Magang UI


Selama lebih kurang dua bulan menjadi pengejar tenggat, saya telah menghasilkan sekitar 30 laporan untuk KBR baik dalam bentuk foto, tulisan, maupun audio. Dari semua laporan tersebut, ada satu laporan yang berkesan ketika saya meliput Deklarasi Koalisi Merah Putih di Tugu Proklamasi pada 14 Juli 2014. 


Pada kala itu, Prabowo Subianto (Selaku calon presiden dan pembina koalisi) melakukan jumpa pers mengenai deklarasi tersebut. Mulanya sejumlah media asing bertanya mengenai koalisi Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014 ini. Hingga pada akhirnya giliran jurnalis Jakarta Post yang mendapatkan kesempatan bertanya kepada Prabowo.

 

Jurnalis itu kemudian memperkenalkan diri bahwa ia berasal dari Jakarta Post. Setelah itu, ia bertanya kepada Prabowo apakah hal yang membuat koalisi memutuskan sikap untuk mendukung Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014. 


Mendapat pertanyaan dari wartawan tersebut, Prabowo memilih untuk tidak memberikan jawaban dan malah berkata bahwa pemilik media tersebut berengsek. Mendengar pernyataan tersebut saya terkaget, saya tak menyangka Prabowo akan menyatakan hal demikan di depan orang banyak, para jurnalis pula. Namun ketika saya bertanya kepada jurnalis lain di sebelah saya, ia berkata memang begitu perangai Prabowo.


Pengalaman diatas bukan merupakan sebuah pandangan atau pernyataan politik, melainkan hanya pengalaman yang saya alami sendiri di lapangan. 


Saya menjadi sadar bahwa menjadi jurnalis tidak semudah yang dibayangkan; bisa saja seorang jurnalis ditolak narasumber, dihardik, bahkan diancam nyawanya. Sebuah perjuangan yang tidak mudah. 


Saya juga jadi lebih menghargai setiap berita yang saya baca, dengar, atau lihat. Sebab saya tahu berita tersebut berasal dari sebuah proses pikir yang panjang dan melibatkan banyak orang.




Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!