Pongki Barata saat ngobrol di studio Yuhu, Selasa (22/3/2016).

Pongki Barata tidak kuat menahan rahasia lama-lama. Setelah disimpan cukup lama, kini setidaknya 1000 orang bisa mengetahui rahasia itu. Ditambah kehadirannya menjadi tamu “Seleb on Radio” Yuhu Pagi (Selasa, 22/03/2016) rahasia itu semakin meluas.  Apalagi ia melengkapinya dengan akustikan.

Pongki yang sudah berkarir musik lebih dari 20 tahun membongkar kisah albumnya yang semula beredar terbatas. Album berjudul “Rahasia” itu mengusung cara penjualan yang unik. Sebelum CD albumnya dibuat, Pongki ingin orang yang membeli albumnya dengan memesannya lebih dahulu (pre order). Pembeli, yang sama sekali tidak mendapat bocoran tentang lagu dan bahkan konsepnya, membayar dimuka Rp80 ribu dan baru bisa mengunduh lagu itu sebulan kemudian. Konsep penjualan ini seperti mencerminkan nama albumnya: “Rahasia.”

Namun, sepertinya penggemar Pongki tak sabar dengan rahasianya.“Jadi orang yang memang pengen mendengar musiknya Pongki harus bayar dulu baru bisa dengar. Tapi banyak yang protes, harus ada CD karena desakan masyarakat, ya sekitar 10-20 orang lah ya (yang mendesak) akhirnya bikinlah CD,“ katanya sambil tertawa.  

Setelah  mencetak 1000 keping CD, Pongki pun bingung, karena ia memang tak  ada niat untuk melakukan promosi album tersebut. Niat awalnya hanya untuk melakukan tes, apakah penggemarnya tetap mau membeli lagu-lagu Pongki walau tanpa ada demo dan bocoran lagu. “Tapi kata isteri saya;  nih CD kalau gak diacarain (dibagikan) saya bakar juga nih, karena  menuh-menuhin rumah. Mau gak mau saya promo di radio dan media untuk promo (jualan) CD. Akhirnya tinggal 200-an lagi nih CD di studio saya,” ujarnya senang.

Album “Rahasia” memang diproduksi terbatas hanya 1000 keping, kalau habis baru Pongki berniat memproduksinya lagi. Ada delapan lagu di dalamnya, lima lagu baru tiga lagu lama.

Vira di Padang Sumatera Barat yang mendengar dan menonton siaran  Yuhu Pagi melalui www.zeemi.tv bertanya tentang Pongki yang jarang tampil di televisi lagi; “Gimana Albumnya? Jarang muncul di TV tapi sudah ngeluarin album saja, nih,” kata dia.

“Album saya sukses. Yang bilang suskes saya sendiri. Kalau jarang tampil di televisi,  TV nya merk apa dulu? Kalau buatan Korea, saya memang jarang tampil di sana. Tapi kalau TV nya buatan Jepang, saya sering muncul,” jawab Pongki sambil bercanda.

Ayah dua  anak ini memang punya selera humor cukup tinggi, namun  ia berubah serius saat membicarakan tugasnya sebagai musisi. “Saya harus bikin karya sekreatif mungkin untuk membalas jasa para penikmat musik yang sudah sekian tahun mendukung karya saya, agar mereka puas. Kedua,  saya harus mengedukasi mereka dengan perubahan zaman kayak sekarang; orang membeli CD sudah tak lazim lagi, kalau iTunes mereka gak punya kartu kredit.  Akhirnya mereka larinya ke free download. Kalau orang kayak saya tutup mata dengan hal seperti ini, maka industri musik akan hancur. Padahal, kalau industrinya maju, kita juga akan menikmati,” kata Pongki panjang lebar dan serius.

Pongki tak mau sendiri menjalankan tugasnya. Pria yang sempat bergabung dengan grup “The Dance Company” ini, juga mengajak teman-teman musisinya agar ikut menjalankan tugas utama yang tengah ia lakukan. Semisal mendidik masyarakat,  dengan memberitahu di mana tempat membeli CD atau mengunduh lagu yang legal. Karena Pongki mengaku, ia sekarang berada pada posisi yang berdampingan dengan generasi yang tidak tahu bahwa mendownload  lagu di situs seperti 4share, misalnya, adalah illegal. “Ini saya lakukan supaya tujuan besarnya ketika anak saya bertambah umur,  dia tahu mana yang salah dan benar dan dia juga bisa menikmati hasilnya,” kata lulusan Fakultas Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta ini.

Nah, kebetulan sekali, saat Pongki dan 4 host Yuhu pagi; Soleh Solihun, Fanny Ghassani, Abdur Arsyad dan Astry Ovie tengah serius membahas hal ini, ada penelpon dari Toli Toli, Dia. Dia mengeluhkan hal serupa; “Kenapa kalau saya download hasil suaranya suka gak bagus?” katanya lugu.

“Apa yang kamu download tergantung dari sumbernya. Kalau sumbernya legal, mestinya bagus. Kalau pake kartu kredit bisa pakei iTunes, dijamin bagus. Atau beli CD nya langsung lewat  penyanyinya melalui  FB (Facebook) dan Instagramnya. Kalau download illegal itu sudah pasti  jelek kualitasnya, dan jelek juga impactnya ke saya. Saya gak dapat uang jadinya, lagian murah minta bagus,” Pongki menjelaskan.

“Masih banyak orang yang gak ngerti soal ini, ya,“ celetuk Soleh Solihun.

“Yang ngerti juga cuek, yang nge-download juga terpelajar,  mahasiswa semua. Tapi ini juga salah kita, salah orang tua kita yang membiarkan kita dari kecil sudah dibisakan untuk meng-copy sesuatu. Misalkan, zaman sekolah dulu ketika harga buku mahal, kita fotocopy. Jadi habit (kebiasaan) itu sudah ada. Padahal fotocopy itu harusnya cuma buat dokumen internal,” kata Pongki  kesal.

Pria yang awal kemunculan di blantika musik Indonesia dikenal sebagai vokalis band Jikustik ini, membuat penasaran pendengar Yuhu di Surabaya, Dinar. “Kangen dengan Pongki yang rame dengan Jikustik dan sekarang sendiri (solo karir), walaupun tetep oke biar pun sendiri,” komentar Dinar.

Mendengar komentar itu, Pria  kelahiran  Pontianak,16 November 1977 ini membongkar rahasianya yang lain. “Menurut saya, saya akan berkembang jika tidak terpatok pada suatu tempat (grup musik), banyak hal yang bisa dilakukan dengan keluar dari Jikustik, salah satunya banyak  proyek  musik yang tidak terhalang lagi.  Karena Jikustik memerlukan komitmen 100 persen, itu kesulitan saya, tidak salah memang,” ungkapnya

Saat obrolan bersama Yuhu Pagi yang berlangsung dua jam itu, Pongki pun membagikan CD Album ‘Rahasia” nya kepada salah satu pendengar di 10 kota yang beruntung. Pendengar dari Bandung, Rizky mendapatkan CD plus tanda tangan Pongki, karena mampu menebak 3 lagu yang dimainkan Pongki.  Setelah itu, pendengar Yuhu Pagi pun dihibur dengan lagu “1000 Tahun Lamanya” langsung dari alunan gitar akustik Pria asal Yogyakarta ini. 


Editor : Vivi Zabkie

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!