LGBT & Fenomena Bunuh Diri

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 800 ribu kematian di dunia setiap tahun disebabkan bunuh diri. Para Lesbian Gay Bisexual dan Transgender (LGBT) menjadi salah satu kelompok yang berpotensi melakukan bunuh diri. Faktor psikis dan stigma masyarakat jadi pemicunya.  Bagaimana di Indonesia. Jurnalis KBR Ninik Yuniati menemui Merlyn Sopjan, seorang transgender. 


‘“Aku kemudian ambil gelas, aku ambil Baygon semprot. Aku semprotin, udah kan, pokoknya hari itu aku nekad.  Aku sih waktu itu pokoknya pengen minum aja” kenang Merlyn Sopjan saat ingin mengakhiri hidupnya 25 tahun silam. 


Dengan nada sinis, Merlin menduga bila waria bunuh diri diperbolehkan di Indonesia karena tingginya diskriminasi pada mereka. “Waria itu mungkin kalau bunuh diri di Indonesia dibolehkan, mungkin banyak yang sudah bunuh diri, ketika mereka sadar mereka waria. Karena mereka tahu, ke depan ini ketika mereka keluar dari rumah, hidup yang mereka jalani hari ini, luar biasa keras dan berat. Hari itu (tahun 90an) belum diangkat menjadi bagian. Bahkan di LGBT pun belum ada, dibedakan, yang dirangkul masih gay sama lesbian, waria aja belum. Kita bisa ngebayangin, sebegitu diskriminatifnya,” kata Merlyn.


Simak fenomena bunuh diri LGBT melalui rubrik SAGA  Rabu (1/10) – Kamis (2/10) di Sarapan Pagi KBR, mulai pukul 06.00-06.30 WIB atau baca melalui http://portalkbr.com/berita/saga

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!