Komunitas ASEAN, ASEAN on the move

KBR68H, Jakarta – KBR68H bekerja sama dengan ASEAN Foundation dan PPMN menggelar rangkaian diskusi “ASEAN on the move” pada 25-26 Januari 2014. Tema ASEAN diangkat mengingat tahun depan mulai berlaku Komunitas ASEAN di mana ke-10 negara anggota ASEAN makin membaur dengan menghilangnya “batas negara”. 


PR besar satu kawasan 


Di hari kedua, Kamis (26/2), “ASEAN on the move” hadir dalam bentuk diskusi publik berjudul “ASEAN on the move: challenges and opportunities for the united ASEAN Family”. Ini menjadi bagian dari diskusi publik yang rutin dilakukan program Asia Calling setiap dua tahun sejak program ini mengudara pada 2003. Nara sumber yang dihadirkan adalah Debbie Stothard dari Altsean-Burma, Irene Fernandez dari Tenaganita, Ardian Elkana dari Castle Production, Danny Lee dari ASEAN Secretariat dan Septania Kadir dari ASEAN Foundation. 


Dalam pidato utama yang disampaikan oleh Dirjen Kerjasama ASEAN Kementerian Luar Negeri I Gusti Agung Wesaka Puja, disebutkan bahwa salah satu aspek penting demi mewujudkan Komunitas ASEAN adalah perasaan aman dari seluruh warga ke-10 negara anggota ASEAN. Ini langsung diamini oleh Danny Lee, Direktur Pengembangan Komunitas ASEAN yang mengatakan kalau ada banyak tantangan dalam mewujudkan rasa aman ini. “Tapi dari setiap tantangan, muncul peluang-peluang baru,” katanya. 


Debbie Stothard langsung menghangatkan suasana diskusi dengan menyebutkan beberapa kejadian penting di kawasan yang menunjukkan kalau rasa aman itu belum ada. “Kalau Anda seorang Muslim di Myanmar, Anda tidak aman. Kalau Anda petani di Kamboja, Anda tidak aman,” kata Debbie berapi-api. 


Septania Kadir dari ASEAN Foundation mengingatkan kalau Komunitas ASEAN adalah cita-cita para pendiri ASEAN supaya negara-negara di kawasan bisa lebih dekat satu sama lain sebagai suatu keluarga. Septania bahkan mengeluarkan istilah “ASEANER” untuk merujuk pada mereka yang sudah memiliki identitas sebagai warga ASEAN. 


Irene Fernandez dari Tenaganita mencoba memberi perspektif lain dari pendekatan “people-to-people approach” yang dianut ASEAN. Sebagai LSM yang banyak mengurus kasus yang dialami buruh migran di Malaysia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya, Tenaganita punya banyak catatan soal ini. “Kenapa pemerintah di negara-negara ASEAN begitu lemah dan diam saja ketika ada begitu banyak warga di negaranya yang diperdagangkan?” tanya Irene. 


Ketika ke-10 negara ASEAN  melebur di bawah bendera Komunitas ASEAN, maka negara-negara kawasan menjadi satu pusat produksi juga. Ardian Elkana dari Castle Production tercatat sebagai pengekspor animasi pertama di Indonesia ke Amerika dan Eropa. Menurut Ardian, Indonesia lebih 

dilihat sebagai pasar ketimbang produsen. “Indonesia belum siap,” kata Ardian sembari mengusulkan perlu ada upaya membangun persaingan sehat antara negara-negara ASEAN. 


Di antara beragam tantangan yang dihadapi dalam pembentukan ASEAN, juga kritik terhadap lambannya pemerintah sejumlah negara untuk menyosialisasikan soal gagasan ASEAN, rupanya sudah banyak pergerakan yang dilakukan “di bawah radar”. Menurut Debbie dan Irene, ada banyak LSM yang sudah menjalin kerjasama tingkat regional dan mengerjakaan pekerjaan mereka tanpa menunggu pergerakan pemerintah. 


Survei pada 2012 menunjukkan kalau hanya Singapura, Thailand dan Malaysia yang siap menghadapi Komunitas ASEAN. Konsep “one family” yang diusung ASEAN masih banyak diperdebatkan dengan begitu dinamisnya perkembangan politik, ekonomi dan sosial di tingkat regional. Namun di ujung diskusi disepakati kalau ASEAN adalah sebuah proses yang terus berkembang dengan memperhatikan perbedaan dan dinamika di tiap-tiap negara. 


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!