Oxfam menggelar diskusi dalam rangka Speak Up for The Climate Change di Kemang, (29 /5/2015). Foto:

Oxfam menggelar diskusi dalam rangka Speak Up for The Climate Change di Kemang, (29 /5/2015). Foto: Irwan Firdaus/OXFAM

Mampukah Masyarakat Marjinal Survive Hadapi Perubahan Iklim?

KBR, Jakarta - Perubahan iklim tengah terjadi. Fakta ini sulit ditolak lantaran dampak empirisnya nyata di mana-mana. Sudah banyak studi dilansir yang menyatakan mayoritas bencana alam disebabkan perubahan iklim. Gelombang hawa panas di India, misalnya, telah memakan korban lebih dari 2 ribu jiwa. Demikian pula, topan dahsyat Haiyan di Filipina setahun yang lalu, korbannya menembus angka 6300 orang dan jutaan orang lainnya kehilangan tempat tinggal.

Namun, meski perubahan iklim dan bencana dianggap universal, dampak paling pedih mayoritas dirasakan oleh masyarakat miskin dan marjinal. Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, kelompok berpenghasilan rendah jauh lebih rentan, lantaran tidak mampu mengakses opsi-opsi alternatif.

"Kelompok yang rentan ini akan lebih terbatas lagi pilihannya. Sebagai contoh, salah satu dampak perubahan iklim adalah air bersih akan semakin berkurang di sejumlah tempat. Mungkn bagi orang yang punya kemampuan ekonomi yang lebih baik, dia mampu untuk membeli air bersih yang sudah dikomersialisasi untuk minum, tapi kalau buat orang yang miskin, akan sangat susah untuk bisa mengakses harga yang semakin mahal," kata Fabby Tumiwa pada Diskusi Oxfam, di Ecobar, Kemang, Jumat (29/5/2015).

Kisah Adaptasi Bencana Di Flores Timur

Tentu saja masyarakat tidak tinggal diam ketika dikepung bencana. Hal ini memicu daya survivalitas masyarakat untuk melakukan adaptasi. Jika ditelisik, banyak komunitas lokal yang memiliki daya adaptasi yang baik. Deputi Direktur LSM Pikul Torry Kuswardono melakukan studi terhadap dua komunitas di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur yang melakukan upaya adaptasi terhadap bencana hidrometeorologi.

Komunitas pertama, yakni Dusun Wello, Desa Painapang, Kecamatan Lewo Lema, Kabupaten Flores Timur. Masyarakat di dusun ini telah hidup bersama banjir sejak tahun 1982. Setiap tahun volume air bah semakin meningkat lantaran menumpuknya sedimentasi di Sungai Lung Bele.

"Dulu cuma tergenang sebentar, kadang-kadang banjir bandang. Sebagian wilayah dusun tergenang hingga tiga hari atau lebih, dan utamanya di permukiman dan perkebunan kelapa mereka. Itu membuat setiap tahun selalu mengalami kemiskinan mendadak," kata Torry.

Kemudian, mulai tahun 2011 Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) bersama Oxfam melakukan pendampingan dan penguatan kapasitas masyarakat Dusun Wello. Mereka diajak untuk menganalisis sebab musabab banjir dan menemukan cara-cara adaptasinya. Di antaranya, masyarakat membangun semacam pintu air, dilengkapi sistem peringatan dini. Selain itu, tim siaga bencana desa juga dibentuk agar masyarakat siap ketika banjir datang.
Masyarakat juga bergotong royong membuat sumur dan kandang adaptif.

"Modifikasinya sebenarnya cerdas, karena masyarakat tidak akan kehilangan ternak mereka dan juga masih dapat memiliki sumber air bahkan jika wilayah tersebut tergenang. Dikatakan adaptif karena mereka memahami bahwa mereka tidak dapat mencegah banjir dari sungai di musim hujan," terang Torry.

Komunitas adaptif kedua adalah masyarakat Desa Pajinian, Kecamatan Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur. Menurut Torry, warga desa telah mengalami banjir sejak dua dasawarsa silam. Data YPPS 2013 menunjukkan pada waktu hujan turun, sungai yang berada di bukit menggelontorkan air bah dan menggenangi rumah 699 orang, terdiri dari 344 laki-laki dan 355 perempuan.

Sejak 2010, YPPS dan Oxfam memfasilitasi masyarakat Desa Pajinian memupuk potensi adaptif mereka terhadap bencana. Dari tahun ke tahun, masyarakat memutar otak dan melakukan modifikasi menurunkan tingkat kerentanan. Selain membangun tanggul penahan, masyarakat juga membuat empat kolam penampungan air. Kolam ini selain berfungi mengurangi kecepatan banjir, juga sebagai cadangan air untuk pertanian kala musim kemarau tiba.
Inovasi ini, terutama pembuatan kolam, justru menumbuhkan peluang ekonomiĀ  baru. Masyarakat lantas memanfaatkan air untuk berkebun, menanam sayur-sayuran.

"Kolam ini dekat kebun, ini kebun bersama. Tidak dijual sayurnya tapi dikonsumsi sendiri untuk mengurangi biaya beli sayur. Kemudian orang itu melihat banjir itu bukan semata-mata sebagai ancaman, tapi bisa juga diakalin, bisa juga jadi anugerah," tutur Torry.

Butuh Dukungan Pendanaan

Kendati komunitas lokal sukses melakukan adaptasi, Torry mengakui hal ini tidak bisa dilakukan sendiri. "Komunitas tentu melakukan adaptasi, tapi seberapa besar kemampuannya, seberapa kreatif dia. Memang kalau dia dibiarkan sendiri, sebetulnya tidak akan bisa ngapa-ngapain," kata dia.

Hal senada diungkapkan Fabby Tumiwa. Menurutnya, komunitas lokal memang bisa melakukan adaptasi, tetapi dalam level yang paling minim.

"Kelompok marjinal itu sudah melakukan adaptasi, hanya survival saja," kata Fabby.

Karenanya, selain peran asistensi seperti yang dilakukan Torry, yang juga sangat penting adalah dukungan pendanaan. Ia menyarankan adanya mekanisme pendanaan dari tingkat internasional hingga ke komunitas lokal, untuk mendukung masyarakat melakukan kegiatan adaptifnya.

Kata dia, Indonesia hanya mendapatkan 7,7 juta dolar Amerika dari pendanaan internasional tentang perubahan iklim. Jumlah ini sangat kecil jika dibandingkan dana yang diperoleh Kamboja, yakni 132 juta dolar Amerika.

"Indonesia itu totalnya hanya dapat 7,7 juta dolar, kecil dibanding dengan Kamboja yang dapat 132 juta dolar, padahal jumlah orang miskin di Indonesia dan penduduk rentannya, lebih banyak dari Kamboja," ungkap Fabby.

Karena itu, seharusnya pemerintah Indonesia juga berupaya mengusahakan peningkatan pendanaan adaptasi bencana di level internasional, seperti pada perhelatan Konferensi PBB Untuk Perubahan Iklim di Paris November mendatang.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!