Magang UI

Sebanyak 12 mahasiswa dari Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UI melakukan tugas magang di KBR dan PortalKBR selama dua bulan, mulai Juni-Agustus 2014. Selama magang mereka diterjunkan langsung ke lapangan untuk meliput dan mengabarkan informasi kepada Anda semua. Ini dia pengalaman mereka saat magang di Utan Kayu. 


Selama magang di KBR, pengalaman yang paling mengesankan ada pada hari yang menentukan bagi banyak orang yaitu hari pengumuman SBMPTN 2014. Hari itu memberikan saya hal baru mengenai dunia jurnalisme yang sebelumnya belum pernah saya alami.


Pada hari pengumuman SBMPTN yaitu tanggal 16 Juli lalu, saya ditugaskan ke Hotel Sari Pan Pacific untuk meliput konferensi pers dari panitia penyelenggara pemilu. Dalam konferensi pers diberitahu mengenai proses SBMPTN seperti berapa banyak peserta, kecurangan yang terjadi, bidik misi dan lain-lain.


Tapi yang menjadi berkesan bukan lah informasi tersebut melainkan hal yang terjadi setelah konferensi pers itu selesai.


Selesai konferensi pers saya diberikan kotak makanan, saat ingin keluar saya melihat sebuah barisan. Saya sebagai anak magang ikut mengantri tanpa mengetahui itu antrian apa. Saat sudah hampir mencapai giliran saya, saya melihat dua orang di depan saya menulis sesuatu di kertas. Setelah selesai mereka mendapatkan sebuah amplop.


Saya yang sebelumnya belajar mengenai jurnalisme oleh dosen-dosen idealis tahu mengenai pemberian amplop kepada jurnalis. Saya masih berpikir bahwa tidak mungkin ada jurnalis yang akan menerima amplop karena hal itu dilarang. Tapi pada hari itu mata saya dibukakan bahwa tidak semua jurnalis idealis seperti dosen saya.


Bukti bahwa amplop itu berisi uang semakin kuat saat saya melihat jurnalis di depan saya menuliskan sesuatu di kertas kuitansi. Mengetahui hal tersebut saya langsung keluar barisan tanpa berpikir dua kali. Saya tidak mengetahui apakah panitia SBMPTN memberikan amplop secara paksa atau tidak. Tapi sepertinya mereka memberitahu kepada jurnalis bahwa ada pemberian amplop dan siapa pun yang ingin amplop harus mengantri dan mengisi kuitansi.


Saya masih mengingat ekspresi wajah jurnalis yang menerima amplop. Tidak bahagia tapi juga tidak sedih. Mungkin mereka sebenarnya tidak mau menerima amplop namun karena suatu hal mereka menerima amplop tersebut.


Saat keluar, saya bertemu dengan Mas Guruh, salah seorang reporter KBR yang kebetulan sedang meliput acara yang lain di ruangan sebelah. Saya memberi tahukan mengenai antrian tersebut. mas Guruh bilang itu memang pemberian amplop dan sebagai jurnalis kita tidak boleh menerima apa pun alasannya.


Di hari tersebut saya belajar bahwa menjadi jurnalis sangatlah susah karena dia harus menahan hawa nafsu dirinya untuk menerima amplop. Mungkin bisa dikatakan seorang jurnalis akan selalu berpuasa saat dia meliput dan bekerja sebagai jurnalis.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!