[Advertorial] Biodiesel Buah Nyamplung Solusi Untuk Energi Indonesia

Budi Leksono menjelaskan, tidak ada lagi pilihan, lambat laun kita harus berpaling kepada sumber energi yang terbarukan.

Kamis, 27 Apr 2017 13:43 WIB

Prof. Dr. Ir. Budi Leksono memaparkan proses produksi biodiesel dari buah nyamplung

Mesin transportasi dan industri sudah menjadi bagian dari peradaban manusia saat ini. Namun, 90 persen bahan bakar yang digunakan adalah bahan bakar dari energi fosil. Hal ini juga membebani Indonesia dengan adanya impor dalam skala besar. Bahkan, jika tak ditemukan sumur baru, minyak bumi diprediksi akan habis dalam waktu kurang dari 20 tahun mendatang. Budi Leksono menjelaskan, tidak ada lagi pilihan, lambat laun kita harus berpaling kepada sumber energi yang terbarukan. Banyak sekali riset yang menunjukan bahwa minyak nabati untuk pembuatan biodiesel atau tanaman penghasil karbohidrat untuk produksi bioetanol. Buah nyamplung juga menjadi sebuah harapan untuk produksi biodiesel.

Buah Nyamplung. Sumber: www.google.com

Tanaman nyamplung belakangan disebut memiliki potensi baik sebagai sumber produksi biodiesel, buah dari biji nyamplung tepatnya. Produktivitas dan rendeman minyak biji nyamplung sangat tinggi, jadi sangat menjanjikan masa depan bioenergi. Produktivitas biji nyamplung mampu mencapai 10-150 kilogram per pohon per tahun atau 20 ton per hektar per tahun. Angka tersebut pun jauh melampaui tanaman lain seperti jarak pagar yang hanya dapat meraih 5 ton per hektar per tahun atau sawit yang mencapai 6 ton per hektar per tahun.

Di Indonesia, tanaman nyamplung bisa ditemui di semua pulau utama, terutama di daerah marjinal atau miskin hara dan tepi pantai dengan ketinggian 0-200 meter di atas permukaan laut sebagai tanaman liar. Buah nyamplung dengan rendeman tinggu dapat ditemukan di Gunung Kidul, Yogyakarta. Hasil rendemannya dapat mencapai 58 persen, lebih tinggi daripada dari buah jarak yang sudah dikenal sebagai sumber biodiesel dari masa penjajahan Belanda. Menurut Budi Leksono, peneliti nyamplung dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta, jika dimanfaatkan untuk mesin, minyak biodiesel bisa dicampur dengan solar, bahkan digunakan murni tanpa campuran.



Prof. Dr. Ir. Budi Leksono (memegang corong) dengan Kabadan Litbang dan Inovasi (BLI), Dr. Henry Bastaman melakukan uji coba biodiesel nyamplung pada kendaraan

Dengan berbagai potensi yang didapatkan dari tanaman nyamplung sebagai sumber biodiesel, masih ditemukan kendala. Kendala yang muncul adalah masalah harga yang belum ekonomis untuk dipergunakan secara massal. Untuk 1 liter biodiesel nyamplung, harga bahan kimianya menelan biaya Rp10.350, harga tersebut masih harus ditambah bahan baku dan biaya produksi, yang pada akhirnya 1 liter biodiesel harus ditebus dengan Rp20.000. Harga tersebut terlampau jauh, bahkan dari solar Pertamina Dex yang dibanderol Rp13.000-an per liternya. Namun, hal ini harus segera dicarikan solusinya, karena mau tidak mau, saat bahan bakar fosil tidak dapat diandalkan lagi, biodiesel akan sangat dibutuhkan. Budi Leksono sangat berharap, ke depannya biodiesel nyamplung akan menjadi solusi energi bagi Indonesia, bahkan hingga ke limbah produksi pun tidak ada yang terbuang, semua dapat dimanfaatkan dari buah nyamplung ini.


Editor: Paul M Nuh

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Disebut Dukung HTI, Menpora Segera Panggil Adhyaksa

  • Diprotes Imvestor, Presiden Sentil 2 Menteri
  • KPPU: 5 Perusaah Atur Tata Niaga Beras di Sejumlah Provinsi
  • Indonesia Gandeng Azerbaijan Buat Pusat Pelayanan Terpadu

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.