Sri Lestari

Motor roda tiga yang disambung semacam gerobak untuk menaruh kursi roda Sri.

Minggu, 12 Okt 2014 15:05 WIB

Sri Lestari, sriklaten, motor modifikasi, difabel, disabilitas

“Baru ya dibonceng motor modifikasi?” tanya Sri Lestari kepada saya, saat kami melewati jalan raya Merak-Cilegon, Rabu (8/10) siang. 


Sri ngebut.


Saya jawab, “Ya. Dari dulu penasaran,” sambil naik ke atas motornya. 


Sri tancap gas lagi. Menyalip mobil lagi. Saya mulai berpeganan erat-erat. 


Saya beruntung bertemu Sri, disabel yang naik motor dari Aceh ke Jakarta. Saya menemuinya di Pelabuhan Merak, sebulan setelah dia start di Sabang. Dia berbaik hati membonceng saya ke Cilegon.


Dia mengendarai motor roda tiga. Badan motor disambungkan pada gerobak tempat dia naik dan mengemudi. Sementara saya duduk di badan motor tanpa stang. Saya sesekali berpegangan ke badan motor karena Sri gesit sekali menyalip mobil-mobil.


“Saya sudah biasa di lapangan,” katanya lalu tertawa. Sri sudah mengendarai motor modifikasi selama 5 tahun. 


Saya tak habis pikir melihat orang disabel naik motor melintasi Sumatera. Hobi ngebut pula.


Selama perjalanan ini, kata dia, tak pernah ada masalah atau perlakuan buruk pengguna jalan lainnya. “Malah mereka penasaran dengan motor saya,” katanya. 


Tapi tantangan terbesar dari perjalanan ini bukanlah menaklukkan jalanan, melainkan mencari hotel.


Di Cilegon, saya mendampingi Sri dan saudara-saudaranya mencari hotel yang ramah difabel (bagian ini bisa disimak di Saga edisi Senin 13 Oktober 2014). 


Perjalanannya ke Jakarta bukan jalan-jalan, kata Sri tegas. Di agendanya ada jadwal bertemu Wakil Gubernur Jakarta Basuki Tjahaya Purnama dan Menteri Partiwisata Marie Elka Pangestu. 


Kata Sri, perjalanan ini membuktikan kemandirian orang disabel, sekaligus menuntut fasilitas yang sama. 


“Saya kan bayar pajak juga seperti yang lainnya," katanya.


Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas

  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Kepala KSP Moeldoko Tepis Anggapan Miring

  • Izin Impor Beras Dialihkan, PT PPI Tak Keberatan
  • BNPB Siapkan Anggaran Rp 166 Miliar untuk Perbaiki Rumah Korban Banjir Bima
  • PS TNI Gagal Menang Melawan 10 Pemain Persebaya

Memberdayakan masyarakat bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya seperti apa yang dilakukan anak-anak muda asal Yogyakarta ini melalu platform digital yang mereka namai IWAK.