Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) menjadi tuan rumah untuk pertemuan tahunan para pimpinan bea dan cukai se-Asia Tenggara (ASEAN Directors-General of Costums Meeting) yang ke-26. Pertemuan ini diselenggarakan di Bali, 16-18 Mei 2017. Indonesia juga memangku posisi sebagai chairman dalam pertemuan, sekaligus Ketua ASEAN Costums selama setahun ke depan. Pertemuan ini merupakan forum tertinggi di bidang kepabeanan di ASEAN yang memiliki agenda pembahasan soal kepentingan strategis pabean, serta memberi arahan dan keputusan bagi forum kerjasama kepabeanan di bawahnya, yaitu: Coordinating Committee on Customs (CCC); Customs Enforcement and Compliance Working Group (CECWG); Customs Capacity Building Working Group (CCB WG) serta Customs Procedures and Trade Facititation Working Group (CPTF WG) yang membawahi Sub Working Group on ASEAN Customs Transit System (SWG ACTS) dan ASEAN Harmonized Tariff Nomenclature Task Force (AHTN TF).

Pertemuan ini dihadiri pimpinan Bea Cukai dari 10 (sepuluh) negara anggota ASEAN serta Sekretariat ASEAN. Dalam pertemuan tahunan ini dibahas berbagai langkah strategis yang merupakan rencana pengembangan yang telah dicanangkan di ASEAN. Langkah strategis tersebut digunakan dalam memajukan perdagangan dan investasi, yang sebagian di antaranya merupakan inisiasi DJBC yaitu:

  1. Usulan jika pertemuan ASEAN Directors-General of Customs dapat membahas isu-isu yang lebih strategis dan dapat menerapkan pendekatan top-down sehingga kinerja working group yang ada di bawahnya dapat lebih terfokus dan terarah.
  2. Inisiasi Term of Reference (TOR) Private Sector Engagement di mana akan memberikan kesempatan ASEAN Customs untuk berinteraksi dalam private sector. Hal ini dicanangkan mengingat dapat mendorong private sector nasional, asosiasi nasional, terutama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)/Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk mendapatkan dukungan dalam memajukan perdagangan ASEAN.
  3. Optimalisasi peran ASEAN Harmonized Tariff Nomenclatrue-Task Force (AHTN-TF), di mana ahli klasifikasi ASEAN dapat berkumpul untuk berdiskusi, belajar, dan sharing pendapat terkait isu-isu klasifikasi untuk nantinya akan dibawa ke WCO HS Committee.
  4. Inisiasi Strategic Plan on Customs Development (SPCD) baru yang dinilai lebih strategis dari sisi substansi, antara lain: SPCD on ASEAN Customs Policy Studies on Forecasting; SPCD on ASEAN Customs Diagnostic Framework; SPCD on Enhancement of Customs Integrity; serta SPCD on Human Resource and Administration Development. SPCD dimaksud diusulkan untuk mulai diimplementasikan pada 2021-2025 dan kini sedang dalam pembahasan oleh negara-negara ASEAN.
  5. Inisiasi program capacity building bagi para ahli di masing-masing negara ASEAN. Usulan ini disambut baik oleh negara-negara dan akan ditindaklanjuti dengan melakukan kajian atas pengembangan jaringan training centers dan experts terakreditasi di ASEAN. Inisiatif ini diharapkan dapat mendorong bertambahnya WCO Accredited Expert di ASEAN.

ASEAN Customs merupakan salah satu sektor kunci dalam pilar ekonomi ASEAN terutama dalam bidang Perdagangan dan Transportasi. Di samping itu, kerjasama penegakan hukum di bidang narkotika, barang-barang berbahaya bagi masyarakat, lingkungan hidup, serta praktik-praktik penyelundupan juga merupakan fokus dan kepedulian bersama dari ASEAN Customs. Pertemuan ASEAN DG Meeting tahun ini bertepatan dengan perayaan 50 tahun ASEAN sehingga diharapkan spirit dan solidaritas ASEAN dapat menjadi modal berharga untuk mewujudkan cita-cita ASEAN.


Editor: Paul M Nuh

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!