Martinus - dulu hanyut di laut 21 hari karena tsunami, kini jadi pemain di Sporting Lisbon (Foto: Tw

Martinus - dulu hanyut di laut 21 hari karena tsunami, kini jadi pemain di Sporting Lisbon (Foto: Twitter)

KBR - Martunis resmi dikontrak klub elit Portugal, Sporting Lisbon, pada 2 Juli 2015. Martunis akan bergabung dengan tim akademi salah satu klub besar di Liga Portugal tersebut.

Martunis masuk ke Sporting berkat andil mega bintang Portugal, Cristiano Ronaldo yang merupakan ayah angkat Martunis. Ronaldo sendiri memang punya hubungan baik dengan Sporting karena ia dulu merupakan binaan Sporting. Kini Martuins mendapatkan nomor punggung warisan Ronaldo yaitu 28.

Nama Martunis mulai terkenal sejak ia ditemukan setelah 21 hari hanyut di laut karena tsunami. Ia menjadi sorotan dunia, terutama Portugal, karena ketika ditemukan masih memakai kaos tim nasional sepakbola Portugal warna merah dan hijau, dengan nomor punggung 10, bernama Rui Costa.

Bagaimana kisah Martunis ketika hanyut selama 21 hari akibat tsunami 11 tahun lalu? KBR pernah menulis kisah tentang Martunis dan memasukkannya dalam buku berjudul “Lolos dari Maut Tsunami, Minggu 26 Desember 2004” beserta kisah 15 orang lainnya.

Berikut kisah Martunis.

***

Minggu pagi, 26 Desember 2004, selesai mandi, Martunis segera membuka lemari pakaian. Dibolak-baliknya tumpukan pakaian yang telah disusun rapi oleh ibunya. Matanya langsung tertuju pada kaus bola yang amat digemarinya, seragam tim sepak bola nasional Portugal berwarna merah dan hijau bernomor punggung 10 dengan nama Rui Costa.

Bagi Martunis, 7 tahun, Rui Costa adalah salah satu pemain favoritnya. Segera saja ia memakai kaus tersebut. Rencana Martunis, sore hari nanti ia dan teman-teman akan bermain bola di sebuah tanah lapang dekat rumahnya di Desa Tibang, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh.

Setelah berpakaian, anak kedua pasangan Sarbini, 36 tahun, dan Salwa, 30 tahun, itu langsung duduk di depan pesawat televisi. Di situ telah ada Nurul, 9 tahun, dan Annisa, 3 tahun, kakak dan adik Martunis yang sedang asik menonton televisi. Tayangan yang mereka tonton saat itu adalah film kartun. Di tengah keasyikan menonton televisi itu, tiba-tiba Martunis merasakan getaran hebat hingga membuat rumahnya bergoyang-goyang bak perahu di tengah laut.

Segera saja sang ibu, Salwa, mengajak ketiga anaknya keluar rumah. Di luar urmah, ternyata para tetangga telah keluar dan duduk di depan rumah mereka masing-masing. Beberapa orang melafazkan istigfar dan zikir berkali-kali.

Setelah lima belas menit berlangsung, gempa tersebut berhenti. Bocah kelahiran Tibang, 2 Maret 1997, itu tetap tidak bisa beranjak dari tempat duduknya. Ia tidak berani masuk ke dalam rumah, takut ada gempa susulan. Tak lama kemudian ia melihat ayahnya pulang dari tambak. Sang ayah, Sarbini, sehari-hari memang bekerja sebagai buruh tambak ikan milik tetangganya. Tambak itu terletak tidak jauh dari Pantai Kuala. Sedangkan ibunya, Salwa, adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Ketika gempa terjadi, Sarbini sedan gberada di tambak. Setelah gempa mereda, ia segera memutuskan pulang ke rumah untuk memastikan keadaan keluarganya.


Martunis pun memanggil ayahnya. Sarbini lega melihat keluarganya selamat. Namun baru sebentar keluarga itu berkumpul, banyak orang berlari-lari sambil berteriak: “Air laut naik, air laut naik!!!” Sarbini pun melihat dari kejauhan air laut berwarna hitam pekat setinggi pohon kelapa datang menuju ke arahnya dengan kecepatan tinggi.

Sontak, penduduk Desa Tibang lari berhamburan menyelamatkan diri. Sarbini segera mengajak keluarganya untuk lari. Di depan mereka ada sebuah mobil pick up milik salah seorang kerabat dekat yang siap berangkat. Segera Sarbini menyuruh istri dan anak-anaknya naik ke ats mobil. Sementara ia sendiri lari ke arah Lingke menuju jalan raya.

Padatnya jalan yang dipenuhi orang-orang yang berlarian membuat mobil yang ditumpangi Martunis tidak dapat melaju kencang. Dalam kepanikan tersebut, gelombang air segera menyapu mobil tersebut. Mobil pun terguling-guling. Para penumpang yang berada di datas mobil berhamburan diterjang gelombang. Di tengah arus air yang deras itu, Martunis masih sempat melihat Annisa tenggelam dan memanggilnya,”Abang... abang...” Sekuat tenaga ia berusaha menarik lengan adiknya agar dapat terapung di atas permukaan air. Namun hempasan air yang begitu deras membuat pegangannya terhadap Annisa lepas. Segera ia mencari ibunya. Dilihatnya Salwa juga sedang berusaha sekuat tenaga untuk berenang. Martunis segera berpegangan pada sang ibu. Namun lagi-lagi hempasan gelombang membuat pegangannya lepas. Sempat ia berpegangan pad seseorang yang sedang hanyut juga.

Saat itulah Martunis melihat sebatang kayu bekas reruntuhan rumah melintas di dekatnya. Segera tangannya yang mungil menggapai kayu tersebut. Sekuat tenaga ia berusaha agar tidak tenggelam. Sejurus kemudian ia melihat sebuah kasur yang mengambang. Diraihnya kasur tersebut dan dinaikinya. Namun satu per satu kapuk yang berada di dalam kasur tersebut terurai dalam air hingga menyebabkan kasur tersebut perlahan tenggelam. Ketika hampir tenggelam, Martunis melihat ada batang pohon nangka yang mengambang. Segera ia meraih batang pohon itu dan berpegangan padanya. Sebentar kemudian, Martunis pun melihat sebuah kasur spring bed dan tanpa disadari kemudian dia telah berada di atas kasur tersebut.

Dalam kelelahan, lamat-lamat kesadaran Martunis hilang. Ia pingsan tertelungkup di tas kasur. Ketika kesadarannya pulih, ia mendapati dirinya telah berada di tas perairan di tengah laut nun jauh dari rumahnya. Perutnya lapar dan haus. Namun sepanjang mata memandang yang tampak olehnya hanya sampah-sampah dan mayat-mayat yang terseret gelombang. Sempat ia melihat beberapa mayat yang mengapung di dekatnya. Martunis berharap dapat menemukan ibu dan saudara-saudaranya. Namun dari semua mayat yang ia temui tak satu pun anggota keluarganya.

Selama terapung di tengah laut, Martunis sering mendapatkan barang-barang berharga. Pada hari pertama, ia mendapatkan sebuah celengan (tempat uang tabungan) mengapung di dekatnya. Setelah diambil dan dibuka ternyata ada uang ribuan dan puluhan ribu sebanyak Rp 43.000. Tapi entah kenapa perasaannya mengatakan agar uang tersebut jangan diambil. “Lagipula untuk apa uang di tengah laut?” pikir Martunis kemudian. Uang itu kemudian dihanyutkan lagi oleh Martunis.

Hari berikutnya, lagi-lagi Martunis menemukan barang berharga lainnya, yaitu sebuah kotak perhiasan yang di dalamnya berisi sepasang gelang emas. Lagi-lagi hatinya mengatakan untuk tidak mengambil barang tersebut. Saat itu Martunis berharap dapat menemukan sesuatu yang dapat mengisi perutnya yang keroncongan. Sejak ia terhanyut, perutnya memang tidak pernah diisi apa pun. Wajar jika pada hari kedua, rasa lapar mulai menghinggapi perut bocah malang ini.

Hingga hari ketiga, bocah ini tidak menemukan sesuatu apa pun yang dapat dimakan. Dalam keletihan dan kelaparan yang amat sangat, martunis melihat beberapa bungkus mi instan kering dan air mineral mengambang di permukaan laut. Dan jumlahnya lumayan banyak. Segera ia kumpulkan barang-barang tersebut dalam sebuah timba (ember untuk menguras sumur) yang juga ia temukan di laut. Segera dibuka mie tersebut dan dimakan mentah-mentah dengan lahap. Setelah habis satu bungkus mie, Martunis masih merasa lapar. Dibuka satu bungkus lagi. Tetapi ketika akan dimakan Martunis sadar bahwa persediaan makanannya terbatas. Oleh karena itu harus dihemat agar dapat bertahan hidup sampai ada orang yang menemukan. Dibungkusnya lagi mie tersebut. Dengan mengandalkan mie dan air mineral itula Martunis bertahan hidup di tengah laut.

Hari demi hari dilalui Martunis dengan pasrah dan berdoa. Zikir la ilaha illallah senantiasa ia lantunkan sebagai penguat hati. Teriknya matahari di siang hari dan dinginnya udara di malam hari tidak dirasakannya lagi. Hanya sesekali saja rasa nyeri itu muncul. Kulitnya pun hitam dan beberapa bagian terlihat mengelupas. Untunglah kasur tempat ia bernaung terbuat dari bahan busa berlapis karet hingga terasa nyaman saat basah. Yang dapat ia lakukan hanyalah berusaha untuk tidur agar semua itu tidak dirasakan. Jika tidur Martunis menekuk tubuhnya dan menarik kaosnya agar seluruh tubuhnya tertutup. Kebetulan kaos bola itu terbuat dari bahasn sintetis yang melar. Dalam tidurnya, ia kerap kali bermimpi bertemu ayah ibunya. Ia hanya berharap ada seseorang yang lewat dan melihatnya.

Entah berapa lama Martunis berada di tengah laut. Yang ia tahu sudah lebih dari 7 hari. Martunis mulai merasa bosan dan putus asa. Hitungan hari yang ia lakukan dengan kedua tangannya sudah lupa sampai berapa. Ia hanya ingat pernah menghitung sampai tujuh yang berarti seminggu. “Mungkin sudah sepuluh hari,” pikirnya. Harapan mulai pudar. Persediaan makanannya pun mulai menipis. “Tinggal satu bungkus lagi,” gumam Martunis dalam hati. Ia pasrah. Digerak-gerakan tangannya di dalam air seperti gerakan mendayung walau ia tak tahu arah. Sejauh mata memandang hanya garis tipis batas antara langit dan laut yang terlihat.

Hingga di suatu siang, Martunis terbangun dan melihat sebuah daratan tidak begitu jauh dari tempatnya mengapung. Ia pun melihat seorang pemulung sedang mengumpulkan bahan-bahan bekas di sekitar perairan tersebut. Segera Martunis berteriak minta tolong. Awalnya si pemulung lari ketakutan karena dikira ada hantu. Tapi setelah ia yakin bahwa yang berteriak minta tolong itu adalah seorang anak kecil, pemulung tersebut segera berenang dan menghampiri Martunis.

Oleh si pemulung Martunis kemudian diserahkan kepada awak televisi Inggris yang sedang meliput di sekitar tempat tersebut. Saat itu kalender menunjukkan tanggal 15 Januari 2005, berarti sudah 21 hari Martunis terapung-apung di tengah laut. Bocah malang itu ditemukan di perairan sekitar Pantai Kuala, tak jauh dari makam ulama terkenal Aceh, Tengku Syiah Kuala, di Desa Deah Glumpang, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh.

Martunis pun langsung dibawa ke Rumah Sakit Fakinah, Banda Aceh, untuk dirawat. Kondisinya amat lemah, hampir tidak dapat berjalan karena mengalami dehidrasi (kekurangan cairan) dan kekurangan makanan. Air lumpur yang sempat terminum olehnya segera disedot keluar oleh tim dokter yang memeriksa. Di perut Martunis juga ditemukan sebuah luk akibat tertusuk kayu. Sekujur tubuhnya juga mengalami luka-luka kecil akibat benturan dengan benda-benda sewaktu dihantam gelombang tsunami.

Kabar ditemukannya Martunis kemudian diliput dan disiarkan oleh televisi Inggris ke seluruh Eropa. Berita tersebut menjadi heboh. Tidak hanya karena keajaiban Martunis yang mampu bertahan di laut selama 21 hari, tapi juga karena kaos yang dikenakannya saat itu membuat kalangan pejabat sepakbola dan pemain nasional Portugal menaruh simpati terhadap Martunis.

Bahkan dalam sebuah wawancara di media massa Portugal, klub sepakbola Inggris Manchester United (MU) yang juga merupakan anggota tim nasional Portugal, Christiano Ronaldo, menawarkan kepada Martunis untuk menginap di rumahnya di Inggris guna menyaksikan pertandingan MU. Sedangkan bitang sepakbola Portugal Rui Costa dalam wawancaranya dengan surat kabar Portugal Correio da Manha mengatakan, “Penyelamatan bocah ini mengejutkan, apalagi setelah mengetahui ia mengidolakan saya. Saya harap bisa bertemu dengan dia suatu hari nanti.”

Bintang tim nasional Portugal lainnya, Luis Figo, juga mengatakan keinginannya untuk membantu Martunis. Malah Federasi Sepak Bola Portugal melalui pelatih tim nasional sepak bola Portugal, Luis Felipe Scolari mengatakan akan membelikan Martunis sebidang tanah dan rumah di Indonesia.

Santernya pemberitaan tersebut membuat Martunis jadi incaran para wartawan yang ingin mengetahui kisahnya. Berita tentang Martunis sampai juga kepada ayahnya, Sarbini, yang selamat dari tsunami. Namun informasi yang ia terima masih samar. Beberapa orang mengatakan bahwa Martunis dirawat di Rumah Sakit Kesdam. Ia pun meluncur ke sana dan tidak mendapatkan hasil. Barulah ketika diberitahu Wati, salah seorang tetangganya di Desa Tibang, bahwa Martunis dirawat di Rumah Sakit Fakinah, ia pun bergegas menuju ke sana.

Saat ditemui di rumah sakit, Sarbini melihat Martunis masih terbujur lemah di tempat tidur. Sementara di sana sudah hadir terlebih dahulu kakek dan nenek Martunis. Salah seorang dokter di rumah sakit tersebut mengatkan kepada Sarbini agar ia tidak menangis. Pertemuan pertama kali antara ayah dan anak yang terpisah oleh gelombang tsunami itu membuat haru suasana di ruangan rumah sakit. Apalagi hingga kini, dari lima orang anggota keluarga, tinggal mereka berdua yang tersisa. Jasad Salwa, Nurul dan Annisa tak jelas makamnya.

Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, Martunis diboyong ayahnya ke rumah neneknya, Zuhairi (45) di Dusun Lampee, Lamreung, Meunasah Papeun. Martunis pun seketika menjadi terkenal di kampung tersebut. Berita tentang bantuan Pemerintah Portugal hanya dapat dijawab Sarbini dengan perasaan suka cita tanpa bisa berharap banyak.

Hingga suatu hari, 23 Februari 2005 lalu, utusan Fderasi Sepakbola Portugal akhirnya datang menyerahkan bantuan bagi Martunis. Bantuan yang diserahkan oleh Dubes Portugal untuk Republik Indonesia, Jose Barga, berjumlah Rp 42 juta dalam bentuk deposito dan rekening tabungan di Bank Syairah Mandiri, Banda Aceh. Kedatangan utusan tersebut sempat membuat terkejut seluruh anggota keluarga Martunis. Pasalnya, mereka beranggapan bahwa apa yang dilansir media massa selama ini tentang kepedulian pihak tim nasional sepak bola Portugal terhadap Martunis hanya sebatas pernyataan belaka.

Saat menerima bantuan itu, Sarbini tak mampu menahan haru. Matanya berkaca-kaca. Bantuan yang diterimanya itu, paling tidak, dirasa mampu meringankan beban kepedihan akibat kehilangan istri dan anak-anaknya. “Alhamdulillah,” ucapnya sambil menjabat erat tangan Jose Barga. Mereka juga berencana membawa Martunis ke Portugal jika sudah sembuh, untuk menyaksikan pertandingan tim nasional sepakbola Portugal. Pada kesempatan itu pula Martunis diberikan kenang-kenangan berupa kaos seragam MU, bola, dan beberapa foto pemain MU.

Menurut penuturan Sarbini, bantuan tersebut hanya ditujukan untuk biaya sekolah Martunis. Sedangkan pemerintah Portugal berjanji akan memberikan lagi sisa bantuan dari total Rp 80 juta untuk pembelian tanah dan rumah bagi Martunis. Sarbini sendiri yang disuruh mencari rumah di sekitar wilayah Ulee Kareng. Namun karena dana untuk membeli rumah itu hingga kini belum sampai ke tangannya, upaya pencarian rumah ia tunda sementara waktu.

Sekarang Martunis sudah sehat dan hidup normal. Ia melanjutkan sekolahnya di kelas tiga Sekolah Dasar Negeri Lamreung, Krueng Barona Jaya, Banda Aceh, tidak jauh dari rumah neneknya. Harapannya saat ini hanyalah agar sang ayah dapat bekerja dan ia dapat melanjutkan sekolah seperti sedia kala. Ia pun menaruh keinginan yang besar agar dapat bertemu dan bermain sepak bola dengan pemain-pemain kesebelasan Portugal yang menjadi favoritnya.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!