Medali Perak Pertama Indonesia di Rio De Jeneiro Suntik Motivasi Atlet

Sri Wahyuni berhak menerima bonus Rp2 miliar.

Minggu, 07 Agus 2016 15:12 WIB

Lifter putri Sri Wahyuni Agustini. Foto: Kemenpora.go.id

KBR, Jakarta - Indonesia mendulang medali pertamanya dalam Olimpiade Rio De Jeneiro, Brasil lewat cabang olah raga angkat besi. Atlet penyumbang medali perak pertama Indonesia adalah Sri Wahyuni Agustiani yang merupakan salah satu dari tujuh atlet angkat besi yang dikirimkan Indonesia ke ajang Olimpiade.

Atas prestasi Sri, Menteri Pemuda dan Olah Raga Imam Nahrawi memberikan apresiasinya dan berharap medali perak pertama Indonesia itu bisa menambah motivasi bagi tim "Merah Putih" untuk memanen medali.  
 
"Alhamdulillah, awalan yang baik bagi merah putih dengan medali pertama perak dari Sri Wahyuni, atlet berumur 19 tahun ini, pasti menjadi penyemangat baru bagi atlet lainnya untuk meraih yang lebih baik," kata Imam seperti dilansir dari laman Kemenpora.

Sri Wahyuni meraih medali perak di kelas 48 kg putri dengan total mengangkat beban 192 kilogram, yaitu 85 kg snatch dan 107 kg clean and jerk. Sementara itu, peraih medali emas di kelas ini adalah Sopita Tanasan asal Thailand dengan total angkatan beban 200 kg, lewat 92 kg snatch dan 108 kg clean and jerk, sementara Hiromi Miyake asal Jepang penyabet medali perunggu dengan mengangkat 188 kg setelah empat tahun sebelumnya meraih medali perak di kelas yang sama.

"Yuni ini masih muda dan produktif sehingga saya yakin untuk Olimpiade berikutnya akan meningkatkan raihan medalinya. Selamat ya Yuni, bonus dari pemerintah sebesar Rp 2 miliar telah menjadi hakmu," pungkas Imam.

Indonesia menargetkan tiga medali emas pada Olimpiade 2016. Dari tiga target medali emas itu, dua emas diharapkan pemerintah diraih oleh cabang olahraga bulu tangkis dan satu dari angkat besi. Selain Sri, atlet angkat besi Indonesia yang berlaga dalam ajang Olimpiade tahun ini adalah Deni di kelas 69 kg, Eko Yuli Irawan dan M Hasbi di kelas 62 kg, I Ketut Ariana dan Triyatno di kelas 69 kg, dan Dewi Safitri di kelas 53kg.

Baca juga: Sepakbola Olimpiade Rio: Nigeria Impresif, Korsel Panen Gol

Editor: Sasmito

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.