media dan komunitas ASEAN 2015

Hampir seluruh negara di ASEAN memiliki keragaman etnis dan agama.  Indonesia, Malaysia, Vietnam, Myanmar, Thailand  dan Singapura mewakili negara anggota ASEAN yang memiliki keberagaman agama. Pada satu sisi, keberagamaan tersebut mendukung kehidupan multikulturalisme di negra-negara itu. Di sisi lain,  karena tidak dikelola dan dirawat, keberagamaan dikhianati oleh kelompok yang  menentang perbedaan dan berujung konflik.  Karena itulah media bertugas untuk mendorong  dan menggaungkan pemahaman  tentang keberagaman.  


Sikap media di  kawasan ASEAN dalam menanggapi keberagama dan persoalan yang mengikutinya, berbeda-beda. Sebagian karena media dikekang oleh penguasa negara. Seperti yang dialami  Aye Can dari Democratic Voice of Burma.  


“Selama 20 tahun lalu kami tak ada masalah, kami meliput di semua bagian Negara, semua orang senang dengan laporan-laporan kami. Tapi sekarang situasinya berbeda. Ini karena semua orang sama-sama benci dengan rezim, tapi banyak orang-orang di pemerintahan masih jenderal militer aktif. Mereka masih berkuasa, masih menjalankan pemerintahan. Tapi sekarang jurnalis kami ditakut-takuti saat membuat laporan, dilarang meliput tentang konflik agama. Hmm contohnya terjadi konflik agama di bagian barat Burma, antara Muslim dan Budha, kelompok minoritas Rohingya. Mereka diusir keluar dari negeri kami, kampung-kampunya dibakar tapi ketika kami meliput isu itu, kami diserang,” tutur Aye Can. 


Sementara Sharaad Kuttan, produser radio BFM dari Malaysia mengatakan media harus mampu memberikan pencerahan dalam pemberitaannya.  


“Pada siapa Anda akan bicara tentang ini, Anda tak punya cukup pengetahuan soal itu. Anda juga tak paham konteksnya dan mungkin Anda sebetulnya tak memberikan hak pada saya untuk bicara. Anda tahu. Jadi ada isu tentang akses media. Bagaimana kita menanganinya. Tentu saja, media ASEAN harus menghormati sensitivitas pada perbedaan sistem budaya politik,” kata Sharaad Kuttan dalam salah satu sesi diskusi ASEAN Forum.     


Sementara itu Vivi Trisnawati, Produser Eksekutif Radio Elsinta dari Indonesia mengingatkan pentingnya media agar tidak bersikap provokatif ketika  memberitakan konflik yang timbul akibat perbedaan-perbedaan di masyarakat. 


“Jangan sampai sampai berita yang memprovokasi jika terjadi konflik, memberi solusi, lebih condong ke mediasi. Untuk reportase, itu tergantung pada media dalam mengirim repoter yang dikirim apakah sudah matang, bijaksana dalam menghadapi konflik.  Kalau tidak justru akan menyesatkan, kalau tidak akan lebih menyesatkan,  perbedaan yang di kedepankan. Ketika saya tanya, saya pun berfikir, o ternyata mereka memang tidak paham. Ini harus hati-hati ketika mengirim reporter untuk meliput konflik, harus yang sudah paham,” saran Vivi. 


Dalam diskusi yang dihadiri oleh 20 wartawan regional dari 9 negara ASEAN  isu ini mendapat perhatian serius dan paling banyak mendapat sorotan mengingat banyak kejadian intoleransi. Contohnya pemerintah yang membiarkan kekerasan atas nama agama, penutupan gereja oleh pemerinrtah darerah atau  kekerasan yang terjadi pada kelompok Rohingya di Myanmar. Awak media menyadari pentingnya media menggaungkan kesadaran untuk menerima perbedaan ke publik  untuk menghindari  konflik.  


Informasi ini dipersembahkan oleh KBR68H dan ASEAN Foundation. Pada 25-26 Februari 2014, jurnalis dari 10 negara berkumpul dalam ASEAN Forum di Jakarta untuk membahas dan merumuskan wajah Komunitas ASEAN 2015. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!