Merdeka itu Sanksi FIFA Dihapus dan Bebas Mafia Sepakbola

Pelatih klub Persiba Balikpapan Eduard Tjong mengatakan hingga kini sepakbola Indonesia masih belum merasakan kemerdekaan karena terkekang dan terbelunggu berbagai kepentingan.

Selasa, 18 Agus 2015 14:33 WIB

Sejumlah pecinta sepakbola menggelar aksi di tengah acara Car Free Day di Solo Jawa Tengah. (Foto: Yudha Satriawan)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Balikpapan – Para insan sepakbola berharap peringatan ulang tahun ke-70 RI menjadi momen kebangkitan sepakbola nasional, setelah sempat mengalami keterpurukan akibat kasus pengaturan skor, pembekuan PSSI oleh Kemenpora hingga sanksi FIFA.

Pelatih klub Persiba Balikpapan Eduard Tjong mengatakan hingga kini sepakbola Indonesia masih belum merasakan kemerdekaan karena terkekang dan terbelunggu berbagai kepentingan. Hal itu membuat olahraga yang paling digemari itu sulit berperstasi.

Eks pemain tim nasional itu juga meminta pihak-pihak yang memiliki kewenangan dalam sepakbola Indonesia agar bersikap arif, bijak dan tidak egois. Karena ada ribuan orang yang selama ini hidupnya bergantung dari sepakbola.  

"Kalau bisa sepakbola kita merdeka lah, maksudnya merdeka semua. Lepas dari pembekuan PSSI, lepas dari kasus pengaturan skor. Kalau saya itu saja.  Tapi saya minta ke (Presiden) Jokowi agar ini dimerdekakan. Kalau ke Menpora, pasti akan mental lagi,” kata bekas pemain Arseto Solo itu, Selasa (18/8).

Kisruh akibat konflik PSSI dan Menpora yang tak kunjung selesai, telah berdampak pada kondisi sepakbol di tanah air. Hampir empat bulan lamanya olahraga paling digemari itu terkatung-katung.

Hingga kini kompetisi Indonesia Super League (ISL) dan Divisi Utama maupuna Liga Nusantara belum bisa bergulir karena Kemenpora belum mencabut status pembekuan PSSI. Hal itu membuat kepolisian tidak mengeluarkan ijin pertandingan.

Menpora beralasan, sepakbola Indonesia harus dibersihkan dulu dari mafia sepakbola. Baru SK pembekuan PSSI dicabut.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas

  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Kepala KSP Moeldoko Tepis Anggapan Miring

  • Izin Impor Beras Dialihkan, PT PPI Tak Keberatan
  • BNPB Siapkan Anggaran Rp 166 Miliar untuk Perbaiki Rumah Korban Banjir Bima
  • PS TNI Gagal Menang Melawan 10 Pemain Persebaya

Memberdayakan masyarakat bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya seperti apa yang dilakukan anak-anak muda asal Yogyakarta ini melalu platform digital yang mereka namai IWAK.