Magang Mahasiswa UI: Menyambut Tukang Becak yang ke Jakarta demi Jokowi

Saya belum pernah ke Kalimalang sebelumnya, seorang diri pula.

Jumat, 22 Agus 2014 23:21 WIB

Magang UI

AUDIO

Satu pengalaman paling berharga bagi saya saat magang di Kantor Berita Radio adalah keliling Jakarta. Tidak pernah terpikir bahwa saya dapat keliling daerah Jakarta dengan Busway, Kopaja, sampai Mikrolet seorang diri. Tapi hal ini ternyata tidak bisa dihindari ketika saya melakukan liputan untuk KBR. Salah satu yang paling berkesan adalah pengalaman saya ketika harus meliput kedatangan Harry Van Yogya.


Harry Van Yogya adalah seorang tukang becak yang mendukung calon presiden Joko Widodo. Ia menyatakan dukungannya dengan mengayuh becaknya dari Yogya sampai Jakarta. Saat itu, tepatnya hari Rabu tanggal 25 Mei, saya diberi tugas untuk meliput kedatangan Harry di perbatasan DKI Jakarta dengan Bekasi tepatnya di Kalimalang. Ini adalah daerah yang sama sekali belum pernah saya kunjungi. Berangkatlah saya dengan berbekal informasi ala kadarnya dari teman terkait transportasi ke Kalimalang.


Sampai di Kalimalang, saya bingung dimana saya harus menunggu karena Harry sama sekali tidak memberikan informasi dimana ia akan berhenti. Akhirnya saya memutuskan menunggu di pinggir jalan dekat tugu perbatasan. Beberapa menit kemudian muncul iring-iringan dua becak dan beberapa motor. Setelah mengenali wajah Harry saya pun berlari mengejar iring-iringan tersebut. Inilah sulitnya meliput tanpa kendaraan pribadi. Untungnya, iring-iringan tersebut berhenti dan saya dapat mewawancarai Harry.


Setelah itu, saya melanjutkan ke acara berikutnya, penyambutan Harry di jalan Kayu Putih Raya. Hanya dengan berbekal alamat itu akhirnya saya bertanya kepada sopir mikrolet. Selama satu jam perjalanan saya akhirnya diturunkan di lokasi yang katanya adalah jalan Kayu Putih Raya. Namun, ternyata ini bukan jalan Kayu Putih Raya yang dimaksud. Akhirnya saya memutuskan berjalan dan dan mencari pos Satpam. Setelah menemukan pos Satpam saya dipersilakan duduk dan mengobrol dengan Satpam. Kemudian saya menanyakan alamat yang saya maksud.


Untungnya, dengan sukarela Satpam tersebut mau mengantarkan saya ke alamat tersebut yang lokasinya ternyata agak jauh dari tempat saya diturunkan. Hari itu saya menyadari bahwa menjadi wartawan memang pekerjaan berat. Siapapun harus kuat mental dan fisik untuk bisa bertahan di dalamnya. Jadi wartawan bukan hanya harus pintar menulis berita saja karena pelajaran terpenting justru terletak pada proses pengumpulan informasinya. Dari tugas ini saya belajar bahwa kesigapan dan kemampuan berinteraksi menjadi senjata utama seorang wartawan. 


Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ikhtiar Membentengi Anak-anak Muda Dari Radikalisme

  • Kepala Korps Brimob soal Penganiayaan Anggota Brimob Terhadap Wartawan LKBN Antara
  • Wakil Ketua KPK Laode M Syarief Soal Sikap KPK Terhadap Pansus Angket KPK Di DPR
  • Mendikbud Muhajir Effendy Soal Penerapan Sekolah Lima Hari Sepekan
  • Jadi Kepala UKP Pembinaan Pancasila, Yudi Latif Jelaskan Perbedaan dengan BP7
  • Siti Nurbaya: Lestarikan Lingkungan Perlu Kejujuran

Pecah Antrian, PT ASDP Merak Pisahkan Kendaraan Pemudik Dengan Kendaraan Niaga

  • Desa Sambirejo Timur Tolak Jenazah Pelaku Teror di Mapolda Sumatera Utara
  • Pengamat: Eks ISIS Harus Direhabilitasi Sebelum Kembali ke Masyarakat
  • Lima Hari Bertugas, Dokter Anestesi Ditemukan Meninggal Dunia

Mudik seakan menjadi rutinitas tahunan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bagaimana kesiapan fasilitas sarana dan prasarana mudik tahun ini? Apakah sudah siap pakai untuk perjalanan pemudik?