Cianjur, Festival Sarongge, Gede Pangrango, Heru Hendratmoko

29 Juni – 1 Juli 2013

Festival Sarongge diangankan mirip seren taon dalam tradisi Sunda.  Pada perayaan itu, warga desa yang umumnya petani padi, mensyukuri hasil panen. Berterimakasih pada pencipta,dan bersenang-senang bersama tetangga. Kue-kue dan makanan khas disajikan.  Rumah dibuka untuk tamu – dari manapun datangnya, dan banyak kegiatan seni ditampilkan.  Desa jadi riuh.  Anak-anak bergembira.  Sayangnya, seren taon, sekarang hanya digelardi Badui, dan desa-desa kasepuhan Banten yang masih menanam padi jenis lama –bukan padi hibrida hasil revolusi hijau.  Padi jenis lama itu, dipanen setahun sekali.

Tapi Festival Sarongge tentu ada bedanya.  Sarongge bukan desa petani padi.  Di kampung yang kira-kira 10 km dari Istana Cipanas ini,  petani bertanam sayur-mayur.  Siklus tanamnya pendek.  Waktu panen di antara petani tidak serentak. Kebiasaan syukuran setelah panen, jadi sulit diadakan.   Ritual meminta berkah biasanya dilakukan dengan berziarah ke Suryakencana,  alun-alun di dekat Puncak Gunung Gede itu,  tiap pertengahan atau akhir bulan  Mulud . Pulang dari ziarah, petani membawa sejumput tanah yang mereka taburkan di kebun;  dengan harapan kebun merekaterhindar dari bencana alam dan  hasil panentahun itu akan bagus.   Petani Sarongge memang akrab dengan gunung dan hutan --  meski hubungan itu tidak selamanya mulus.  Mengenal dan berinteraksi dengan kehidupan petani tepi hutan itulah, inti Festival Sarongge.

Kira-kira empat dekade lalu, petani Sarongge membuka hutan pada ketinggian 1.700 mdpl,  di tiga bukit kecil – pasir, dalam Bahasa Sunda  -yakni Pasir Leutik, Pasir Tengah dan Pasir Kidul.  Mereka menanam wortel, brokoli, kentang, juga kol dan daun bawang.   Bahkan ketika pasir-pasir itu, masuk menjadi bagian hutan produksi Perum Perhutani, mereka masih dibolehkan berkebun sayur. Persoalan timbul ketika tahun 2003, wilayah itu dijadikan perluasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).  Tanah seluas 38 ha itu, adalah sebagian dari 7.000 ha area tambahan TNGGP yang menyebar di Kabupaten Bogor, Sukabumi dan Cianjur.  Dari sudut pandang taman nasional, hutan konservasi; kebun-kebun sayur itu, tak bisa dibenarkan.  Lahan itu harus dikembalikan menjadi hutan.  Di Sarongge saja, 150 keluarga, terancam kehilangan sumber penghasilan. Tekanan pada petani supaya meninggalkan kebun makin berat, seiring kesadaran publik tentang pentingnya kelestarian Gede Pangrango : sumber udara dan air bersih untuk Jakarta dan sekitarnya.

Green Radio bekerjasama dengan TNGGP dan petani Sarongge, dalam lima tahun terakhir ini,  berupaya keras mencari jalan supaya petani dapat alternatif penghasilan.  Dan tidak menjadi lebih miskin, ketika meninggalkan kebon di gunung.  Kami mengadopsi falsafah petani Sarongge yang mereka singkat dengan Tiga-O.  LeuweunghejO. Reuseup anu nenjO. Patani ngejO. Hutan hijau. Senang yang melihatnya. Dapur petani tetap ngebul.  Berbagai kegiatan ekonomi dimulai : ternak kambing, kelinci, kerajinan rumah tangga – bikin bros dan sabun sereh wangi-,  produksi minyak sereh wangi, juga memelihara lebah untuk madu, membuat camping ground untuk wisata hutan tropis.  Sebagian petani, sekarang sudah mahir menjadi pemandu wisata hutan. Festival ini, adalah salah satu usaha untuk memperkenalkan Sarongge, kampung tepi hutan ini, sebagai salah satu tujuan wisata.  Untuk mereka yang peduli lestarinya hutan dan masyarakat yang lebih sejahtera.  Kami mengajak kembali para adopter, menengok 22.000 pohon yang sudah ditanam dengan sumbangan dana mereka dan berkenalan dengan petani yang merawat pohon-pohon itu.

Pendekatan Tiga-O itu terbukti berhasil.  Hutan adopsi sebagian mulai pulih. Ada pohon-pohon yang sudah 4 meter tingginya. Sebagian keluarga petani, sudah meninggalkan kebun sayur di taman nasional dan beroleh ganti penghasilan yang lebih baik.  Proses ini dipercepat setelah kunjungan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, Oktober 2012.  Ia menyebutnya pendekatan “pagar mangkok”. Hanya warga desa tepi hutan yang sejahtera yang dapat menjaga hutan dengan baik.  Ia menginginkan Sarongge menjadi model reforestasi bersama masyarakat, untuk taman-taman nasional di daerah lain.   Perhatian pada Sarongge makin meluas, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menengok program ini dan berbicara dengan petani pada 8 Januari 2013.  Ia memberi bantuan tambahan untuk peternak kambing, kelinci, dan mempercepat roda kegiatan ekonomi di sana.  Menjadikan desanya tujuan wisata adalah salah satu mimpi warga Sarongge.  Dan festival ini, adalah upaya warga Sarongge membuka diri, dan menyambut para tamu. Melatih kebiasaan menjadi warga Desa Wisata.

Apa yang Anda dapat lakukan di Festival Sarongge?

1.      Trekking ke Hutan Sarongge. Mengenali tumbuhan endemik hutan tropis. Anda bisa memilih jalur pendek (3 jam), atau jalur yang lebih panjang, sampai Air Terjun Ciheulang (6 jam).  Perjalanan akan dipandu petani,  yang akrab dengan rute ini dan kenal tumbuhan di sana.  Anda akan menemui rasamala,puspa, manglid, dan berbagai tumbuhan asli Gede Pangrango. Kebetulan ki hujan  sedang musim berbunga. Hutan Sarongge terlihat lebih cantik.  Untukmengikuti trekking, Anda dianjurkan menginap di Camping Ground Hutan Sahabat Green. Tidur di tenda, rumah pohon atau saung. Tenda, sleeping bag, matras disediakan.  Di camping ground, cukup sering melintas elang jawa, salah satu satwa yang terancam punah. Populasinya di seluruh dunia, tak lebih dari 600 ekor, sebagian hidup di Hutan Sarongge.

2.      Adopsi Pohon.  Ini adalah program awal Green Radio di Sarongge. Anda bisa menanam pohon endemik atas nama Anda sendiri. Menandainya dengan GPS, sehingga dapat dikunjungi kapan saja. Pohon akan dirawat oleh petani. Kalau mati diganti.  Bergabunglah bersama para tokoh masyarakat dan berbagai perusahaan yang telah mengadopsi pohon.  Misalnya, Presiden SBY, dan para mentri, juga Raja Belgia yang telah mengadopsi pohon di Sarongge.  Olga Lydia, adalah adopter individu terbanyak sejauh ini.  Ia telah menanam 100 pohon.  Adopsi pohon dapat pula dilakukan untuk hadiah ulang tahun, perkawinan, atau hadiah apa saja untuk teman dan kerabat Anda. Pohon rasamala kalau tidak ditebang, bisa berumur 300 tahun. Cucu, cicit Anda dapat menengok pohon yang anda tanam, di waktu mendatang.   Buat adopter lama, berkunjung di Festivalini adalah kesempatan baik menjenguk pohon yang pernah Anda tanam. Sudah setinggi apakah dia?

3.      Wisata Kebun Teh.  Jalan-jalan di kebun teh Sarongge.  Salah satu kebun teh tertua di Indonesia,yang dirintis Belanda tahun 1902. Kebun ini dulu dirancang sebagai kebun percobaan. Jadi meski arealnya tidak terlalu luas,  jenis tehnya sangat beragam. Hasil silangannya diperkirakan sampai 300 jenis.  Anda akan dipandu staf kebun teh yang berpengalaman. Membedakan berbagai jenis teh, dan belajar memetik pucuk teh dengan benar.  Menengok pohon teh yang ditanam sejak masa Belanda.  Melihat pabrik teh tradisional – produsen  teh hijau.  Pabrik ini masih memakai kayu untuk bahan bakarnya.  Membedakan cara produksi teh hijau dan teh hitam. Setelah mampir kebun ulat sutera, perjalanan diakhiri dengan minum teh hijau pilihan Anda. Waktu perjalanan  sekitar 3jam.  Tempat yang cocok untuk menginap adalah di Wisma Kebun Teh.

4.      Bertani organik. Anda dapat ikut menanam sayur mayur di kebun organik milik petani. Menanam wortel, brokoli, kol dan lainnya.  Biasanya, ada juga yang bisa dipanen pada waktu itu. Bedakan sayur organik, dan non organik.  Anda dapat turut memanennya, dan memasak hasil panen itu bersama petani di Saung Sarongge.   Dalam paket bertani ini, Anda juga bisa melihat proses pengolahan sisa sayur, kotoran kambing dan urine kelinci menjadi pupuk organik.  Keterkaitan peternakan dan pertanian, yang terus dikembangkan di Sarongge, untuk meningkatkan pendapatan.  “Urine kelinci pun sekarang jadi rupiah,” kata Zaenuddin, Ketua Kelompok Tani di Sarongge.

5.      Berternak Kambing dan Kelinci.  Bila Anda datang dengan keluarga, mungkin Anak Anda akan tertarik dengan paket ini. Bagaimana merawat kambing, dan kelinci? Bersama petani, mencari rumput untuk pakan ternaknya.  Membedakan rumput yang cocok untuk pakan kelinci, dan yang membuatnya masuk angin? Mana jenis rumput yang cocok untuk kambing?  Sekitar Kampung Sarongge, banyak sumber rumput. Tetapi sekarang mulai terasa kurang, ketika populasi kambing mencapai 400 lebih dan kelinci ribuan ekor.  Anda bisa melihat kambing di kandang, dan membawanya ke tempat pemandian. Kambingjuga perlu potong rambut, mau coba jadi penata rambutnya?   Kambing dan kelinci, sekarang jadi andalan sebagian petani Sarongge. Kami beruntung dapat pelatih  seperti Teten Masduki.  Ia terbukti bukan hanya handal membongkar korupsi, tetapi juga trampil beternak domba.  Para petani akan senang hati menerima investasi Anda dengan cara maro. Anda belikan bibitnya, mereka merawat, dan hasilnya dibagi berdua.  Cara yang bagus untuk membantu petani, dan berinvestasi. Tertarik? Jangan lupa beli kelinciuntuk oleh oleh.

6.      Cicipi Kuliner Sarongge.  Ibu-ibu petani akan memasak di dapur umum Saung Sarongge. Silakan bergabung. Mereka akan membuat peuyeum ketan,  kroket singkong, putri noong, pisang aroma. Dan jangan lewatkan  “ngaliwet”  - cara masak dan makan bersama para petani,yang biasa mereka lakukan di kebun. Makanan digelar diatas daun pisang, dan petani beramai-ramai melingkari santapan itu, makan bersama.  Menu istimewa dalam “ngaliwet” ini tentulah semur jengkol.  Anda tak perlu ragu mencicipi.

7.      Belajar kesenian tradisional Sarongge.  Anda bisa mencoba menabuh gendang, meniup karinding, atau menari jaipong.  Selama festival berlangsung – 29 Juni sd 1 Juli, akan ada dua panggung  didirikan di Sarongge. Panggung pertama didekat Saung Sarongge, dan yang kedua, panggung lebih besar,  di lapangan bola dekat Pabrik Teh Sarongge.  Di panggung pertama, akan ditampilkan calung, kecapi suling, pencak silat dan jaipongan, sejak 29 Juni siang. Anda bisa mencoba tampil bersama kelompok seni Sunda,  Medah Kencana, pimpinan Dudu Duroni – bekas ketua kelompok tani perambah hutan yang sekarang rajin merawat hutan dan berkesenian.  Sedang di panggung kedua,akan tampil berbagai kelompok seni Sunda, sejak pagi tanggal 30 Juni bersamaan dengan acara pembukaan oleh Menteri Kehutanan, (mudah-mudahan juga dengan Menteri Pariwisata). Di panggung ini, malam harinya akan digelar pementasan wayang golek, hingga dini hari tanggal 1 Juli. Lakonnya : Astrajingga gugat. Buat Anda yang gemar wayang, mari lek-lekan di sini.

8.      Bikin foto-foto menarik.  Anda tentu tak akan melewatkan moment-moment menarik di Sarongge. Juga ada banyak obyek yang bisa jadi bidikan kamera Anda.  Selain untuk koleksi pribadi, kami berharap Anda merelakan foto-foto terbaik Anda untuk lomba yang digelar Green Radio.  Kami akan gunakan foto-foto itu,untuk kalender tahun 2013. Tentunya tersedia hadiah menarik buat Anda, bila foto Anda terpilih.  Obyek bebas. Salah satu yang jadi perhatian kami adalah elang Jawa.  Tahun depan kami ingin memulai program konservasi untuk elang Jawa. Setidaknya untuk yang di Sarongge, supaya tidak berkurang populasinya.



Pilihan tempat menginap :

1.      Kalau Anda suka alam bebas, menginap di camping ground Hutan Sahabat Green adalah pilihan yang pas.  Selain kemungkinan melihat elang Jawa, pada pagi hari hampir pasti Anda dibangunkan kicauan puluhan jenis burung di sini.Kalau mau mruput, Anda bisa jalan sedikit di samping Selatan tempat perkemahan,ada lintasan monyet. Mereka biasa cari sarapan di pohon saninten dekat kali Galudra.  Kapasitas Camping Ground : 60orang. Ada satu rumah pohon, untuk 4 orang. Lainnya dalam tenda dan saung.

2.      Untuk Anda yang ingin merasakan tidur di rumah petani, tersedia 11 rumah yang menyewakan kamar untuk tamu.  Ini adalah permulaan pengembangan eko-wisata berbasis masyarakat. Anda bisa ikut sarapan bersama mereka di pagi hari.  Ngobrol  berbagi cerita dengan petani, paling mudah kalau Anda menginap di rumah mereka.

3.      Bila wisata kebun teh adalah pilihan utama, tempat yang paling pas untuk menginap adalah Wisma Kebun Teh Sarongge.  Bangunan ini aslinya peninggalan Belanda, dengan renovasi di sana sini.  Dengan bantuan pemandu, Anda masih bisa menemukan sisa-sisa bangunannya yang asli. Sering dipakai tempat pernikahan, wisma ini memang khas Belanda.  Cocok untuk bayangkan para ambtenar dulu.  Wisma ini dapat menampung sekitar 20 tamu.

4.      Hotel di sekitar Cipanas.  Banyak pilihan tersedia. Hotel dalam jangkauan 30 menit ke Sarongge. Kalau Anda tak ingin lekas terisolir dari gadget, masih ingin update status, juga tempat tidur yang nyaman dan air panas,  hotel adalah pilihan yang masuk akal. Ratusan kamar tersedia di hotel-hotel sekitar Cipanas.

Green Radio akan membantu Anda memilih tempat menginap.  Hubungi Boy Buntoro :  085718253794. Nia : 0813 11182787.  Jill Raini 0819 811185

Ayo pilih paket yang cocok dalam Festival Sarongge.  Sekaligus mendukung penghutanan kembali Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.  Liburan kali ini,  pasti jadi pengalaman yang berbeda.  



Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!