media dan komunitas ASEAN 2015

Kondisi media massa khususnya penyiaran di masing-masing negara ASEAN sangat berbeda. Misalkan saja dari kepemilikan media. Ada yang negara yang sepenuhnya dimiliki pemerintah seperti di Brunei Darussalam, ada yang sangat bebas sehingga swasta berperan sangat besar seperti di Filipina. 


Perbedaan kebijakan pengelolaan media akan jadi PR saat Komunitas ASEAN terbentuk. Peserta ASEAN Forum membayangkan, kepemilikan media akan lintas batas pada 2015. 


Direktur Utama KBR68H Tosca Santoso mengatakan, itu mulai terjadi. 


“Tapi saya kira pemilik modal akan menemukan cara, mereka akan mencari solusinya. Contohnya diperbatasan, perbatasan-perbatasan Indonesia, 1 atau 2 stasiun radio sudah mendapat investasi dari Singapura. Karena mereka sangat dekat, pendengarnya, dan mereka dapat memantaunya, mereka bisa memantau jalannya bisnis. Jadi saya dengar itu terjadi. Dan di Indonesia, terutama televisi, dengan sistem kekuasaan, banyak stasiun televisi yang sudah beralih ke asing, mendapat investasi asing seperti SCTV,” ujar Tosca. 


Pada masa lalu perbincangan media yang lintas batas mempersoalkan aturan tentang batasan pancaran radio gelombang pendek dan pengaturan konten. Tapi pada era globalisai tidak lagi menurut para jurnalis ASEAN.  Ini karena kehadiran TV kabel. 


Terapatt Vannaruemol dari FM 100 Thailand dan sejumlah jurnalis penyiaran Asean Forum melihat persoalan perbedaan bahasa yang akan jadi ganjalan. 


Terapatt menceritakan pengalamannya saat memproduksi program berita lintas negara Asia Calling bersama KBR68H. “Setelah kami bicarakan, mengapa kami hanya menggunakan program itu. Mengapa tidak kami produksi cerita untuk Asia Calling. Jadi kami ikut workshop. Kami hanya punya 1 koresponden, koresponden Thai, Kannikar Petchkaew, yang mengirimkan laporan dan bekerja dengan Rebecca Henschke dan Citra Dyah Prastuti (editor Asia Calling, red). Saya pikir ini perubahan besar dan kami mendorong reporter-reporter kami untuk melakukan lebih. Tidak hanya Kannikar, mungkin Kannikar kedua, ketiga atau sejenisnya. Tapi kendalanya bahasa, sangat sulit mencari reporter yang bagus yang bisa berbicara bahasa Inggris,” kata Terapatt. 


Itu sebab menurut Isadhora Mohamed dari Media Corps Singapura, saatnya memikirkan upaya mendidik penguasaan bahasa para calon jurnalis penyiaran. Dan mendidik mereka untuk berpikir lintas batas. 


“Saya merasa kita beranjak ke pasca ASEAN 2015 juga harus memperluas dengan mempelajari bahasa ASEAN khususnya untuk orang di media karena contohnya, dalam kehidupan sosial kita terbiasa mengambil bahasa satu sama lain bukan? Dan itu akan jadi sesuatu kekuatan yang luar biasa untuk masa depan para awak penyiaran untuk bisa berbahasa 3 atau 4 bahasa,” jelas Isadora dalam diskusi hari pertama Asean Forum.    


Ia juga berharap negara ASEAN bisa bekerjasama untuk berbagi konten berita. Ishadora dari 938LIVE Media Corps Singapura membayangkan ada semacam fasilitas cloud computing seperti Dropbox yang mempertemukan semua program penyiaran. Lalu akses yang mudah, semudah Google, katanya membayangkan. 


Semua awak penyiaran ini bersepakat, semua bisa teratasi dengan kerjasama. Beberapa mencontohkan soal pembuatan program yang lintas bahasa seperti sinetron yang menggambarkan dan melibatkan pemain lintas bahasa dan negara. 


Informasi ini dipersembahkan oleh KBR68H dan ASEAN Foundation. Pada 25-26 Februari 2014, jurnalis dari 10 negara berkumpul dalam ASEAN Forum di Jakarta untuk membahas dan merumuskan wajah Komunitas ASEAN 2015. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!