Keluar berjalan-jalan sambil mendengarkan kembali ritme dan nada yang telah diciptakan adalah salah satu cara Gordon Matthew Sumner untuk mendapatkan inspirasi lirik lagu. Lirik itulah yang nantinya akan berpadu dengan nada-nada yang telah digubahnya terlebih dahulu. Musik dibuat terlebih dahulu, bila struktur musik sudah benar maka musik tersebut menjadi narasi (abstrak) bagi si pencipta musik. Dengan begitu ia dapat menangkap ide atau tema apa yang hendak diceritakan oleh musik tersebut. Dari situ, terciptalah sebuah lagu. Metode tersebut ia gunakan untuk menggubah sebagian besar  lagu miliknya. 


Suatu ketika, ia merasa tidak nyaman dalam proses menangkap ide dari salah satu musik gubahannya. Ide yang muncul dari musik itu justru membuatnya merasa terganggu. Musik itu lantas menginsipirasinya untuk bercerita tentang pekerja seks transeksual. Karena tidak nyaman dengan ide ini, ia memutuskan untuk tidak menyelesaikan lagu itu dan beralih untuk menciptakan lagu yang lain. 


Tidak lama kemudian ada suara di kepalanya yang berkata: “Mengapa kau menjadi orang yang bermental menghakimi? Berani sekali kamu menghakimi aku!! Kamu menciptakan lagu tentang Roxanne, kenapa kamu tidak bisa menciptakan lagu tentang aku (pekerja seks komersial transeksual)? Karena aku transeksual?” 


Suara itu yang akhirnya membuat ia berubah pikiran dan memutuskan untuk menyelesaikan lagu tersebut. Reffrain dari lagu tersebut berbunyi seperti ini: /Don’t judge me/You could be me in another life/In another set of circumstances/Don’t judge me/One more night/I’ll just have to take my chances/For tomorrow we’ll see/. 


Lagu di atas bertajuk “Tomorrow We’ll See”. Sting membuktikan bahwa ia tidak hanya sekedar ‘main aman’ ketika memutuskan untuk menciptakan lagu tersebut. Pasti banyak orang yang tidak setuju dan mencacinya karena ide dari lagu tersebut. Bahkan mungkin jumlah penggemarnya berkurang karena lagu ini. Tapi lewat lagu ini, Sting menyumbangkan cara pandangnya dalam melihat sesuatu untuk tidak selalu terburu-buru menghakimi, yang mungkin saja akan menular kepada para penggemarnya.


Dan Sting terbukti seringkali jadi pengaruh yang baik bagi penggemarnya, baik itu musisi atau bukan. Sting menjalani gaya hidup yang ideal. Dari segi kesehatan, ia adalah penggemar makanan organik. Ia mempunyai kebun organik sendiri di halaman rumahnya. Itu adalah salah satu faktor yang membuat ia selalu terlihat fit dan awet muda, selain rutin melaksanakan yoga. 


Ia juga aktivis HAM dan lingkungan. Kehidupan rumah tangganya nyaris tidak ada gonjang-ganjing. Ia seorang rock star yang sayang istri walaupun sempat bercerai dengan istrinya yang pertama. Dari segi musik ia adalah seorang multiinstrumentalis - di setiap album ia selalu membuat sesuatu yang baru baik dari segi komposisi musik maupun tema yang diangkat.


/No earthly church has ever blessed our union/No state has ever granted us permission/


/No family bond has ever made us two/No company has ever earned commission/ 


/The secret marriage vow is never spoken/The secret marriage never can be broken/


Cuplikan lirik lagu tersebut murni berasal dari pengalaman pribadinya. Lagu tersebut berisi pengalamannya tentang hidup bersama seorang wanita (Trudie Styler, istri Sting setelah perceraian pertama) dan mempunyai anak selama sepuluh tahun. Selama kurun waktu tersebut Sting dan Trudie tidak menikah secara resmi. Sting beranggapan, ungkapan janji dan kasih sayang yang mereka tunjukkan setiap hari adalah pernikahan itu sendiri. Pernikahan tidak selalu berarti perayaan resmi di hadapan publik. 


“It was until our kids got to around the age of nine or ten that they needed to have some sort of public demonstration that we were married. And it was their idea that we got married in a public way. Our marriage is a secret no longer,” begitu Sting menjelaskan kenapa akhirnya ia menuruti permintaan anak-anaknya untuk menikah secara resmi – seperti orangtua pada umumnya. 


Lagu tersebut adalah salah satu dari banyak lagu cinta berkelas gubahan pengagum Cicero (filsuf Romawi) ini. 


Ada beberapa lagu cinta lain yang tidak kalah kelasnya dari segi musik dan liriknya seperti lagu cinta segitiga yang berjudul “When We Dance”, atau “Until” – sebuah lagu cinta yang dikemas dengan gaya Waltz dan menjadi soundtrack film “Kate and Leopold” (film yang berkisah tentang cinta dua manusia yang berasal dari dimensi waktu yang berbeda). 


Masih ada lagi “Fields of Gold” salah satu lagu favorit dari sang istri (Trudie Styler) yang diciptakan saat mereka membeli rumah yang letaknya dekat dengan ladang gandum. Kilau matahari, warna ladang gandum, keintiman dengan sang istri dan komitmen mereka adalah gabungan dari lirik lagu tersebut. “Practical Arrangement” adalah lagu lain yang bertemakan cinta yang patut dinikmati, selain tentunya “Every Breath You Take”, “Whenever I Say Your Name”, dan “Mad about You” yang liriknya diambil dari Injil yang berisi kisah percintaan antara  Daud dan Batsyeba.


Pada tahun 1987 Sting menelurkan album yang berjudul “Nothing Like The Sun”. Di album tersebut terdapat lagu “They Dance Alone” yang bercerita tentang kesedihan yang dialami oleh para wanita Chile yang memperagakan tari Cueca (tari nasional Chile) sambil membawa foto dari anak laki-laki, saudara laki-laki, maupun suami mereka yang hilang pada masa pemerintahan diktator Augusto Pinochet. Rezim Pinochet berkuasa di Chile antara tahun 1973-1990. Selama rezim tersebut berkuasa, ribuan nyawa hilang.  Pada masa itu lagu tersebut dilarang beredar di Chile, namun Sting selalu memainkannya bersama wanita-wanita yang kehilangan anggota keluarganya tadi. Menurut Sting lagu tersebut merupakan simbol pengakuan akan kekuatan sisi feminis wanita yang mampu melawan tanpa kekerasan.


Lagu-lagu bertema sosial politik lain yang juga dikemas dengan musik yang setara dengan kualitas lirik diantaranya adalah “Fragile” yang berkisah tentang Ben Linder, teknisi Amerika di Nikaragua yang dibunuh oleh tentara pemberontak Nikaragua. Kelompok pemberontak tersebut dibiayai oleh Amerika. Ben Linder bekerja sebagai teknisi hydroelektrik dam (semacam PLTA), yang mengalirkan air dan listrik bagi masyarakat sekitar zona perang yang membutuhkannya.


Lagu lainnya adalah “Russians” yang bercerita tentang perang dingin yang terjadi antara Amerika dan Eropa melawan Rusia. Di lirik lagu tersebut dia berkisah bahwa perang nuklir yang tidak terjadi pada saat itu adalah karena kedua pihak masih berpikir tentang akibat yang akan diderita oleh generasi selanjutnya apabila perang nuklir benar- benar terjadi. Lirik berikut menunjukkan keprihatinan itu : “/Believe me when I say to you/ I hope the Russians love their children too/”


Tulisan diatas adalah sebagai pengantar program Winning Eleven di 89.2FM Green Radio. Lagu-lagu di atas termasuk lagu – lagu yang akan diputarkan untuk acara Winning Eleven edisi 13 Juni 2014 pukul 11.00 WIB.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!