media dan komunitas ASEAN 2015

Banyak yang ragu Komunitas ASEAN 2015 bisa terbentuk dalam waktu singkat, bisa menyatukan masyarakat negara-negara anggotanya dalam satu visi dan indentitas. Menurut 

Direktur Eksekutif ASEAN Foundation Elaine Tan, pembentukan komunitas membutuhkan interaksi intensif antar warga tiap Negara, membutuhkan keterlibatan masyarakat sipil, akar rumput atau keterlibatan masyarakat luas dalam prosesnya. Itu sebab, media massa memegang peranan kunci dengan kemampuannya menjangkau masyarakat luas. 


“Media massa dengan menargetkan audiens yang dapat berkontribusi dalam proses membangun komunitas ASEAN. Mereka bisa menyediakan informasi yang bisa membantu masyarakat Asia Tenggara untuk memahami keguyuban dan perbedaan antara warga ASEAN. Ini bisa meningkatkan dorongan perdamaian, keamanan, stabilitas dan pembangunan seperti yang dibayangkan para pemimpin ASEAN. Ini peran media  untuk memperkaya hidup orang-orang ASEAN dengan menyediakan pada mereka pengetahuan tentang keguyuban sekaligus  perbedaan karakter ASEAN,” kata Elain Tan. 


Bagi Direktur Jendral Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, Freddy Tulung, forum ini adalah kesempatan media penyiaran ASEAN untuk bersama menyiapkan konten yang inovatif tentang ASEAN. 


“Saya harap Forum ini bisa memberikan kesempatan kepada para media penyiaran di kawasan ASEAN untuk saling bertukar, berbagi, menerapkan inovasi untuk media ASEAN di masa depan, yang sejalan dengan tantangan dan peluang menyambut 2015, Komunitas ASEAN. Tim ini dipilih berdasarkan pertimbangan tentang bagaimana media penyiaran di ASEAN beragam dari segi budaya, gaya hidup dan agama, menunjukkan perkembangan dinamika pembangunan . Jadi ini tantangan dan membuka peluang perubahan lanskap media,” jelas Freddy. 


Dengan kebutuhan ini, peserta forum diskusi dari Televisi Nasional Kamboja Kem Gunawadh berpendapat  media penyiaran ASEAN harus bisa bekerjasama dan mulai lebih fokus menyajikan pemberitaan seputar kawasan ASEAN.


“Kita perlu mendiskusikan bagaimana cara terbaik bekerjasama sesama media penyiaran di ASEAN. Kita tahu butuh dana untuk membeli berita, tapi kita bisa bekerjasama dengan cara bertukar berita satu sama lain. Misalnya, di Kamboja, Anda bisa berkerjasama dengan CCIM (Cambodian Center for Independent Media),” ujar  Kem Gunawadh dalam sesi diskusi soal media. 


Sementara Direktur Program KBR68H Heru Hendratmoko dalam presentasinya mengingatkan pentingnya media tetap menjaga profesionalitas dan menjaga indepedensi. 


KBR68H adalah salah satu media yang telah memiliki program berita lintas negara ASEAN bernama Asia Calling. Berdasarkan pengalaman, menyajikan berita lintas negara, kata Heru, media juga harus memiliki perspektif lintas batas. 


“Kami tidak hanya mempertimbangkan nilai berita, seperti standar dalam jurnalisme, tapi juga perspektif yang lintas batas, sudut pandang ASEAN. Meskipun saya tidak terlalu jelas dengan perspektif ASEAN seperti apa, tapi kami tahu, apapun berita yang kami siarkan dalam program Asia Calling, berita itu mesti mempertimbangkan masyarakat di Myanmar, orang-orang di negara lain. Harus memahami, apa yang mereka tonton, apa yang mereka dengarkan,” cerita Heru. 


Jurnalis pada acara ASEAN Forum ini  bersepakat bersikap professional. Jika bisa profesional maka cerita sensitif soal kekerasan atau pelanggaran HAM yang kerap terjadi kawasan ini bisa disampaikan kepada publik dengan lebih baik. Akurasi, berita yang seimbang, itu kuncinya!


Informasi ini dipersembahkan oleh KBR68H dan ASEAN Foundation. Pada 25-26 Februari 2014, jurnalis dari 10 negara berkumpul dalam ASEAN Forum di Jakarta untuk membahas dan merumuskan wajah Komunitas ASEAN 2015.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!