Buku Menulis untuk Telinga, Mervin Block, penerbit KBR68H dan MDLF, penyunting Bambang Bujono, jurnalisme penyiaran

VI. Sejumlah Contoh dan Lain-lain


LEBIH ringkas, lebih tajam, lebih jelas. Tiga pedoman untuk berita radio tersebut memang pas. Namun masih sering terdengar bahasa berita radio kita tidak ringkas, tidak tajam, dan tidak jelas. Penggunaan kata sedemikian rupa sehingga kata itu tak berfungsi, bahkan kata itu menjadikan makna kalimat tidak masuk akal, sedikitnya membuka peluang kalimat tersebut disalahpahami maksudnya.


Berikut beberapa contoh bahasa berita radio kita.


- Dana bantuan berhasil dikumpulkan oleh LSM-LSM untuk korban tsunami.


Pemakaian berhasil yang tak pada tempatnya seperti pada kalimat tentang dana bantuan itu seperti sudah dianggap lazim. Padahal berhasil mengandung makna ada upaya; jadi yang berhasil adalah mereka yang melakukan sesuatu. Lalu apa yang dilakukan “dana bantuan” dalam kalimat tersebut? Yang dimaksudkan tentulah “LSM-LSM berhasil mengumpulkan dana bantuan untuk korban tsunami.” Yang berusaha mengumpulkan dalam hal ini LSM, bukan dana.


Pemakaian berhasil paling populer dalam berita-berita kriminalitas. Pencuri itu berhasil ditangkap polisi.” Kita rupanya sudah sepakat bahwa para pencuri memang merencanakan untuk ditangkap polisi.


- Terdakwa dijatuhi hukuman denda sebanyak Rp 500 juta.

- Ia mendapat hadiah sayembara menulis cerita pendek senilai Rp 25 juta.


Kata sebanyak tak menambah apa pun, hanya menambah panjang kalimat. Sedangkan senilai bisa digunakan bila hadiah tersebut bukan berupa rupiah. Misalnya hadiah itu diberikan dalam dolar, dan nilai dolar itu sama dengan Rp 25 juta. Atau, hadiah itu berupa buku, jaket, komputer, yang seluruhnya bernilai Rp 25 juta. Tapi, “Atlet itu meloncat setinggi 5 meter,”kata setinggi memang berfungsi: menunjukkan jenis olah raganya, loncat tinggi. Juga, “Atlet itu meloncat sejauh 3,5 meter,” menunjukkan jenis olah raga loncat jauh.


Yang juga menambah panjang kalimat adalah kalimat “Tepat pukul tujuh malam ini presiden secara resmi membuka Pekan Raya Jakarta.” Mengapa tidak “Pukul tujuh malam ini presiden meresmikan Pekan Raya Jakarta.”


Kata sambung tapi dan namun dipakai untuk mempertentangkan sesuatu. Dari radio, sering terdengar kalimat dengan tapi atau namun tanpa pertentangan, membuat kalimat tak jelas maksudnya.


Kedutaan Besar Indonesia di Canberra, Australia, akan beroperasi kembali Jumat Sore. Namun, sampai siang ini para staf kedutaan tetap diminta bekerja di Wisma Indonesia.


Kata namun di situ mempertentangkan (dalam arti mempersoalkan), jangan-jangan rencana Jumat sore tak terlaksana karena sampai siang ini karyawan masih bekerja di Wisma Indonesia. Ternyata berita tersebut sekadar memberitakan bahwa para karyawan sementara itu masih bekerja di tempat lain; tak ada masalah dengan rencana Jumat sore. Bila begitu, namun dihilangkan saja, dan lebih tepat dipakai kata masih daripada tetap: “Sampai siang ini para staf kedutaan masih diminta bekerja di Wisma Indonesia.”


Tim Pencari Fakta Kasus Pembunuhan Munir meminta Polisi meninjau ulang status tersangka bagi dua awak Garuda, Oedi Irianto dan Yeti Susmiarti.


Siapakah tersangka dalam kalimat itu? Jawab pendengar, “bagi dua awak Garuda.” Tapi sebentar, ada dua nama menyusul. Oh, jadi kata dua itu sebenarnya menerangkan jumlah tersangka. Jumlah tersangka ini menjadi kurang jelas gara-gara kata depan bagi, yang bukan saja tak berfungsi dalam kalimat tersebut, melainkan juga menciptakan tersangka baru. Bila kita kurang hati-hati memakai kata depan ini, kalimat berpeluang disalahartikan. Di musim flu burung dan sejumlah unggas di Kebon Binatang Ragunan telah dihinggapi virus itu, bisa saja terdengar berita ini “Bagi mereka yang belakangan ini berkunjung ke Ragunan, dianjurkan segera memeriksakan diri ke dokter.” Pendengar yang mengatakan bahwa ada pengunjung Ragunan bernama Bagi Mereka dan orang ini dianjurkan ke dokter, pendengar itu tidak salah.


Dugaan korupsi dana pemilu bukan saja terjadi di Komisi Pemilihan Umum Pusat. Sejumlah KPU daerah juga mengalami hal yang sama.


Hubungan dua kalimat tersebut membingungkan. Apa yang dialami oleh KPU Daerah, dan siapa yang mengalami hal yang sama dengan KPU Daerah? Tidak jelas. Pada kalimat pertama KPU Pusat adalah keterangan tempat— komisi itu menjadi tempat dugaan korupsi. Di kalimat kedua, KPU Daerah adalah subyek. Dalam hal ini kedua KPU itu tak bisa disejajarkan. Kalau hendak disejajarkan, KPU Daerah juga harus ditambah kata depan di, agar menjadi keterangan tempat: “Di sejumlah KPU Daerah juga terjadi hal yang sama.”


Dua kalimat itu bisa diringkas menjadi satu kalimat: Dugaan korupsi dana pemilu di KPU Pusat juga terjadi di KPU Daerah.


Kepolisian Indonesia kembali menangkap seorang tersangka yang diduga sebagai pelaku utama peledakan bom di Pasar Sentra.


Untuk menunjukkan bahwa peristiwa yang berlangsung sudah pernah terjadi tapi tak serupa, para penulis menggunakan kata kembali. Ini berbahaya. Seperti kalimat contoh itu, tidak keliru bila pendengar memahaminya sebagai penangkapan kembali orang yang sama mungkin ia berhasil melarikan diri di penangkapan sebelumnya. Yang lebih penting, kalimat itu menjadikan beritanya tidak baru, mengisyaratkan peristiwa yang sama terulang meski pelaku berbeda. Silakan mengambil angle lain.


Perusahaan Listrik Negara PLN tadi malam menunda pemadaman listrik se-Jawa dan Bali, secara bergilir.


Menurut kalimat itu, yang secara bergilir dilakukan PLN adalah menunda pemadaman. Jadi, tadi malam PLN menunda pemadaman listrik di Surabaya dan Yogyakarta, kemudian baru di Denpasar dan Buleleng, misalnya. Padahal yang ditunda adalah pemadaman bergilir, istilah yang mengacu pada cara PLN menghemat listrik. Jadi, malam itu tidak ada pemadaman sama sekali, lalu bagaimana bisa digilir? Hilangkan saja secara bergilir itu. Atau, sambungkan langsung pemadaman dan bergilir: Perusahaan Listrik Negara, PLN tadi malam menunda pemadaman bergilir listrik di se-Jawa dan Bali.


Hari ini, Soeharto, bekas presiden Indonesia, berulang tahun ke-84. Ulang tahun, bagi sebagian orang, selain bersyukur juga menghitung sisa hari di bumi.


Makhluk apa gerangan ulang tahun itu hingga ia bisa bersyukur dan menghitung sisa hari? Kecerobohan seperti ini tak perlu terjadi bila penulis menyempatkan membaca ulang tulisannya, atau penyunting benar-benar membaca naskahnya. Apa susahnya menyisipkan kata depan hingga kalimat menjadi seperti ini: “Ulang tahun, bagi sebagian orang, selain untuk bersyukur juga untuk menghitung sisa hari di Bumi.”


Kejaksaan baru memperoleh lima nama cukong pembalakan liar kayu hutan Papua dari 20 nama yang diberikan Menteri Kehutanan. Yang lainnya, tidak berhasil ditemukan. Seluruhnya ada 32 nama cukong yang membekingi perusakan hutan di bagian kepala burung provinsi itu.


Naskah berita bukanlah karangan ilmiah. Data dan fakta dalam berita penting dicantumkan sejauh itu mendukung pernyataan atau analisis. Bila angka-angka diperlukan, haruslah dimasukkan sedemikian rupa hingga tak membingungkan pendengar. Contoh berita tentang jumlah cukong pembalakan itu membingungkan pendengar. Berapa sebenarnya jumlah mereka, 20 atau 32 orang. Apa yang terjadi dengan laporan

menteri kehutanan ke kejaksaan, hingga yang diberikan 20 nama, yang diperoleh kejaksaan baru lima. Ini satu contoh lagi bahwa membaca ulang tulisan itu penting dan bermanfaat, bagi penulis dan bagi pendengar. Atau, menulis ulang tulisan yang sudah disiarkan, seperti sudah beberapa kali disinggung di bab-bab sebelumnya, merupakan cara meningkatkan keterampilan menulis. Menuliskan angka-angka yang bicara dan masuk akal tak kalah pentingnya dengan memilih kata-kata untuk membuat kalimat yang masuk akal.


Seorang penderita flu burung meninggal karena terhinggapi virus flu burung yang diduga diperolehnya ketika ia membesuk keluarganya yang dirawat di rumah sakit khusus untuk flu burung hari ini.


Pendengar akan bertanya-tanya, kalau ia membesuk keluarganya hari ini, lalu kapan meninggalnya? Jadi? Bagilah kalimat panjang itu menjadi dua atau tiga kalimat pendek, kata diperolehnya dihilangkan karena sudah ada terhinggapi. Dan menambahkan keterangan waktu akan lebih menjelaskan.


“Seorang penderita flu burung meninggal hari ini. Ia diduga terhinggapi virus flu burung ketika membesuk keluarganya yang dirawat di rumah sakit khusus untuk flu burung beberapa hari sebelumnya.”


Alhasil berbahasa yang baik adalah awal dari menulis berita yang baik. Setiap berita, walau serupa, kalau tak baru seluruhnya,

sedikit-banyak mengandung hal yang tidak ada dalam berita-berita sebelumnya. Inilah alasan kenapa jurnalis dianjurkan belajar setiap saat sepanjang masih menulis. Pada usia 70 tahun seorang penulis Prancis mengatakan — dikutip dalam Writing Broadcast News Shorter, Sharper, Stronger— “Setiap hari saya belajar menulis.”


Menulis yang baik tak bisa diajarkan, tapi bisa dipelajari. Tak seorang pun bisa membuat Anda menjadi penulis berita yang baik, tapi hampir semua penulis mengaku belajar dari tulisan penulis lain, belajar dari kritik.


Dan catatlah ini: Anda tidak belajar dari sebuah keberhasilan, tapi kegagalan. Kesalahan bukanlah hal yang memalukan; bila Anda tak belajar dari kesalahan yang Anda buat, barulah Anda harus merasa malu. 


VII.Tancap Gas Dari Awal

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!