Atlet Tiongkok Ma Long melakuan serve melawan rekan senegaranya Zhang Jike dalam perebutan medali emas cabang tenis meja di nomor tunggal putra Olimpiade Rio 2016, Brasil, Kamis (11/8/2016). (Foto: ANTARA/REUTERS)

KBR - Selain di bidang ekonomi, Tiongkok banyak berjaya di bidang olahraga. Di Olimpiade Rio Brazil 2016, Tiongkok menguasai klasemen sementara perolehan medali di beberapa hari pertama penyelenggaraan Olimpiade. Sebelum kemudian disalip Amerika Serikat dan Inggris Raya.

Meski hasil pertandingan olahraga sulit diprediksi, namun tidak untuk cabang olahraga tenis meja. Tiongkok mendominasi dunia.

Pada Olimpiade Rio Brazil 2016, atlet asal Tiongkok Ding Ning menaklukkan rekan senegaranya Li Xiaoxiao di babak final cabang olahraga tenis meja di nomor tunggal putri. Ding Ning pun merebut emas.

Sedangkan, Ma Long menundukkan Zhang Jike untuk memperebutkan medali emas di nomor tunggal putra tenis meja. Keduanya juga dari Tiongkok.

Selanjutnya, tim tenis meja putri Tiongkok meraih medali emas di nomor ganda putri, diikuti kemudian medali emas juga direbut tim tenis meja putra Tiongkok.

Sejak tenis meja pertama kali dipertandingkan di Olimpiade tahun 1988, Tiongkok sudah mengumpulkan 28 medali emas dari 32 medali yang diperebutkan.

Di tiga seri Olimpiade terakhir, Beijing, London dan Rio, atlet tenis meja Tiongkok menyapu bersih semua medali emas.

Tidak ada negara lain yang begitu superior di salah satu bidang olahraga selain Tiongkok. Bahkan sekalipun untuk sekadar mendekati prestasi mereka.

Atlet tenis meja dari negara lain pun banyak yang minder lebih dulu jika menghadapi petenis meja asal Tiongkok.

"Saya tahu bahwa saya butuh latihan keras lebih banyak, karena ada atlet asal Tiongkok di sana," kata Marcos Madrid, petenis meja asal Meksiko. Ia ditanya perasaannya tentang menyebar luasnya atlet tenis meja di berbagai negara.

Korea Selatan mungkin mendekati dengan superioritas Tiongkok di bidang olahraga panahan. Korea Selatan sudah merebut 23 medali emas dari 40 medali emas yang diperebutkan sejak panahan dipertandingkan resmi di Olimpiade pada 1972.

Namun persentase kemenangan panahan Korea Selatan hanya 57,5 persen medali emas, jauh dari petenis meja Tiongkok yang meraih 87,5 persen dari jumlah medali emas yang diperebutkan.

Tiongkok juga punya potensi besar meraih medali di bidang olahraga lain seperti mendayung dan bulutangkis. Namun supremasi bulutangkis atau dayung Tiongkok masih lebih rendah dibanding tenis meja. Di cabang dayung, Tingkok meraih 71 persen medali emas sedangkan di cabang bulutangkis, hanya 53 persen medali.

Mengapa Tiongkok begitu dominan?

Jawabannya sederhana. Dengan jumlah penduduk sebanyak 1,4 miliar orang, Tiongkok memiliki jumlah atlet tenis meja lebih banyak dibandingkan negara lain.

Tapi itu tidak sederhana. Tiongkok memiliki sistem talent pool (pelatihan bibit-bibit berbakat), rekrutmen sejak dini, pelatihan dengan disiplin sangat ketat yang dijalankan negara.

Seleksi ketat dilakukan di tiap klub di daerah, dan begitu banyak kompetisi. Dari daerah kemudian mengirim pemain terbaik untuk ikut program nasional. Hanya 50 orang petenis meja terbaik putra dan 50 orang putri dari masing-masing provinsi yang bisa masuk ke jajaran nasional. Sisanya, pensiun atau mengadu nasib ke luar negeri membela negara baru.

"Di Tiongkok ada lelucon, 'jangan pernah mengaku mahir bermain tenis meja, karena Anda mungkin tidak tahu teman Anda mungkin pensiunan petenis meja dari tim provinsi'," tulis Mark Luo, di blog Quora.

Di Tiongkok, setiap sekolah memiliki peralatan tenis meja. Bahkan olahraga ini sudah dimainkan sejak Sekolah Dasar. Setiap anak yang ingin menjadi petenis meja profesional, mereka mulai dilatih secara khusus sejak usia 8 atau 9 tahun.

Di Olimpiade Rio, hampir 40 orang atlet tenis meja merupakan atlet kelahiran Tiongkok. Dari jumlah itu hanya enam atlet yang membela bendera Tiongkok.

Salah satunya atlet tenis meja Ni Xialian. Ni pernah membela Tiongkok meraih medali emas di kejuaraan dunia tenis meja pada 1983. Namun pada Olimpiade Rio, ia bermain di bawah bendera Luxemburg.

Gui Lin, salah satu atlet tenis meja pindah dari Tiongkok ke Brazil pada usia 12 dan kemudian mewakili negara itu.

Dominasi Tiongkok itu kemudian membuat organisasi tenis meja internasional ITTF memulai proyek baru: menyasar atlet-atlet muda non-Tiongkok. Meski tetap bekerjasama dengan Tiongkok.

"Sulit jika sebuah olahraga hanya didominasi kemenangannya oleh satu negara saja. Tapi ini bukan kesalahan Tiongkok. Negara lain harus juga berlatih keras," kata Presiden International Table Tennis Federation (ITTF), Thomas Weikert.

Tenis Meja dan Tiongkok

Sejarah tenis meja dan Tiongkok tidak lepas dari peran seorang sutradara film asal London Ivor Montagu. Ia merumuskan aturan olahraga tenis meja dan membentuk International Table Tennis Federation (ITTF) pada 1920.

Ivor Montagu seorang penganut ideologi komunis yang kuat, dan ia melihat tenis meja bisa membantu penyebaran ideologi itu ke penjuru dunia. Alasannya sederhana. Tenis meja cocok dimainkan oleh segala lapisan masyarakat, dari kelas atas hingga kelompok proletar. Tenis meja bisa juga dimainkan para pekerja saat istirahat, tanpa memakan ruangan luas dan peralatan yang sederhana.

Sejak awal, pemimpin Tiongkok Mao Zedong menyatakan tenis meja sebagai 'guo qiu' atau olahraga nasional. Jargon itu bertahan hingga saat ini.

Pada 1959, Tiongkok mendobrak dominasi olahraga tenis meja yang sebelumnya dipegang Jepang, ketika Rong Guotuan merebut gelar juara di Kejuaraan Tenis Meja Dunia di Jerman. Rong menjadi orang Tiongkok pertama yang menjadi juara olahraga tingkat dunia sejak berdirinya Republik Rakyat Tiongkok.

Tenis meja kemudian menjadi simbol kebangkitan Tiongkok setelah dipermalukan bertahun-tahun oleh negara Barat dan Jepang. Mao Zedong bahkan memberi ucapan selamat secara personal kepada Rong, dan menyebut olahraga tenis meja sebagai 'senjata nuklir spiritual' bagi Tiongkok.

Warga Tiongkok yang hidup di awal pendirian negara itu hanya mengenal satu olahraga saja: tenis meja. Bahkan bekas pemimpin Tiongkok, Hu Jintao dan Wen Jiabao sempat mempertunjukkan kemahirannya bermain tenis meja saat mengunjungi Jepang.

Perkembangan tenis meja sempat terganggu ketika muncul Revolusi Budaya pada 1966, ketika para pemain top dieksekusi oleh Tentara Merah. Bahkan Rong Guotuan, juara dunia 1959, bunuh diri setelah ditahan pemerintah.

Namun tenis meja Tiongkok kembali bangkit di era 1970-an. Saat itu dikenal 'diplomasi pingpong', dimana olahraga tenis meja menjadi penghubung diplomasi Tiongkok dan Amerika Serikat, pasca Perang Dingin.

Pada 1971, Mao Zedong mengundang delegasi tenis meja Amerika Serikat ke Tiongkok. Para atlet tenis meja itu menjadi orang Amerika Serikat pertama yang diundang resmi oleh pemerintah Tiongkok.

Diplomasi tenis meja kemudian membuat Presiden Amerika Serikat Richard Nixon melakukan kunjungan bersejarah ke Tiongkok setahun kemudian. Tenis meja menjadi pintu bagi Tiongkok untuk keluar melanglang buana, setelah bertahun-tahun terisolasi pasca Perang Dingin. (Channel News/New York Times/Bussines Insider) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!