Pembangkit RO Ubah Kehidupan di Gurun Thar Pakistan

Di Gurun Thar, hidup adalah perjuangan terus-menerus untuk mendapatkan air.

Senin, 07 Nov 2016 10:41 WIB

Pancho Devi sedang mengambil air di sumur Marvi di Gurun Thar, Pakistan. (Foto: Naeem Sahoutara)

Pancho Devi sedang mengambil air di sumur Marvi di Gurun Thar, Pakistan. (Foto: Naeem Sahoutara)

Di Gurun Thar, hidup adalah perjuangan terus-menerus untuk mendapatkan air. Gurun ini membentang di sepanjang subbenua India.

Setelah hampir satu dekade mengalami kekeringan, pemerintah menaruh harapan pada strategi baru yang unik - pembangkit reverse osmosis.

Koresponden Asia Calling KBR, Naeem Sahoutara, mengunjungi Gurun Thar untuk mengetahui lebih lanjut.

Lagu melankolis ini bercerita tentang penderitaan seorang gadis muda dan cantik yang hidup di Gurun Thar.

Lagu ini merupakan cerita rakyat tentang seorang perempuan muda bernama Marvi Maraich.

Suatu hari Marvi pergi untuk mengambil air dari sumur tapi dia diculik Raja Umer Soomro, yang berkuasa, yang ingin menikahinya. Cerita itu mungkin hanya mitos, tapi sumur itu benar-benar ada.

Saya di sini bersama Pancho Devi, di suatu sore yang terik di padang gurun. Dia membawa saya ke sumur bersejarah itu, sumur Marvi.

Sambil menggendong anaknya, Pancho membawa kendi tanah di kepalanya, saat dia berjalan bertelanjang kaki melewati pasir panas.

Setiap hari, dia melakukan perjalanan sejauh 500 meter ini beberapa kali. Dia mengambil air untuk kebutuhan rumah tangga dan minum kambingnya.

Pancho menarik tali panjang, yang terikat pada panci besi berkarat, untuk menimba air dari sumur.

Butuh waktu 20 menit untuk mengisi kendi air berukuran delapan liter. Tapi air yang muncul hitam dan penuh dengan kotoran.


“Saya mengambil air dari sumur Marvi karena tidak ada sumber air lain. Tapi air di sumur ini juga semakin kotor. Tidak ada sumber air minum lain, jadi saya mengambilnya dari sumur dua kali sehari,” tutur Pancho.

Ini adalah gurun subtropis kesembilan terbesar di dunia, yang membentang sepanjang 320 ribu kilometer antara India dan Pakistan.

Di bagian gurun yang masuk wilayah selatan Pakistan, air bawah tanah adalah satu-satunya sumber kehidupan di wilayah gersang itu. Air bawah tanah ini punya kadar garam yang tinggi dan hampir tidak layak untuk dikonsumsi.

Tapi di sini tidak ada banyak pilihan. Pancho hampir tidak ingat kapan terakhir kali hujan turun.

“Tidak ada hujan tahun lalu. Bahkan hujan sudah tidak turun selama bertahun-tahun. Karena itu tidak ada air untuk tanaman dan kami harus menunggu berhari-hari untuk mandi,” kisah Pancho Devi.

Di dalam gubuk kecil tradisional ini Pancho tinggal bersama keluarganya. Anaknya yang berusia dua tahun Moor Chand sedang menangis.

Dia tahu anaknya sedang sakit dan lapar. Tapi dia terlalu lemah untuk menyusui Moor. 

Daerah ini adalah salah satu daerah dengan tingkat gizi buruk tertinggi di dunia. Dalam dua tahun terakhir, dua ribu orang di wilayah ini meninggal karena penyakit yang ditularkan melalui air. Diantaranya 350 anak mengalami kurang gizi.


Untuk mengatasi kekeringan, pemerintah telah meluncurkan mega-proyek 150 pembangkit reverse osmosis untuk menyediakan air minum bersih.

Reverse osmosis atau RO adalah proses dimana padatan anorganik seperti garam, larut dan terpisah dari air agar aman untuk diminum.

Di Gurun Thar ada 150 pembangkit RO kecil yang dipasang di desa-desa yang terpencil.

Setiap pembangkit, yang pada dasarnya berupa gudang kecil dengan pompa yang menyedot air tanah, bisa menghilangkan garam dari 100 ribu galon air per hari.

Penduduk desa seperti Lal Bai, 45 tahun, mengatakan pembangkit ini telah mengubah hidup mereka.

“Saya mengalami masalah air sepanjang hidup saya. Sebelumnya, saya mengambil air dari sumur di daerah yang jauh. Tapi air itu rasanya asin. Tapi sekarang kami tidak kekurangan air lagi. Air ini rasanya manis dan enak. Semua orang di desa ini sangat bahagia,” kisah Lal Bai.

Selain menyediakan air yang layak untuk diminum, sejak ada pembangkit itu, Lal mengaku bisa mandi dua kali sehari jika dia mau.

Hewan-hewan juga ikut senang. Terakhir kali saya mengunjungi daerah ini dua tahun lalu, padang pasir dipenuhi kerangka hewan mati dan orang-orang yang bermigrasi ke kota-kota.

Ratan Lal adalah salah satunya. Dia pindah ke Karachi untuk mencari pekerjaan. Tapi sejak ada pembangkit RO, dia kembali ke gurun.

Dia mengaku sulit menjadi pemeluk Hindu di kota Karachi yang mayoritas Muslim dan selain itu sekarang air lebih mudah tersedia di Thar.

“Pembangkit RO telah mengubah hidup kami. Tapi banyak yang dibangun di atas tanah milik politisi dan orang-orang yang punya koneksi. Sehingga mereka bisa mengunci dan membuka tempat itu kapan pun mereka mau. Jika itu terjadi, warga desa terpaksa harus kembali ke sumur-sumur,” kata Ratan Lal.

Tapi pembangkit RO belum ada di semua tempat, termasuk di desa Pancho.

Hidup di Gurun Thar adalah perjuangan terus-menerus untuk mendapatkan air ...

Banyak sumur seperti sumur Marvi akan terus melayani generasi di masa depan.

 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Demi Kesetaraan, Kemenhub Berkeras Batasi Tarif Taksi Online

  • Kasus Hakim Praperadilan Setnov Segera Masuk Sidang Panel KY
  • Kasus Pribumi, Polri Masih Kaji Laporan terhadap Anies Baswedan
  • Pernikahan Usia Anak di NTB Masih Tinggi