BREXIT Jilid 2: Inggris tersingkir dari turnamen Piala Eropa 2016 usai kalah dari negara kecil Islandia. (Foto: Istimewa)

KBR - Keluarnya Inggris dari Uni Eropa akhir pekan lalu, membuat negara kerajaan itu menjalani hari-hari yang melelahkan dan memalukan.

Hasil referendum yang dimenangkan kubu Brexit (Britain Exit from European Union) pekan lalu berdampak luas pada pelemahan mata uang poundsterling, bursa dan keinginan sejumlah daerah untuk merdeka.

Hasil Brexit akhir pekan lalu, ternyata diikuti juga di olahraga sepakbola. Tim sepakbola nasional Inggris ikut keluar dari turnamen Piala Eropa 2016.

Bukan keluar, namun 'dikeluarkan paksa' oleh timnas Islandia yang baru tahun ini masuk kualifikasi Piala Eropa. Islandia, sebuah negara paling kecil di turnamen Piala Eropa.

Ini Brexit seri 2.

Tersingkirnya Inggris dari Piala Eropa 2016 menjadikan timnas negara itu jadi bulan-bulanan dan bahan candaan, mulai dari media komentar di media sosial, media cetak dan lain-lain. Candaan hampir selalu dikaitkan dengan kemenangan Brexit pada Jumat lalu.

Media Mirror Sport menulis judul besar di halaman cetaknya, 'Brrrrexit Hodgson'. Media-media lokal di Inggris juga menulis kritikan pedas terhadap Hodgson dan para pemain.

Koran di Spanyol, La Vanguardia menulis di halaman depan: "Mimpi Islandia memprovokasi lahirnya Brexit berikutnya."

Di Spanyol, harian olahraga Marca menulis di laporan utama: "Islandia Mengejek Inggris, Menendangnya dari Piala Eropa." Walaupun di hari yang sama, Spanyol tersingkir dari babak 16 besar setelah kalah dari Italia.

Sementara itu, harian di Italia, Gazzetta dello Sport menulis: "Inggris, Brexit Lagi! Kisah bak dongeng, Islandia meraih perempat final, sedangkan Hodgson langsung mundur dari pelatih Inggris."

Di Islandia, koran nasional Morgunbladid memuji kemenangan timnas itu dengan tulisan: "Islandia kini berada di jajaran negara-negara sepakbola terbaik di Eropa. Itu jelas setelah kemenangan bersejarah atas Inggris."

Sementara tabloid Jerman Bild, menyebut tersingkirnya Inggris itu sebagai Brexit 2, dan bermain kata-kata dengan menyebut Inggris sebagai Brexitson. Nama-nama warga Islandia termasuk pemain timnas Islandia umumnya menggunakan akhiran nama -son.

Kicker, majalah sepakbola di Jerman menulis, "Pengalaman pertama mereka di kejuaraan Piala Eropa betul-betul sempurna---tim underdog Islandia dengan gagah menyingkirkan Inggris dari turnamen."

Koran Prancis, Liberation menggambarkan hari Minggu kemarin sebagai "Black Monday", Minggu kelam bagi Inggris.

Banyak pengguna Twitter yang juga berkomentar mengaitkan tersingkirnya Inggris dari Euro 2016 dengan Brexit.

"Inggris benar-benar menghormati pilihannya untuk meninggalkan Uni Eropa dengan Brexit. Akhirnya benar-benar keluar dari Eropa," komentar warga Prancis @EmmanuelEckert.

Pesepakbola Argentina, Fabian Rinaudo lewat akun Twitternya memposting gambar video tentang seorang pria besar yang mendekati seekor penguin kecil di daratan salju. Namun penguin kecil tidak takut dan mendekat seperti hendak menggigit hingga pria itu mundur dan terjatuh. Fabian menulis kutipan "Inggris dan Islandia".

Seorang warga Inggris mengunggah meme gambar pria menangis dengan tulisan, "Tidak ada Uni Eropa. Tidak punya Perdana Menteri. Tidak ada rating AAA. Tidak masuk Euro. Sedihnya hidup ini. #ENGISL" begitu tulisan

Warga Inggris Jonathan Phillips menulis: "Mundur sepertinya jadi hobi baru Inggris, menggantikan antrian. #brexit #ENGICE," tulis @DigitalJonathan.

"Ada Dewi bernama Nemesis. Kita sudah mendapat balasan setimpal terhadap kesombongan kita. #Brexit #ENGISL," begitu tulis @nigelshortchess, merujuk Dewi Nemesis di mitologi Yunani yang merupakan dewi pembalasan perbuatan baik dan buruk.

"Untuk kedua kalinya, kurang dari sepekan. Saya takut akan dipermalukan lagi untuk kesekian kalinya sebagai warga Inggris #engice #RemainINEU," tulis @MrPeterQuintana.

"Ambil sisi positifnya, kita kan masih ada di kompetisi Eurovision #ENGICE," tulis @GoodallGiles. Eurovision merupakan kontes menyanyi tingkat Eropa.

Selain itu, media sosial Twitter juga diramaikan dengan meme 'petisi' yang menuntut pertandingan ulang antara Inggris melawan Islandia.

"Kami yang menandatangani petisi ini, mendesak Yang Mulia Pemerintah Inggris untuk menerapkan peraturan, bahwa jika yang memperoleh suara 'Remain/tetap' dan 'Leave/keluar' kurang dari 60 persen dengan suara yang dihitung kurang dari 75 persen, maka akan ada referendum susulan," begitu tulis petisi yang ditandatangani 10 ribu orang---tentu saja petisi candaan hasil rekayasa.

Sumber: Telegraph/Mirror.uk/The Star/Twitter
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!