media dan komunitas ASEAN 2015

Sebulan terakhir tak ada satu pun berita soal komunitas ASEAN muncul dalam pemberitaan Televisi Vietnam. Lalu jurnalis TV pemerintah Vietnam Nguyen Thu Ha mencoba mengadakan survey kecil-kecilan. 


“Saya bertanya kepada 20 reporter, 20 staff departemen kami, apakah mereka bisa menyebutkan berita jenis apa, maksud saya berita apa yang terdapat dalam dalam daftarmu, dalam daftar berita besarmu. Tak satupun menyebut soal tema ASEAN. Mungkin soal kerusuhan di Thailand, tapi bukan tema ASEAN. 15 dari 20 tak tahu soal ASEAN 2015,” cerita Thu Ha.


Kata Thu Ha, jurnalis cenderung lebih tertarik pada Eropa dan Amerika ketimbang berita dari negeri tetangga. 


Tantangan  bagi media ASEAN adalah menyediakan berita yang lebih menarik untuk masuk ke isu komunitas ASEAN. Itu sebab Nimfa Ravelo dari Filipina menyarankan jurnalis ASEAN Forum menemukan tema yang menyentuh masalah bersama seperti perdagangan manusia yang dialami semua Negara ASEAN. 


Tapi bagi perwakilan Indonesia, Direktur Pemberitaan RRI Kabul Budiono, media penyiaran bisa menciptakan jaringan kerjasama tak melulu lewat program berita. Ia mencontohkan program berbalas pantun  yang dibuat oleh RRI dengan mitra di perbatasan. 


“Sebagai contoh kami punya stasiun lokal di utara Kalimantan barat, Entikong. Entikong punya kerjasama lintas batas dengan stasiun radio local di Kuching. Kami punay dua program, kami sebut Berbalas Pantun, pro bertukar puisi. Kami juga punya program off air. RRI datang ke Kuching, dan Kuching datang ke Pontianak dan kami menggelar pertunjukan bersama,” kata Kabul dalam diskusi tentang wajah redaksi ASEAN 2015.  


Sedang untuk berita, Kabul mengusulkan pembentukan redaksi bersama yang menyatukan media Negara ASEAN untuk bertukar berita. Perlu membuat sebuah situs internet yang bisa dipakai bersama untuk mengirim dan mengambil berita, kata Kabul. 


Sedang Soe Myint dari Mizzima Media, Myanmar sependapat, selain topik harus menarik, juga harus menyatukan warga komunitas ASEAN. 


“Kita harus menemukan tema menarik yang harus dilaporkan. Jadi dengan itu kita bisa menggapai pembaca, meraih penonton, sekaligus kita bisa menyatukan satu sama lain. Kita coba temukan tema menarik, cerita menarik. Misal And abaca soal kopui. Jadi kopi, beras, ada komunitas di sana.  Kita bisa mencari tema menarik untuk tiap audiens,” ujar Soe Myint. 


Tapi jauh sebelum menemukan topik yang menarik Soe Myint menyatakan kebutuhan akan peningkatan kapasitas para jurnalis, ini karena negaranya baru saja menikmati kebebasan pers. 


Beberapa jurnalis ragu tentang kesiapan pemerintah di Negara ASEAN yang kerap menganggap pemberitaan media dari Negara lain sebagai bentuk intervensi. Jurnalis dalam ASEAN Forum juga  mempertanyakan soal pengetahuan jurnalis tentang kawasan. 


Asep Setiawan, dari televisi Indonesia, Metro TV mengajak jurnalis ASEAN memulai dengan langkah informal. Dengan berkumpul dalam ASEAN FORUM yang difasilitasi KBR68H dan ASEAN Foundation, maka tiap jurnalis mulai menciptakan jaringan. Lalu bersama mulai menciptakan pengertian bersama untuk bersiap menghadapi pembentukan Komunitas ASEAN 2015. 


Informasi ini dipersembahkan oleh KBR68H dan ASEAN Foundation. Pada 25-26 Februari 2014, jurnalis dari 10 negara berkumpul dalam ASEAN Forum di Jakarta untuk membahas dan merumuskan wajah Komunitas ASEAN 2015. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!