Chef Aiko (baju merah) memasak Lumpia Vietnam di Yuhu Sore, Jumat (20/5/2016)

Yuhu-Jakarta, Sebentar lagi kita akan bertemu dengan bulan Ramadhan. Sudah bergerilya mencari bahan-bahan makanan yang sehat dan segar agar tetap fit sepanjang hari? Nah, salah satu host Yuhu Sore, Chef Aiko Sarwosri memberikan resep sehat di segmen Cooking With Chef Aiko, Jumat (20/5/2016). Jarang deh, ada siaran di radio sambil masak-memasak. Tapi, Yuhu Sore yang sudah berjalan sejak Maret 2016 ini, memberikan yang special untuk pendengarnya. Cemilan yang dipraktekkan dan disajikan Chef Aiko adalah Spring Roll Vietnam atau Lumpia Vietnam.

Ini dia bahan-bahannya:

- Air putih matang
- Rice paper atau kulit lumpia Vietnam
- Bawang putih diiris dadu
- Bubuk cabe
- Wijen hitam/putih
- Vinegar atau cuka apel
- Wortel, diiris
- Selada hijau
- Udang, direbus
- Ayam, direbus dan disuwir (bisa juga ayam bakar)
- Bihun
- Saus Hoisin. Saus ini berwarna coklat tua, rasanya manis dan sedikit pedas. 

Bahan-bahan tadi berjejer rapi di atas meja studio. Yang pertama dilakukan Chef Aiko adalah mencelupkan rice paper atau kulit lumpia Vietnam ke dalam air matang. "Rice paper jangan direndam, tapi dicelupkan sekali lewat saja, yang penting basah," ujar Chef Aiko memberikan tips.

Setelah itu, chef bermata sipit ini menyusun selada hijau, bihun, wortel, ayam rebus, dan udang rebus di atas rice paper yang tipis. Chef Aiko menyarankan, kulit udang rebus jangan dibuang, agar kaldunya tetap mengumpul di daging atau cangkang. Tak sampai 1 menit, tangan dinginnya sudah berhasil menggulung semua isi lumpia dengan rapi. Agar terlihat cantik, Aiko menaruh susunan wortel paling atas. Kedua host lainnya, Soraya Larasati dan Mesty Hanyta pun takjub dibuatnya. "Serba rebus dan sehat" kata Aiko sumringah melihat racikannya yang siap santap.

Lumpia Vietnam ala Chef Aiko


"Eh, tanpa diapa-apakan (isi dan rice papernya) langsung lengket, ya?" kata Mesty.

"Iya, kirain ditambah air. Ih, kamu cepet banget deh gulungnya, kalau aku sih pasti berantakan," celetuk Laras.

Setelah racikan dibungkus dengan sempurna, Mesty dan Laras pun gencar bertanya. "Boleh gak di dalamnya dikasih saus sedikit, baru digulung?" tanya Mesty.

"Oh, jangan karena bisa merusak kesegaran sayur, makanya kenapa semua harus direbus dan kering, karena ini memang hidangan dingin bukan hidangan panas," Aiko menjelaskan.

"Ini awet gak? Misalnya, ini kan sebentar lagi mau puasa. Kalau nyiapan dari malam hari buat sahur bisa gak?" tanya Laras. "Kalau udang dan ayam disiapkan dari malam, gak apa-apa. Tapi kalau isinya (sayur) dan saus harus disajikan fresh," jawab Aiko.
 
Bolehkah bahan-bahan tadi diganti atau ditambahkan? Menurut Chef Aiko, sayur-sayuran bisa saja ditambah dengan jamur, timun jepang atau tomat, tapi bijinya harus dibuang agar tak berair. Sedangkan, ayam dan udang, boleh diganti dengan ikan-ikanan atau daging sapi. Selain itu, telur dadar atau telur puyuh pun bisa juga digunakan. "Kalau mau wangi, di dalamnya bisa ditambahi daun ketumbar," kata Aiko.
 
Puas bertanya, Mesty pun tak sabar mencicipi racikan Lumpia Vietnam ala Chef Aiko. "Hmmmm, rasanya enak, karena ada bihun jadi mengenyangkan, rasa udang dan sayur-sayurannya juga fresh banget. Sebenarnya rasanya itu ada di sausnya, ya," kata Mesty sambil mencocol saus hoisin yang sudah ditaburi wijen dan cabe bubuk.

Nah, jika sausnya mau pedas, kata Aiko, bisa juga ditambahkan cabe rawit. Atau jika saus hoisinnya terlalu asin, dapat ditambahkan gula. Selain saus hoisin, boleh saja mencocolnya dengan saus kacang.

Meski segmen keren ini hanya berlangsung sekitar 12 menit, tapi penjelasan Chef Aiko cukup komplit. Bahkan, setelah acara berakhir,  tim Yuhu Sore berebut mencicipi masakan sehat tanpa minyak ini. Nah, apakah kamu naksir dengan lumpia sehat ala Chef Aiko ini untuk dijadikan santapan saat sahur nanti?


Editor: Sasmito Madrim

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!