Perwakilan pemain dari tim yang berlaga pada kompetisi Torabika Soccer Championship 2016 mengikuti acara peluncurannya di Jakarta, Senin (18/4). Foto ANTARA

KBR, Balikpapan - Kerja jurnalistik di kompetisi sepakbola nasional (TSC) 2016 diperketat. Hal itu disampaikan Media Oficer Persiba Balikpapan, Jamal Al Rayid. Menurutnya, aturan ini sudah disepakati dalam pertemuan dengan operator TSC, PT. Gelora Trisula Semesta (GTS).

Dia menjelaskan, wartawan olahraga maupun fotografer dilarang berada di pinggir lapangan saat pertandingan berlangsung. Apabila aturan ini dilanggar, maka tim tuan rumah akan dikenakan denda sebesar Rp 5 juta.

Wartawan dan fotografer hanya boleh mengambil gambar maupun wawancara pada saat konfrensi pers usai pertandingan atau saat technical meeting bersama pelatih kepala, manager tim dan pesepakbola saatu hari sebelum kick off. Jika salah satu dari mereka tidak hadir, maka tim tersebut akan dikenakan denda Rp 5 juta.

“Sebenarnya aturannya sudah baku semua tapi ada yang krusial sekali. Nah terutama teman-teman yang membawa kamera, plus handycam itu dilarang masuk area lapangan, mau tidak mau. Kalau nanti tidak ketahuan tidak masalah, tapi kalau ketahuan yang di denda Persiba,” kata Jamal Al Rasyid Senin, 2 Mei 2016.

Pada musim ini, PT GTS menyiapkan 14 pasal yang mengatur sanksi dan denda. Peserta TSC 2016 pun wajib mematuhi aturan ini. Aturan ini diberlakukan dengan merujuk pada kompetisi sepakbola di Eropa.

Namun menurut Jamal, pelarangan ambil gambar bagi jurnalis dan kewajiban staf pelatih maupun manager untuk hadir pada technical meeting terkesan kaku. Bahkan Jamal mengaku jarang menghadiri pertemuan tersebut. Saat dirinya menjadi Manager Persiba selama 3,5 musim, Jamal hanya tiga kali mengikuti technical meeting dan tidak kena denda.


Editor: Damar Fery Ardiyan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!