BEC-TF, pendidikan dasar, Jakarta, Hotel Millenium

KBR68H-Indonesia mengalami kemajuan yang sangat besar dalam memastikan anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar mendapatkan pendidikan. Sekitar 96% dari anak-anak berusia 7-12 tahun di seluruh negeri ini dapat bersekolah. Namun, setidaknya 3 juta anak Indonesia yang seharusnya bersekolah tidak bisa menikmati pendidikan. Mereka adalah 600 ribu anak usia sekolah dasar dan 1,9 juta anak usia sekolah menengah pertama.

Banyak sebab mereka tak bisa menikmati bangku sekolah. Mulai dari kondisi geografis, sosial dan budaya bangsa Indonesia yang beragam. Pun tata kelola yang tak baik. Untunglah hadir Program Basic Education Capacity Trust Fund (BEC-TF/Program BEC). Banyak daerah sudah merasakan manfaatnya. Sebut saja Nangrroe Aceh Darussalam, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat dan Papua.

Kepala Bidang Pengawasan dan Pengendalian Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Papua, Samori Ongge menceritakan manfaat penggunaan program BEC-TF di wilayahnya. “Faktor geografis menentukan maju mundurnya pendidikan. Di Papua penduduk terpencar-pencar dengan jumlah yang relatif sedikit. Ini menyulitkan. Untung kita sekarang pakai TRIMS, jadi bisa lebih terdata berapa jumlah siswa, kebutuhan guru dan sarananya,” ceritanya panjang lebar dalam talkshow seputar keberlanjutan peningkatan tata kelola pendidikan dasar  program BEC-TF yang merupakan rangkaian kegiatan Diseminasi Program BEC-TF, di Hotel Millenium Jakarta, Jumat, 15 Maret 2013.

Samori Ongge menjelaskan sejak 2009, lima kabupatan di Provinsi Papua sudah menerapkan program BEC-TF. Kemudian Ditambah 8 kabupaten replikasi yang menerapkan TRIMS dan BOSDA Berformula, TRIMS. “Awalnya Program BEC-TF yang merupakan hibah dari Pemerintah Kerajaan Belanda dan Uni Eropa diterapkan di Jayapura, Nabire, Jayawijaya, Pegunungan Bintang dan Paniai. Karena bagus, kita replikasi ke Kabupaten Kerom, Biak Numfor, Sarmi, Merauke, Yapen Waropen, Timika, Supiori dan Jayapura,” sebut Samori Ongge.

Program yang terbukti bermanfaat tentu harus direplikasi dan berlanjut ke daerah lain. Ini supaya tata kelola, mutu dan kualitas pendidikan dasar menjadi lebih baik. Petra Bodrogoni dari Bank Dunia menyarankan agar setiap daerah mendata dulu apa kebutuhan dan masalah pendidikan dasar yang ada di daerahnya. “Melakukan assesment kebutuhan untuk masing-masing daerah. Yang kita tawarkan bisa jadi menu utama, yang bisa dipilih sendiri, dikombinasi, ditambah atau dikurangi, sesuai dengan kebutuhan yang ada di masing-masing daerah,” ujarnya dalam talkshow tersebut.

Berbicara soal replikasi dan keberlanjutan program BEC-TF, Pengamat Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta Achmad Ridwan punya strategi. Kata dia Sumber Daya Manusia sebagai pelaksana program BEC-TF haruslah dilatih dan dididik. Ini supaya piawai menggunakan perangkat dari program BEC-TF. Baik Itu TRIMS, BOSDA Berformula, SUMS dan Wapik. “Yang terpenting SDMnya. Semua itu kan perangkat, alat jadi ya harus Ini harus dilatih dan didik dalampenggunaan IT, kalau mereka pakainya benar pasti hasilnya juga ada,” ujar Achmad Ridwan. Kepercayaan juga harus dibangun kalau program ini bermanfaat bagi pengguna program  BEC-TF.  Baik itu masyarakat, sekolah, pemda dan gubernurnya. “Program ini postif, bisa untuk transparansi penyelenggaran pendidikan, anggaran BOSDA dan tata kelola,” tambah Achmad Ridwan.

Transparansi dan tata kelola pendidikan dasar inilah yang makin terselenggara dengan baik di Provinsi Papua. Tentunya berkat program TRIMS dan Bosda Berformula. “Mengola data pendidikan, mengenai jumlah siswa, kehadiran siswa, kelengkapan sarana-prasarananya. WC Putra-Putri dan guru.  Data lebih terlihat jelas, simpel daripada program yang lain yang sebelumnya kita pakai. Mudah juga dipahami pengguna. Seperti guru.  Ada grafik dan gambaranya, membaca data pendidikan di Papua jadi lebih mudah,” tutur Samori Ongge.

Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga punya cara untuk memastikan program ini bisa berlanjut dan direplikasi di kab/kota Provinsi Papua. “SK Kepala Dinas, Nomer 188.4/2735 Tahun 2012 mengenai pengolahan data provinsi. Dengan adanya regulasi ini kita akan melebarkan sayap kita untuk penggunaan TRIMS di seluruh kab/kota di Papua. Kami sudah melaksanakan TOT terhadap manejemen dinas. Kita undang mereka ke provinsi, kita undang perwakilan BEC-TF dari Bank Dunia untuk memberikan bimbingan teknis,” ungkap Samori Ongge. Ia melanjutkan bahwa dalam setiap kesempatan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Papua juga menggencarkan sosialisasi tentang manfaat program BEC-TF, khususnya pemanfaatan data dengan aplikasi TRIMS. “Kami selalu selipkan informasi manfaat dan mudahnya penggunaan TRIMS. Jadi mereka akan terbuka untuk program ini,” tambahnya.

Menurut Petra Bodrogoni, memang diperlukan landasan hukum untuk memastikan keberlanjutan prinsip-prinsip peningkatan tata kelola yang diusung program BEC-TF . Bentuknya bisa beragam. “Kalau kita bicara rencana strategis, tentu saja di sana sudah bisa memberikan landasan. Ini biasanya didukung permendikbud, peraturan gubernur, perda atau kebijakan yang lain,” sebutnya.  Namun suara berbeda datang dari Achmad Ridwan, kata dia tak perlu dibuat landasan hukum baru.Pasalnya sudah ada kebijakan yang mengatur soal pendidikan dasar. “Tidak usah ada regulasi lagi lah. Kebanyakan, sudah ada PP No 8 2012. Kesungguhan Pemda untuk melaksanakan program ini jadi kuncinya,” ucapnya. Ia menjelaskan yang dimaksud kesungguhan adalah bagaimana pemerintah daerah setempat. Baik itu dinas pendidikan hingga gubernurnya mendukung pelaksanaan program ini. Caranya bisa dengan membuat rewards system dan juga pelatihan bagi SDM-nya secara terus menerus terkait program yang dipakai dan direplikasi di daerahnya. “Bagi yang melaksanakan program dan berhasil di berikan penghargaan. Dengan sistem tersebut, akan tumbuh minat dan kepercayaan untuk melakukan program tersebut,” tutupnya.


Acara ini terselenggara atas kerjasama KBR68H, Program BEC-TF dan Kemdikbud.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!