Adopsi Pohon Untuk Hidup yang Lebih Hijau di India

Penebangan hutan dalam skala besar telah menjadi masalah lingkungan utama di India selama beberapa dekade.

Selasa, 27 Des 2016 09:12 WIB

India tengah giat melakukan kampanye Adopsi Pohon. (Foto: Bismillah Geelani)

India tengah giat melakukan kampanye Adopsi Pohon. (Foto: Bismillah Geelani)


Penebangan hutan dalam skala besar telah menjadi masalah lingkungan utama di India selama beberapa dekade.

Pemerintah berupaya mengatasi masalah ini lewat upaya penanaman pohon besar-besaran. Tapi sayangnya inisiatif ini timbul tenggelam tanpa memberi dampak yang signifikan. 

Kini sedang berlangsung kampanye nasional untuk mengajak masyarakat mengadopsi pohon. Dan seperti yang dilaporkan Bismillah Geelani, kampanye ini mendapat perhatian besar. 

Dokter Satish Agarwal, 60 tahun, dikelilingi sekelompok pasien di luar kliniknya di Negara Bagian Uttar Pradesh.

Dia membagi-bagikan formulir untuk ditandatangani sebelum memberikan sepasang anakan pohon kepada para pasien. Satu untuk ditanam di sepanjang jalan satu lagi dibawa pulang.

Formulir yang ditandatangani pasien itu bukanlah persetujuan untuk melakukan prosedur medis melainkan kesepakatan untuk mengadopsi pohon.

Agarwal ingat bagaimana salah seorang pasien membuatnya menandatangani formulir yang sama beberapa bulan yang lalu. Dan itu mengubahnya menjadi pegiat lingkungan.

“Saya bekerja sebagai dokter sepanjang waktu dan tidak peduli dengan hal lain. Kemudian orang ini datang dan berkata, dokter! Mengapa Anda tidak mengadopsi pohon? Sambil bercanda saya bertanya mengapa orang harus mengadopsi pohon? tanya Agarwal.”

“Dia kemudian bercerita tentang degradasi lingkungan dan betapa pentingnya pohon untuk masa depan kita. Dia benar-benar meyakinkan dan mengubah saya. Sekarang saya mencoba melakukan bagian saya.”

Ratusan kilometer di selatan kota Bangaluru, Radhika, 30 tahun, sedang merawat pohon di pinggir jalan. Dia lebih suka pohon yang dewasa daripada yang masih kecil.

”Banyak orang lebih fokus pada menanam pohon baru dan merawat mereka. Tapi menurut saya, merawat pohon-pohon tua jauh lebih penting karena mereka lebih butuh perhatian. Mengadopsi pohon dan hanya mengurus satu pohon pada satu waktu adalah inisiatif yang luar biasa,” tutur Radhika.

Kampanye Adopsi Pohon menarik relawan dari berbagai bagian negara.

Beberapa tahun lalu, World Wide Fund for Nature atau WWF, memulai kampanye untuk mengembalikan dan melestarikan pohon-pohon yang berada di bawah ancaman pembangunan terus-menerus.

“Kita kehilangan banyak ruang hijau di kota-kota seluruh negeri. Jadi daripada hanya menanam jenis pohon apa saja, adopsi pohon akan merawat pohon yang merupakan spesies asli suatu tempat. Ini akan membuat hijau suatu daerah dengan jenis pohon yang menjadi ciri khas dan penting untuk suatu daerah itu,” jelas Rituperna Sengupta, manager kampanye itu.

Tapi ini bukan sekedar latihan menanam pohon kata Sengupta.

“Kami menjangkau perusahaan, sekolah, perguruan tinggi, individu dan orang-orang agar mereka bertanggung jawab pada pohon yang mereka tanam. Ini berarti kami benar-benar mendokumentasikan semua orang yang mengadopsi pohon muda agar kami bisa melacak perkembangannya.”

Sebuah studi terbaru yang dilakukan Institut Teknologi India di Mumbai menemukan deforestasi skala besar menyebabkan gangguan dalam pola curah hujan dan memicu kekeringan.

Studi ini memperingatkan situasi akan memburuk jika deforestasi terus berada pada tingkat seperti saat ini.

Pada KTT Iklim Paris tahun lalu, pemerintah berjanji untuk meningkatkan jumlah hutan mencapai 20 hingga 30 persen dari total wilayah geografis negara.

Untuk memenuhi komitmen ini, serangkaian kampanye penanaman pohon telah diluncurkan di seluruh negeri.

Pada Juli tahun ini, negara bagian utara Uttar Pradesh menciptakan rekor dunia dengan menanam lima juta pohon dalam satu hari.

Tapi tidak diketahui nasib pohon-pohon itu setelah ditanam.

Itu sebabnya Sengupta dari WWF India percaya kampanye jangka panjang seperti Mengadopsi sebuah Pohon, berpotensi membuat perbedaan.

”Kami melihat dari berbagai kampanye kalau masyarakat makin sadar akan isu-isu lingkungan di sekitarnya. Jadi mereka ingin melakukan sesuatu yang sederhana tapi berdampak. Setelah menanam dan merawat pohon, mereka juga akan melakukan hal-hal kecil lain, misalnya menghemat air dan energi. Karena ini membangun rasa keterlibatan,” kata Sengupta.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!