Ilustrasi. (Foto: Wikipedia/Creative Commons)

KBR - Klub asal Portugal, FC Porto akan mengunjungi markas Leicester City di King Power Stadium, di Kota Leicester, Inggris, Rabu (28/9/2016) dinihari.

Porto akan bertemu Leicester City di laga penyisihan grup G Liga Champions Eropa. Kedua tim belum pernah bertemu di kompetisi Eropa, baik Liga Champions maupun Liga Eropa.

Saat ini Leicester City memimpin klasemen sementara Grup G dengan tiga poin hasil kemenangan atas Klub Brugge beberapa waktu lalu. Sementara FC Porto berbagi posisi dua dan tiga dengan Kobenhavn karena dua tim itu hanya bermain imbang 1-1.

Pelatih FC Porto Nuno Espirito Santo punya ambisi untuk mengakhiri 'kutukan' yang selama ini seolah menimpa klub berjuluk Drago itu: 16 kali tak pernah meraih kemenangan jika bermain di melawan klub-klub Inggris di Inggris.

Nuno merasa tertantang untuk mengalahkan Leicester City. Tidak hanya untuk menggeser puncak klasemen Grup G, tapi juga untuk mengakhiri 'kutukan' tak pernah menang bermain di Inggris.

"Ini momen seperti rekor---yang perlu dipecahkan," kata Nuno Espirito seperti dikutip UEFA.

"Liga Inggris merupakan salah satu liga paling kompetitif di dunia, dengan tim yang sangat fantastis dan pemain yang sangat bagus. Apa yang diraih Leicester City sangat luar biasa dan kami harus menghormati itu," kata Nuno.

Leicester City baru musim ini mengikuti Liga Champions Eropa, setelah menjuarai Liga Inggris musim lalu.

Nuno membantah rekor buruk bermain di Inggris itu bakal mempengaruhi mental para pemainnya.

"Salah satu hal penting (pada pertandingan nanti) adalah, saya pikir, para pemain kami tidak terlibat di pertandingan-pertandingan terdahulu. Saya tidak bisa membandingkan mereka dengan pemain sebelumnya. Ini permainan yang baru. Ini tantangan, dan kita percaya kita bisa melewati batas kemampuan kita," kata Nuno.

Salah satu yang ditunggu Nuno adalah penampilan Islam Slimani, penyerang baru Leicester yang baru didatangkan dari Sporting CP bulan Agustus lalu.

Sporting CP adalah klub asal Portugal dan menjadi salah satu rival utama FC Porto di Liga Primeira Portugal. Pada pertemuan terakhir 29 Agustus lalu, FC Porto ditaklukkan 2-1 di kandang Sporting CP.

Sebelum dibeli Leicester City, Islam Slimani sudah menjebol gawang FC Porto lima kali dalam tiga pertandingan. Pemain asal Aljazair itu merupakan salah satu yang diwaspadai oleh Nuno Espirito.

"Kami mengenalnya, kami menghadapinya di kompetisi kami. Dia pemain yang tidak bisa Anda abaikan, seorang striker dan pencetak gol," kata Nuno. "Tapi Leicester juga tim yang ada pemain lain di sana, Danny Drinkwater, Jamie Vardy, Riyad Mahrez. Jadi satu-satunya cara mengendalikan permainan adalah membuat keseimbangan permainan dan mengendalikan permainan sebagai satu tim."

Pertahanan Leicester

Sementara itu, manajer Leicester City Claudio Ranieri tengah serius membenahi barisan pertahanan mereka. Musim ini pertahanan Leicester City tidak seperkasa musim lalu.

Dalam delapan pertandingan terakhir, Leicester kalah empat kali termasuk kekalahan dengan skor besar 4-1 atas Liverpool, 4-2 melawan Chelsea dan kalah 4-1 lagi melawan Manchester United. Dari delapan pertandingan, mereka hanya menang tiga kali. Itu pun melawan klub Swansea (2-1), Club Brugge (3-0) dan Burnley (3-0).

"Tentu ini jadi perhatian saya. Musim lalu semua kelihatannya begitu sempurna. Musim ini, tidak---setiap kali ada kesempatan lawan selalu bisa mencetak gol. Saya tidak begitu gembira ketika klub saya tidak bereaksi. Boleh saja kami kebobolan, tapi saya ingin melihat tim selalu bereaksi setiap saat," kata Ranieri.

Salah satu yang masih membekas Ranieri adalah kekalahan 4-1 di kandang Manchester United, 24 September lalu. Pemain sayap Leicester City, Marc Albrighton menggambarkan permainan itu sebagai "20 menit dimana kami seperti berhenti mati dan kehilangan konsentrasi".

"Saya bicara pada para pemain, mereka begitu ketakutan. Wasit tidak bicara aturan permainan yang baru, jadi ini sesuatu yang biasa kita hadapi. Jadi mengapa berubah? Musim lalu kita menjadi salah satu klub terbaik di liga, dan kebobolan sangat sedikit dari bola mati. Tapis ekarang, kita meninggalkan lubang menganga selebar empat meter. Jadi kita harus mengembalikan kekuatan kita," kata Ranieri. (Soccerway/Guardian/Telegrap) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!