Peta Toleransi KBR

Peta Toleransi KBR

Indonesia adalah negeri yang kaya perbedaan. Kita semua tahu itu, tapi tak semua orang bisa hidup dengan tenang dan damai dengan kenyataan ini. 

Laporan Setara Insitute yang dirilis pertengahan Januari 2016 menyebutkan bahwa ada peningkatan pelanggaran terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan sepanjang 2015. Selama 2015 ada 197 peristiwa pelanggaran dan 236 bentuk tindakan. Beberapa daerah masih memegang 'sabuk juara' sebagai tempat paling banyak terjadi pelanggaran terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan - salah satunya adalah Jawa Barat. 

Isu toleransi termasuk salah satu fokus penting yang digarap sejak KBR berdiri pada 1999. Dalam perjalanannya pun, KBR mengalami sejumlah tantangan atas sikap ini - mulai dari ancaman serangan dari kelompok radikal pada 2005 sampai bom buku yang meledak di halaman kantor kami pada tahun 2011. 

Dalam menyusun dan menyiapkan Peta Toleransi KBR ini, kami tidak membatasi diri hanya pada persoalan toleransi agama saja, tapi juga toleransi yang lebih luas: penghargaan terhadap perbedaan. Dan agama, bukan satu-satunya faktor "pembeda" itu. Ada hal lain seperti seksualitas dan disabilitas yang seringkali jadi pemicu. "Berbeda" yang seharusnya biasa-biasa saja, seringkali jadi tak biasa di negeri ini. 

Anda bisa menikmati Peta Toleransi lengkap dengan tautan ke berita terkait di sini . 

Selain itu, untuk versi peta yang lebih interaktif, Anda juga bisa melihat peta sesuai nama kota tempat peristiwa terjadi... 

atau berdasarkan kategori jenis kasus yang terjadi. 

  

Peta Toleransi ini adalah ikhtiar kami merawat Indonesia, sebuah negeri yang kaya akan perbedaan. Sekaligus juga pengingat bahwa perbedaan seringkali memicu pertikaian, konflik, pengusiran, pengucilan, kekerasan, dan banyak hal lainnya yang semestinya tak perlu terjadi. Dunia sudah memastikan negara menjamin supaya mereka yang dianggap berbeda tetap dilindungi sesuai Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pada 10 Desember 1948. Di dalam negeri, Presiden pertama Indonesia, Soekarno, juga sudah mengingatkan soal ini.


Mari kita sama-sama menjaga Indonesia yang beragam. Karena perbedaan itu adalah kekayaan kita. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!