Buku Menulis untuk Telinga, Mervin Block, penerbit KBR68H dan MDLF, penyunting Bambang Bujono, jurnalisme penyiaran

Berikut tujuh hal yang harus dihindarkan dari pengantar.


1. Jangan memasukkan dalam pengantar kata-kata kunci yang ada dalam berita yang akan disiarkan. Pengantar semacam ini merugikan beritanya. Begitu mendengarkan beritanya, pendengar merasa bahwa ia pernah mendengarkan hal serupa sebelumnya. Ini bila kata-kata kunci di pengantar dan dalam beritanya cukup jauh jaraknya. Bila jarak itu dekat, kesan bahwa pengantar hanya mengopi beritanya atau berita sekadar mengulang pengantar tak bisa dielakkan. Misalnya pengantar untuk berita tentang serbuk antraks yang diterima Kedutaan Besar Indonesia di Canberra. “Pemerintah, melalui Juru Bicara Departemen Luar Negeri, Marty Natalegawa, meminta warga negara Indonesia yang berada dan akan bepergian ke Australia lebih waspada. Menurut Marty pula, Pemerintah RI belum berencana mengeluarkan larangan berkunjung atau travel warning ke Australia,” demikian pengantar itu. Bila sesudah itu langsung terdengar suara Marty Natalegawa bahwa ia meminta warga negara Indonesia di Australia dan yang akan mengunjungi benua itu “untuk lebih waspada, meski pemerintah Indonesia belum mempertimbangkan mengeluarkan travel warning,” pendengar akan menilai pengantar sekadar menirukan isi berita.


2. Jangan mengambil hal yang eksklusif atau mengejutkan dari berita untuk pengantar. Berita tentang dugaan korupsi di Komisi Pemilihan Umum Daerah Jakarta berpengantar seperti ini: “Ketua Komisi Pemilihan Umum Daerah KPUD Jakarta M. Taufik memaksa anggota tim pengadaan barang KPU Jakarta untuk menandatangani dokumen-dokumen pengadaan logistk pemilu 2004. Jika surat kontrak kerja antara KPU Jakarta dengan perusahaan rekanan tersebut tidak ditandatangani, dia diancam akan dipecat ...” Lantas diperdengarkan rekaman keterangan Muhamad Amin, seorang anggota tim pengadaan barang, bahwa ia dipaksa manandatangani dokumen pengadaan logistik. Jika ia tak mau, ia akan dipecat.


Berita ini kehilangan hal yang eksklusif atau mengejutkan —ketua KPUD yang memaksa anggotanya— karena hal itu sudah diceritakan di pengantar. Sebaiknya pengantar memilih yang lain, misalnya memberikan konteks berita, menceritakan tentang terbongkarnya korupsi di beberapa KPU, termasuk di KPUD Jakarta dan pusat. Lalu tutuplah pengantar dengan kalimat: “Kenapa korupsi di KPUD DKI Jakarta bisa terjadi? Dengarlah keterangan Muhamad Amin, anggota tim pengadaan barang KPUD Jakarta.” Pengantar ini menjadikan keterangan Muhamad Amin eksklusif, setidaknya mengejutkan.


3. Jangan menulis pengantar untuk berita keras seperti pengantar untuk features dan sebaliknya. Ini akan membuat pendengar merasa ditipu. Buku Writing Broadcast News—Shorter, Sharper, Stronger mengibaratkan pengantar sebuah etalase toko. Bila dandanan etalase toko berlian dipakai utuk etalase toko sepatu, misalnya, etalase ini tak berfungsi sebagaimana mestinya. Mereka yang ingin membeli sepatu tak masuk ke toko ini, mereka yang berniat melihat-lihat berlian akan kecewa, mungkin tertawa, atau marah kemungkinan besar mereka tak akan kembali ke toko itu biarpun ketika hendak membeli sepatu.


4. Jangan menulis pengantar yang isi informasinya bertentangan dengan beritanya. Suatu hari terdengar pengantar berita dari sebuah stasiun radio tentang bom yang meledak di kediaman seorang ustaz. Pengantar itu mengutip kesaksian seorang tetangga bahwa sebelum terdengar ledakan ia melihat dua orang lelaki tak dikenal membawa senjata AK-47 berjalan bolak-balik di depan rumah ustaz itu. Hal yang sama diceritakan dalam beritanya, hanya saja dalam berita disebutkan bahwa dua lelaki itu membawa senapan angin, seperti hendak menembak burung. Rasanya ini hanya kesalahan kecil, namun seringkali yang kecil ini kalau terlalu sering akan menurunkan kepercayaan

pendengar.


5. Jangan melebih-lebihkan berita. Ini sudah disinggung pada pengantar tulisan tentang pengantar ini. Mungkin, dengan cara yang “lebih indah dari warna aslinya” kita berhasil merebut banyak pendengar. Tapi ini juga berarti akan banyak yang kecewa. Bagaimanapun pengantar adalah bagian dari jurnalistik dan karena itu penulis pengantar harus mengindahkan kaidah jurnalistik yang baik, bukan lalu jadi tukang obat pinggir jalan.


6. Jangan membuat pengantar yang meragukan. Biasanya hal ini terjadi karena dua hal. Pertama, beritanya memang amburadul, tak jelas arahnya. Kedua, penulis pengantar tak sempat membaca dengan baik beritanya. Dalam hal seperti itu, penulis pengantar yang hati-hati akan menulis pengantar seperti menulis ramalan bintang: apa pun yang terjadi ramalan itu cocok. Soalnya kalimat demi kalimat tak menunjuk pada satu hal yang spesifik. Risikonya, pengantar jadi datar, tidak menarik.


Cara lain yang aman dan lebih baik daripada ramalan bintang meski tetap kurang bermutu adalah sedikit mengembangkan kalimat pertama dari beritanya. Sebuah naskah berita sampai di penulis pengantar dan satu setengah menit lagi harus disiarkan. Dari sekilas membaca penulis itu tahu bahwa beritanya tentang penaikan cukai rokok, namun isi berita itu sendiri tak tertangkap olehnya. Kalimat pertama berita itu tentang ketidaksetujuan seorang gubernur, dengan alasan kenaikan cukai mendorong orang membuat cukai palsu. Inilah pengantar yang

lebih baik dari ramalan bintang itu: “Rencana penaikan cukai rokok sekitar 15% segera ditentang oleh gubernur Jawa Timur. Menurut gubernur, penaikan cukai mendorong pembuatan cukai palsu, dan tujuan pemerintah meningkatkan pendapatan dari cukai tak akan seperti diharapkan.”


7. Jangan mengakhiri pengantar dengan informasi yang tidak sesuai dengan awal berita. Mungkin ini jarang terjadi, namun perlu dicatat. Salah satu kebiasaan penulis pengantar, menutup pengantar dengan informasi bahwa liputan beritanya dikerjakan oleh reporter A. Bila kemudian yang terdengar adalah suara sumber berita yang diwawancarai A, pendengar akan bertanya-tanya, sejak kapan seorang reporter boleh menyampaikan pendapatnya secara langsung dalam beritanya.


V. Tentang Gaya Penulisan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!