Heru

Ia terkadang menutup emailnya dengan menulis ringkasan namanya; HH. Dari kebiasaan ini, mulailah ia disapa dengan versi ringkas itu “Mas HH.” Heru Hendratmoko adalah salah satu awak paling awal bergabung bersama KBR, dan kini menempati posisi tertinggi di redaksi KBR dan Portalkbr.com. Ia adalah Pemimpin redaksi kedua media ini, sekaligus salah satu Board of Director dari PT Media Lintas Inti Nusantara.  Umur, bisa jadi salah satu faktor orang mudah lupa. Tapi Mas HH menyalahkan jumlah awak KBR yang kian bengkak sebagai sebab ia tak lagi hapal satu per satu reporter yang ia pimpim. Inilah perbincangan ringkas dengan penjaga gawang KBR dan PortalKBR.com agar Anda bisa mengenalnya. 


Pertama kali gabung bersama KBR, bagaimana ceritanya? 

Saya masuk tahun 2000, setahun setelah KBR berdiri. Sebelumnya saya bekerja sebagai wartawan di sebuah majalah milik sebuah grup media besar. Majalah itu hendak ditutup dan karyawan diberi kebebasan, mau dipindah ke media lain di bawah satu grup atau keluar. Saya memilih keluar dengan pesangon. Saat ini ada beberapa pilihan, bahkan ada yang menawari saya untuk jadi wapemred sebuah majalah. Saya belum memutuskan untuk bergabung atau tidak ketika saya bertemu Santoso, yang pada 1999, mendirikan sebuah kantor berita radio. "Gabung saja di sini, kita besarkan bersama," kata Santoso -- yang saya kenal awal 1990-an, dan lebih kenal lagi ketika kami sama-sama aktif di organisasi wartawan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang kami dirikan pada 7 Agustus 1994, bersama puluhan pendiri lainnya. Ya sudah, saya akhirnya bergabung di KBR. Santoso (Direktur Utama) dan saya, juga Teddy Wibisana (Direktur Keuangan) yang bergabung belakangan -- ternyata sama-sama berlatar belakang aktivis semasa mahasiswa. 


Dulu dari Majalah Jakarta Jakarta kan? Nah, background-nya cetak. Lalu ke radio. Apa yang mengejutkan? Apakah lebih menyenangkan di radio ketimbang cetak?

Ya memang. Saya masuk JJ awal 1990-an, ketika majalah ini masih menjadi majalah berita bergambar. Konsep yang dikembangkan adalah "jurnalisme dramatik" terutama melalui foto-foto yang berbicara. Deadline di majalah mingguan sangat berbeda dengan radio. Di majalah mingguan, 3-4 hari berturut-turut adalah pengejaran narasumber, riset, liputan lapangan. Pada saat deadline, sering tidur di kantor. Senang saja, kan masih muda. Nah irama kerja di radio berbeda sekali. Itungannya menit, detik. Apa yang disebut berita adalah apa yang terjadi saat ini. Ini menuntut kedisiplinan tinggi. Perbedaam lain, kalau di majalah berita kita bisa menulis panjang kali lebar, di radio lebih sederhana, karena sifatnya yang sekilas. Tapi baik cetak maupun radio, substansinya sama, menuntut kerja yang profesional. Karena ukuran-ukuran jurnalistiknya kan juga sama.   


Jujur mas HH, hapal satu-satu tidak nama reporternya? Atau ada yang kenal wajah saja?

Hahaha, jujur kadang saya lupa. Ini terutama kalau saya tak terlibat dalam proses rekrutmen, terutama saat wawancara. Karyawan di KBR ini makin banyak. Sekarang saja total sekitar 140-an. Ini termasuk divisi-visi lain ya. Khusus di Divisi Produksi, sejak awal, saya selalu usahakan ikut proses wawancara ini. Di samping ingin tahu isi kepala calon karyawan, ini juga membantu mengingat nama dan wajah. Ya jujur, kadang ada yang lupa namanya. Tapi tak banyak. Kalau sudah begini, biasanya saya tanya yang lebih senior, "Eh, siapa anak itu namanya?"  


Orang bilang sekarang zamannya online, apakah ini juga alasan bikin PortalKBR.com? 

Sebenarnya kita sudah sangat terlambat masuk ke media baru ini. Seingat saya, saya pernah mengusulkan ke rapat BOD untuk membuat website lebih dari 10 tahun lalu. Saya bahkan ditugasi untuk cari orang yang bisa membangun website. Tapi ketika proposal penawaran itu datang, kita semua kaget karena harganya sangat mahal. Ya waktu itu membuat media online memang masih mahal. Jadi akhirnya ide itu menguap. Kita konsentrasi ke radio saja. Tapi tuntutan untuk segera masuk ke media baru tak bisa ditunda lagi sekarang. KBR harus bisa bergerak maju, memasuki dunia baru. Pilihannya kan bertahan dengan apa yang ada sekarang dengan konsekuensi akan mati suatu saat nanti, atau mulai beranjak dan beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Perkembangan dunia IT yang begitu cepat harus ditanggapi dengan cepat pula. Konvergensi antara media tradisional (radio) dengan media online adalah jawabannya. PortalKBR.com yang lahir 2 tahun lalu adalah fondasi yang kita buat untuk memasuki dunia baru, dunia digital.


Apa sih nilai lebih PortalKBR.com?

Saya sih berharap PortalKBR bisa menjadi alternatif sumber informasi bagi publik yang lelah dengan serbuan "sampah informasi" yang bertebaran di internet. Kita ingin menghadirkan berita dan informasi yang bermutu, bukan sekadar cari sensasi. Makanya yang kita benahi lebih dulu adalah cara kerja jurnalistiknya. Kalau mau bikin berita sensasi yang berbau infotainment ya gampang sekali. Masalahnya, apa ya itu yang kita inginkan. Melalui PortalKBR ini, kita juga ingin menampilkan wajah Indonesia yang plural, yang beragam. Indonesia bukan hanya Jakarta, tapi juga Manokwari dan Singkawang. Republik ini harus bisa menjadi rumah bagi semua warganya, apa pun latar belakang primordialnya. Itu sebab kita tak pernah lelah untuk mempromosikan nilai-nilai toleransi dan demokrasi.


Dalam bahasa sederhana, bagaimana menjelaskan masing-masing hubungan dan posisi, KBR, Green, portalKBR.com, lalu TV Tempo?

KBR itu ya induk. Holding company. Dia adalah sebuah entitas kantor berita (dengan medium radio). Bukan sebuah stasiun radio. Orang sering salah kaprah di sini. Pernah dengar Antara, Reuters, AP, AFP? Nah kira-kira seperti itulah produk yang dihasilkan KBR. Hanya medium KBR adalah radio. Yang menyiarkan ya radio-radio yang menjadi jaringan KBR. 


Kalau Green Radio? Nah ini baru sebuah stasiun radio. Berbeda dengan KBR yang bisa tanpa batas, Green Radio hanya beroperasi di Jakarta dan sekitarnya dengan konten yang berkaitan dengan lingkungan, green life style, green movement, dll. Green Radio adalah anak perusahaan dari PT yang mengelola KBR. 


Sedangkan TV Tempo, adalah unit usaha yang sahamnya dimiliki secara berimbang antara KBR dengan grup Tempo. Sesuai namanya, TV Tempo memproduksi laporan-laporan jurnalistik yang produknya disiarkan di berbagai platform, melalui TV berbayar dan TV lokal. Sebagian produknya bisa dilihat di PortalKBR maupun situs milik Tempo. TV Tempo saya dengar baru saja mendapat ijin prinsip untuk mengelola TV digital. Jadi ke depan, sangat mungkin TV Tempo akan menjadi sebuah stasiun TV tersendiri.


PortalKBR adalah bungsu dari seluruh anak perusahaan KBR yang menggunakan platform digital.


Apa sih, hal yang mungkin tidak diketahui banyak awak KBR soal mas HH?

Lha apa dong? Saya kan bukan orang yang misterius haha.. 


Suatu saat akan meninggalkan KBR, adakah sesuatu yang akan bikin mas HH menangis? Kenangan yang paling sulit dilupakan?

Mungkin saya akan nangis kalau saya ditangisi haha. Nggak, saya bangga berada dalam lingkungan KBR. Bekerja bersama teman-teman yang tahu betul bagaimana mengelola media yang independen, media yang memiliki fungsi utama melayani publik dengan informasi yang bermutu, media yang paham betul pentingnya kebebasan di dalam sistem demokrasi. Ini concern utama kita bersama. 


Banyak kenangan manis, tentu saja. Tidur di tenda di bawah tower radio di Hambalang yang ternyata pusat petir, kemping di hutan bersama-sama. Atau bikin program khusus di mana saya diijinkan untuk ikut siaran, meski suara saya sangat medok Jawa Timur hahaha.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!