Display baju dari Tim Pelita Bandung Raya. Salah satu Tim ISL yang diendors oleh Maniak Baju Bola (MBB). Foto: KBR/Rafik Maeilana

KBR, Bogor – Sanksi otoritas sepakbola dunia (FIFA) ternyata tidak berdampak hanya pada klub dan pemain sepakbola Indonesia saja. Namun para pelaku bisnis yang mengandalkan sepakbola pun terkena imbasnya. Salah satunya adalah para pengusaha kaos bola yang telah meneken kontrak bersama klub-klub yang berlaga di Indonesia Super League (ISL) dan Divisi Utama. Mereka mengaku rugi hingga ratusan juta rupiah, karena diberhentikannya liga.
 
Marketing Communications Maniak Baju Bola (MBB) Muhamad Ibnu Hakiki mengatakan, pihaknya sendiri telah melakukan kerjasama dengan 7 tim ISL dan 9 tim Divisi Utama untuk pembuatan jersey, tas, jaket dan lainnya. Pihaknya mengaku telah menggelontorkan uang ratusan juta rupiah untuk mengendors tim-tim tersebut, dengan harapan bisa melakukan promosi jika pra tim tersebut berlaga yang disiarkan televisi. Namun setelah liga terhenti, hal itu sangat merugikan bagi pihaknya.
 
“Sebetulnya kalau masalah kerugian ya pasti rugi, karena kita sendiri mengendors tim ini kan mempunyai target untuk promosi. Minimal kita masuk televisi lah,istilahnya orang mengenal MBB itu apa. Dengan tidak adanya liga berarti kan kita tidak dapat jatah promosi itu kan. Dengan tidak adanya promosi berarti kan b erdampak pada penjualan, yang seharusnya orang tau jadi tidak,” katanya saat ditemui di kantornya Jalan Gunungbatu, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (1/6/2015)
 
Ibnu menjelaskan, meski kontrak dengan klub hanya berlangsung satu musim sekali namun pembuatan kaos, tas, jaket dan lainnya itu diselesaikan pada saat liga belum bergulir. Saat itu, kata dia, pembuatan sendiri dilakukan saat belum adanya kisruh yang mengakibatkan liga dihentikan. Namun karena dihentikan oleh PSSI dan akhirnya dibannded oleh FIFA, kaos yang telah dibuat berjumlah banyak ini hanya bisa tersimpan dalam gudang.
 
“Kalau untuk tim yang ISL sudah kita kirim tahap pertama. Karena memang kita kirimnya dua tahap. Nah setelah disanksi FIFA dan liga dihentikan, jelas akhirnya kaos yang jumlahnya berkodi-kodi ini hanya masuk dalam gudang,” jelasnya.
 
Saat ini, lanjut Ibnu, pihaknya hanya bisa memprodoksi baju hanya untuk bahan jualan saja di toko. Ia berharap kisruh persepakbolaan Indonesia cepat selesai, dan usaha yang telah dirintis sejak 2013 ini bisa hidup kembali.

Editor: Malika
  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!