Peraih Medali Paralympic 2016 Itu Tetap Berpikir untuk Bunuh Diri

Marieke sempat berkeinginan untuk euthanasia karena tidak kuat menahan rasa sakit fisik yang amat sangat. Surat euthanasia sudah ia tandatangani pada 2008 lalu.

Senin, 12 Sep 2016 17:18 WIB

Atlet balap kursi roda asal Belgia, Marieke Vervoort saat mengikuti Paralympics 2012 di London Inggris. (Foto: Youtube)

KBR - Atlet paralympic asal Belgia, Marieke Vervoort masih mempertimbangkan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara euthanasia.

Marieke baru saja meraih medali perak di ajang paralympic---lomba olimpiade untuk atlet penyandang disabilitas---di Rio de Janeiro, Brazil. Marieke meraih posisi dua dalam lomba balap kursi roda 400 meter.

Marieke sempat berkeinginan untuk euthanasia karena tidak kuat menahan rasa sakit fisik yang amat sangat. Surat euthanasia sudah ia tandatangani pada 2008 lalu. Belgia merupakan salah satu negara, selain Belanda dan Luxemburg, yang melegalkan euthanasia.

"Saya punya surat (izin) euthanasia. Tetapi saya masih sedikit menikmati setiap moment kecil yang ada. Ketika saat itu datang, ketika saya lebih banyak mengalami kabar buruk dibanding kabar baik, saya sudah punya izin (euthanasia). Tetapi waktunya belum datang," kata Marieke.

Bagaimanapun, Marieke memastikan Paralympics 2016 merupakan kompetisi terakhirnya.

Marieke kini berusia 37 tahun. Ia menderita penyakit degeneratif pada otot yang menyebabkannya harus terus mengalami kesakitan, lumpuh pada kakinya, dan jarang bisa tidur nyenyak. Selain itu penglihatannya juga cukup buruk.

Ia divonis menderita penyakit itu saat berusia 14 tahun. Sejak saat itu, kata Marieke, hidupnya menjadi "sebuah pertarungan hidup terus-menerus".

"Apalagi, kemampuan penglihatan saya kini hanya 20 persen dan saya kerap mengalami serangan epilepsi. Lalu apalagi?"

Meski begitu, saat menjadi atlet ia begitu menikmatinya. Pada Paralympics 2012 di London, Marieke meraih medali emas pada balap kursi roda 100 meter dan medali perak pada balap nomor 200 meter. Termasuk medali perak terakhir yang ia raih di Paralympics 2016.

"Rasanya seperti "Yes, aku bisa meraih medali perak!" katanya kepada BBC. "Tapi, tetap ada sisi lain dari medali, yaitu sisi penderitaan dan sisi kepedihan harus mengucapkan selamat tinggal pada olahraga. Saya mencintai olahraga. Olahraga adalah hidup saya."

Marieke mengatakan ia terus berusaha untuk menghargai hidupnya di luar arena balapan. Namun euthanasia tetap menjadi pilihan jika segalanya begitu menyakitkan.

"Saya ingin mencoba menikmati setiap momen dalam hidupku, dan coba memberikan energi lebih banyak pada keluarga dan teman-teman, yang selama ini masih kurang karena saya harus berlatih setiap hari," kata Marieke. (BBC/Daily Mail/AFP) 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.