Polisi Selidiki Selebaran Homofobia di Pertandingan West Ham vs Chelsea

Selebaran itu bertuliskan lirik yel-yel yang isinya menyerang kapten Chelsea John Terry. Di sana juga tertulis kata-kata kasar kepada Dimitri Payet, pesepakbola West Ham yang dikabarkan seorang gay.

Jumat, 28 Okt 2016 11:02 WIB

Selebaran bernada homofobia di Stadion London, menjelang pertandingan West Ham vs Chelsea, Selasa (25/10/2016). (Foto: Twitter)

KBR - Kepolisian Metropolitan London bakal menyelidiki kasus selebaran bernada homofobia yang disebar di London Stadium, markas klub West Ham United.

Selebaran itu disebar fans West Ham di luar stadion, sebelum dimulainya pertandingan antara klub sepakbola West Ham United melawan Chelsea FC di kompetisi Piala Liga. Pertandingan itu berakhir dengan kemenangan West Ham dengan skor 2-1.

Selebaran itu bertuliskan lirik yel-yel atau nyanyian yang isinya menyerang kapten Chelsea John Terry. Di sana juga tertulis kata-kata kasar kepada Dimitri Payet, pesepakbola West Ham yang dikabarkan seorang homoseksual. Lirik itu kemudian diubah dan ganti ditujukan untuk menyerang John Terry. Selebaran itu kemudian menyebar melalui media sosial.

Polisi Metro London sebelumnya bekerja keras menengahi bentrok antara fans West Ham dengan pendukung Chelsea, menjelang akhir-akhir pertandingan. Saat menyelidiki penyebab bentrokan, polisi menemukan selebaran bernada homofobia itu.

Baca: Menang Tapi Rusuh, Manajer West Ham Kecam Fans

Karena itu polisi akan memasukkan menyelidiki selebaran itu sebagai bagian dari investigasi kerusuhan. Homofobia merupakan tindakan yang melecehkan menghina atau berpandangan negatif terhadap homoseksualitas.

Klub West Ham United menyesalkan kisruh antarsuporter dan munculnya selebaran tersebut.

"Bekerjasama dengan Kepolisian Metro, klub akan menyelidiki kasus penyebaran selebaran itu, dan akan memberikan tindakan terkeras kami terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab," begitu pernyataan resmi West Ham.

Klub West Ham menegaskan mereka akan bersungguh-sungguh memerangi segala bentuk diskriminasi di dunia sepakbola, termasuk pesepakbola yang berorientasi homoseksual.

Tidak diketahui apakah lirik di selebaran itu benar-benar dinyanyikan atau diteriakkan oleh suporter West Ham atau tidak. Sejumlah orang yang berada di stadion itu mengaku tidak mendengar teriakan yel-yel seperti yang tertulis di selebaran.

Meski begitu, orang-orang yang tertangkap membawa selebaran itu akan dikenai tuntutan hukum dan larangan menonton di stadion.

Beredarnya selebaran di London Stadium itu bertepatan dengan pengumuman hasil survei yang dilakukan BBC Radio Five Live terhadap 4000 fans sepakbola di seluruh Inggris, Wales dan Skotlandia.

Dari hasil survei itu, terungkap delapan persen dari suporter sepakbola akan berhenti medukung klubnya jika ada pemain yang ternyata gay. Setengah dari jumlah responden juga menyatakan kerap mendengarkan kata-kata penghinaan bernada homofobia di pertandingan sepakbola.

Sebuah gerakan antidiskriminasi bernama Kick It Out menyebutkan ada peningkatan 200 persen insiden homofobia selama pertandingan sepakbola di Ingris dalam tiga musim terakhir. (Soccerway/Evening Standard/Dailymail) 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Indonesia masih menghadapi masalah jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Pertambahan jumlah penduduk tidak seimbang dengan pertumbuhan kesempatan kerja.