Biawak air berada di bawah ancaman di Bangkok (Foto: Kannikar Petchkaew)

Biawak air berada di bawah ancaman di Bangkok (Foto: Kannikar Petchkaew)

Para peneliti mengatakan biawak air adalah salah satu makhluk yang paling merasakan dampak perubahan iklim. 

Seperti reptil lainnya, mereka sangat sensitif terhadap pemanasan global. Mereka mengatur suhu tubuh dengan berjemur di bawah sinar matahari dan mendinginkan diri di tempat teduh.

Diperkirakan ada sekitar 20 persen dari semua spesies kadal ini akan punah dalam 60 tahun ke depan.

Dan seiring pembangunan yang melanggar batas habitat alami biawak membuat mereka makin sulit bertahan hidup. Selain itu di Thailand, biawak secara tradisional dianggap membawa nasib sial.

Kita simak laporan koresponden Asia Calling KBR, Kannikar Petchkaew, dari Bangkok berikut ini.

Ini pagi yang tenang di Taman Lumpini, taman publik terbesar di Bangkok.

Taman yang rindang dengan kolam-kolam ini luasnya lebih dari 56 hektar. Ini adalah sebuah oase di tengah-tengah hutan beton, tempat beristirahat dari panasnya kota. 

Di sini warga bisa jogging, berjalan-jalan dan berbaring dengan nyaman di atas rumput hijau.

Tapi ada beberapa kegiatan yang tidak biasa pagi ini.

Puluhan pria berlari membawa tali, jaring dan tongkat di tangan. Mereka membuang ikan segar di tanah, mencoba untuk menggoda biawak keluar dari tempat persembunyian mereka.

Setelah beberapa jam mengejar dan memburu, mereka berhasil menangkap sekitar 30 ekor biawak. Mereka melemparkan karung coklat yang sudah diikat kuat ke belakang truk yang menunggu dan pergi.


Nipon sudah lama mengunjungi taman ini. Dia menyaksikan aksi penangkapan itu dan dia sangat marah.

“Kenapa mereka melakukannya pada hewan-hewan itu? Mereka hidup damai di sini. Dan lihat, cara mereka mengikat leher biawak-biawak itu dan menyeret mereka. Mereka tidak pernah menyakiti siapa pun,” protes Nipon.

Meski Nipon suka melihat biawak-biawak ini di taman, tidak halnya dengan yang lain. 

Beberapa orang Thailand percaya biawak membawa nasib buruk dan banyak orang yang takut melihat mereka. 

Tapi ini sebenarnya tidak terlalu mengherankan. 


Biawak-biawak yang ada di sini panjangnya bisa mencapai tiga meter, berkulit coklat dan kasar serta berlidah merah panjang. 

Itulah mengapa beberapa pengunjung taman mulai mengeluh kepada pihak berwenang.

Suwanna bekerja di Departemen Lingkungan Bangkok dan dialah yang bertanggung jawab atas penangkapan itu. Dia menegaskan mereka harus mengambil langkah-langkah serius untuk mengendalikan populasi biawak.

“Saya mengerti kalau mereka tidak akan membahayakan orang-orang tapi mereka merugikan lingkungan. Mereka merusak taman kami yang bagus termasuk kolam-kolam,” keluh Suwanna.

Tapi ada banyak beda pendapat soal upaya kota mengontrol populasi biawak. 

Biawak air merupakan spesies langka sehingga pemerintah harus berhati-hati dalam mengendalikan jumlah mereka di taman kota.

Teunjai Nutdamrong adalah spesialis satwa liar. Dia setuju populasi kadal perlu dikontrol tapi menurutnya departemen lingkungan kota bertindak terlalu keras.

“Jika kita bisa menemukan dua atau tiga tempat mereka bertelur, kita bisa mengontrol ratusan biawak. Tapi bila hanya menyingkirkan mereka, itu tidak akan membantu,” jelasnya.

Tapi Suwanna tidak setuju. “Mereka bisa hidup di habitat alamiah tapi harus dikontrol. Saya tidak yakin kita bisa melakukannya secara efisien jika kita hanya mengendalikan telur-telur mereka.”


Diperkirakan ada sekitar 400 biawak air hidup di taman itu untuk waktu yang lama. 

Tiga puluh ekor biawak yang ditangkap pagi ini dibawa ke ke pusat rehabilitasi satwa liar yang berjarak 100 kilometer jauhnya dari Taman Lumpini. Tempat ini bukanlah lingkungan yang ideal untuk biawak.

Dan akibat suasana kacau karena penangkapan itu, banyak biawak yang melarikan diri dan masuk kota. Dikhawatirkan banyak yang terbunuh akibat tertabrak kendaraan atau tidak bisa bertahan lingkungan yang keras.

Bangkok dulunya adalah sebuah desa rawa di mulut sungai Chao Phraya dan merupakan habitat alami untuk biawak air dan reptil lainnya.

Tapi seiring perkembangan kota, jalan beton dan aspal, mengubah kota ini menjadi hutan kota, menghancurkan lingkungan alami biawak. Hewan-hewan itu kemudian bertahan hidup dengan mencari perlindungan di daerah teduh di mana mereka bisa melindungi diri dari panas.

Satu jam perjalanan dari Taman Lumpini, di Universitas Silpalkorn, Mu dan Huang sedang memberi makan biawak air yang sedang berenang di kolam. Mereka datang ke sini setiap hari dan bahkan memberi nama biawak-biawak itu.

”Kadang-kadang tujuh dari mereka akan memanjat ke sini. Kadang-kadang tiga atau empat. Tergantung. Saat tengah hari ketika orang sedang makan siang, para biawak itu tahu dan mereka akan datang untuk mencari makanan,” cerita Huang.

Huang telah melihat biawak air sejak dia mulai bekerja di sini 20 tahun yang lalu.

“Saya akan merasa aneh jika tidak melihat mereka setiap hari. Saya akan bertanya pada orang-orang , kemana mereka? Saya membawa tulang ayam untuk mereka dan jika mereka tidak datang untuk mengambilnya, saya akan merindukan mereka.”

Huang melihat biawak sebagai teman, begitu pula Mu. Dia mengaku tidak masalah dengan jumlah biawak yang ada di sini.

“Kami sudah hidup bersama selama beberapa dekade. Jumlah mereka tidak melebihi kami. Mereka tersebar di seluruh kampus. Kami tidak merasa terancam dengan jumlah biawak yang ada,” kata Mu.

“Di masa lalu, mereka tinggal di kanal dan hutan bakau, mencari ikan dengan cara yang alami. Sekarang kita hidup di tempat mereka, jadi tidak mengherankan kalau mereka akan mendatangi kita,” tutur Huang.

Kembali di Taman Lumpini. Para pejalan kaki dan pelari beraktivitas seperti biasa. Hanya sekarang, mereka melihat lebih sedikit biawak air dari sebelumnya.


Tapi biawak air sudah menjadi spesies langka yang dilindungi hukum Thailand. 

Keprihatinannya adalah jika mereka disingkirkan dan telur-telur mereka dihancurkan oleh otoritas, mungkin pada akhirnya mereka akan punah.

Jadi bila masyarakat sedang berupaya bertahan hidup di kota Bangkok yang kacau ini ... begitu pula biawak air di Taman Lumpini.

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!