jurnalis lingkungan, aqua, danone

Jurnalis yang meliput soal lingkungan pasti paham kalau persoalan lingkungan pastilah lekat dengan urusan-urusan lain, seperti politik, ekonomi, kesehatan, juga internasional. Karena itu jurnalis lingkungan mesti paham betul kode etik dan rambu-rambu yang harus dihadapi ketika meliput persoalan ini. 


Kini telah hadir buku “34 Prinsip Etis Jurnalisme Lingkungan” hasil kerjasama AQUA group dengan Kompas Gramedia Group. Buku ini disusun oleh bekas Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers Agus Sudibyo. Buku ini berisi buah pikiran tokoh yang peduli lingkungan seperti bekas Menteri Permukiman dan Pengembangan Wilayah era Presiden Abdurrahman Wahid Erna Witoelar, pegiat sosial media Enda Nasution, serta fotografer Oscar Motuloh. 


“Panduan Jurnalisme Lingkungan ini ditujukan bagi para wartawan, kalangan akademisi dan mahasiswa serta para blogger,” kata Corporate Communication Director di Danone Aqua, Troy Pantouw. Buku ini berisi kode etik dan rambu-rambu dalam konteks jurnalisme yang harus diperhatikan dalam meliput permasalahan lingkungan. 


Erna Witoelar mengingatkan kalau persoalan lingkungan harus diberitakan terus menerus. “Perlu kepekaan, pembelajaran khusus dan keahlian tertentu sehingga berita muncul secara profesional,” jelasnya. 


Sementara itu fotografer Oscar Motulloh menyebutkan kalau kode etik perlu dirumuskan secara lebih tertata. “Kalau dirumuskan dengan lebih tertata, jurnalis bisa mengacu pada aturan yang komprehensif. Bukanaturan yang tidka jelas, bahkan sering bersifat seperti karet,” jelasnya. Oscar memberi contoh ketika jurnalis foto berhadapan dengan peristiwa luar biasa. “Seringkali pertimbangan etika jurnalistik memaksa jurnalis justru memutuskan untuk menunda atau tidak memberitakan suatu peristiwa.”




Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!