KBR, KBR68H

KBR, Jakarta – Tahun ini KBR68H sudah menginjak usia yang ke-15. Dan hari Sabtu (3/5) akan digelar perayaan sederhana perjalanan KBR68H selama ini sekaligus peluncuran logo baru seperti yang Anda bisa lihat di gambar atas. 


Kalau Anda cermati, kami pun mengubah cara penulisan nama kantor ini dari KBR68H, menjadi KBR. Perubahan nama ini dimaksudkan sebagai penyederhanaan, dengan harapan akan lebih bisa diingat oleh pendengar, pembaca dan penikmat KBR. 


“Logo yang lebih berwarna juga menggambarkan semangat KBR untuk memproduksi program yang lebih beraneka dan melayani masyarakat yang lebih beragam. Produk yang nantinya digarap KBR pun tidak hanya berita, tapi juga informasi lain dan hiburan,” kata Tosca Santoso, Direktur Utama KBR. 


KBR sudah berkiprah di bidang produksi dan penyiaran radio selama 15 tahun. Berdiri pada 1999 lalu memulai siaran perdana pada 29 April yang lantas diperingati sebagai hari jadi. KBR lahir sebagai upaya untuk meningkatkan mutu jurnalisme radio dan melayani pendengar dengan informasi yang lebih baik. Bermula dari 7 radio, kini ada 900-an radio di Indonesia dan Asia yang menikmati berita-berita produksi KBR.  KBR pun melahirkan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN), Green Radio yang bersiaran di Jakarta dan Pekanbaru, serta TV Tempo. 


Apa saja catatan perjalanan KBR dalam 15 tahun terakhir? Berikut wawancara dengan Direktur Utama KBR Tosca Santoso. 


Kita sudah mencapai 15 tahun. Catatan Anda soal KBR seperti apa sekarang kiprah yang sudah dilalui? 


“Banyak perkembangan dalam 15 tahun. Seperti Anda sebutkan tadi jumlah jaringan yang meningkat, juga skala dari produksi, keadaan organisasi juga jauh lebih besar. Tapi media sebenarnya 15 tahun juga belum tua-tua sekali dari sisi kehadirannya di publik. Biasanya media yang dipercaya dan bagus bisa sampai ratusan tahun tergantung dari media itu sendiri menyesuaikan kebutuhan masyarakat.” 


Bagaimana KBR bisa menyuplai memenuhi kebutuhan informasi masyarakat? Karena kita tahu banyak orang beranggapan radio itu media tanggung karena ada suara tapi tidak ada gambar, tapi gampang didengar daripada cetak yang kita harus membaca dengan penuh konsentrasi. 


“Sebetulnya kalau radio gambarnya diciptakan di dalam benaknya si pendengar. Jadi oleh keterampilan para penyiar atau jurnalisnya bayangan tentang keadaan yang dilaporkan itu justru lebih bisa kuat dampaknya. Walaupun tidak ada gambar seperti televisi sebetulnya radio menciptakan gambar di dalam imajinasinya pendengar. Karena itu dampak dari sebuah laporan atau peristiwa itu bisa lebih kuat, tapi itu kembali tergantung dari kualitas produk sajian yang kita hantarkan kepada masyarakat. Saya kira disitulah tantangan KBR sekarang bagaimana untuk terus memperbaiki kualitas yang memenuhi ekspektasi masyarakat.” 


Sekarang ada desakan misalnya pandangan dari orang-orang radio bahwa saya akan membuat radio hanya sedikit yang siaran dan hanya lagu yang akan saya putar karena trennya masih seperti itu. Ini tantangan juga buat kita yang punya patron berita, bagaimana? 


“Sebetulnya industri radio sudah jauh lebih berkembang dari keadaan waktu kita mulai tahun 1999. Jadi tidak benar lagi kalau kita mengatakan radio kebanyakan hanya memutar lagu seperti 15 tahun yang lalu. Justru saya lihat ekspektasi industri radio terhadap kontribusi KBR sekarang jauh lebih tinggi kualitasnya. Karena itu tantangan yang tidak sepenuhnya sekarang bisa kita jawab perkembangan dari kebutuhan itu. Kalau kita perhatikan anggota jaringan yang menyiarkan KBR di dalam negeri memang 700 radio tapi faktanya adalah kita juga belum terlalu bisa diterima di radio-radio yang lebih maju di kota-kota besar. Itu sebetulnya refleksi dari mereka ingin yang lebih tinggi kualitasnya yang bisa melayani audiens mereka lebih spesifik. Jadi kebutuhan untuk terus meningkatkan kualitas itu yang sebetulnya sekarang persis di depan mata kita tantangannya.” 


Nilai-nilai apa yang tetap dipertahankan KBR dari awal hingga saat ini? 


“Kalau dari sisi nilai-nilai justru yang paling tidak berubah pertama kita adalah institusi yang melayani publik, bukan kepentingan golongan dan politik. Jadi public service itu yang pertama kali harus menjadi spirit dari seluruh kru dan institusi KBR. Kemudian kita menyediakan informasi berkualitas baik, karena itu memberi bahan kepada masyarakat untuk membuat mereka lebih tahu keadaan dan bisa memutuskan persoalan mereka dengan lebih baik. “


KBR banyak membangun radio-radio di daerah pedalaman, sudah daerah mana saja yang sudah dibangun?


“Ada cukup banyak walaupun program ini dua tahun terakhir sudah tidak ada ya kita tidak cukup dana untuk melanjutkan program itu. Tapi beberapa tahun lalu seperti di Papua itu di pegunungan Jayawijaya, Kabupaten Yahukimo, Paniai, Sarmi. Tempat-tempat yang sebelumnya tidak ada akses informasi itu menjadi concern kita, juga daerah-daerah yang bekas terkena bencana seperti waktu Aceh kena Tsunami. Jadi memang KBR ingin membantu supaya akses informasi lebih terbuka luas.” 


Soal kabar Green Radio yang akan berdiaspora menyebar ke beberapa kota, bisa dijelaskan? 


“Iya inginnya begitu. Karena KBR di Jakarta ingin merintis satu radio baru yang lebih concern pada lingkungan dan saya merasa itu bisa disebarluaskan di kota-kota yang problem lingkungannya besar. Tahun ini kita baru buka di Pekanbaru bulan Januari yang lalu, tapi saya kira sekarang posisinya tidak dalam kemampuan untuk cepat menyebarkan karena investasinya besar, mungkin kita stop dulu dengan Pekanbaru.”


Terkait dengan media baru ada internet, televisi, dan bersatu padu dalam sebuah tampilan mungkin kita bicara Portal KBR. Kira-kira akan dimutakhirkan seperti apa arahan dari media baru yang akan kita bangun ini?


“Ini baru untuk KBR. Tapi sebetulnya di kancah media di Indonesia medium online ini bukan sesuatu yang baru ya, sudah banyak pemain raksasa lain yang sudah ada di pasar.” 


Tapi kita tidak ketinggalan kan?


“Sangat ketinggalan.” 


Untuk mengejarnya bagaimana? 


“Jadi itu posisi yang sulit sekali untuk portal kita bersaing. Menurut saya agak mustahil menyaingi tiga atau empat besar media di sana dengan investasi yang jauh lebih besar. Karena itu Portal KBR mencari keunikannya sendiri dan itu adalah strategi yang harus dibangun dengan konsisten. Pertama dia adalah refleksi dari media radio yang ada di Indonesia. Jadi dia merupakan jaringan radio-radio partner KBR yang mengkonvergensi diri dengan mediaum online. Jadi harus ada keunikan disitu, seperti NPR membangun portalnya adalah melalui juga konvergensi dengan anggota radionya di kota-kota lain.” 


Itu yang disebut ‘Dari Indonesia Untuk Semua’ ya?


“Iya. Jadi memang harus betul-betul terasa isinya yang dari daerah mana. Kalau kita masih juga sentralnya berita-berita Jakarta kita memang ketinggalan dibanding portal-portal lain.” 


Sejauh ini perkembangannya bagaimana? 


“Belum terlalu bagus, masih berat sekali dan kita harus usahakan. Menurut saya ini memang sudah dunianya generasi baru, jadi kalau saya atau Heru Hendratmoko (Direktur Produksi KBR – red) sudah agak ketinggalan untuk itu. KBR sudah perlu pemimpin-pemimpin baru menurut saya.” 


Selain portal kita juga mengembangkan televisi dengan adanya TV Tempo. Apa yang ingin dicapai juga dengan adanya TV Tempo ini?


“Yang ingin dicapai adalah sama seperti spirit KBR yaitu menyediakan program berkualitas, kali ini di medium televisi. Jadi televisi kita perlu didukung untuk mendapat alternative content yang baik, jadi yang jurnalismenya berimbang, orientasi pada layanan publiknya lebih terjaga yang tidak sekadar dikejar-kejar rating. Tapi ini kembali ya sebetulnya kontribusi ini bagus, niat kita baik tetapi dampaknya belum besar. Perlu banyak hal seperti investasi, keterampilan kita sendiri jadi inilah tantangan KBR ke depan bagaimana memastikan juga perkembangan ini didukung oleh dukungan keuangan dan kemampuan bisnis yang baik. Karena sustainibility kita akan tergantung dari keadaan itu.” 


Apa yang ingin disampaikan kepada pendengar kita?


“Saya terima kasih kepada pendengar yang sudah 15 tahun mengikuti kita, membuat kita ada, dan terus mengkritik kalau ada kekurangan. Jadi saya berharap ke depan KBR akan terus memperbaiki kualitasnya, memperbaiki layanannya kepada publik di dalam format yang makin beragam mengikuti perkembangan zaman.”   


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!