Tim WISSEMU di Puncak Uhuru, Kilimanjaro (doc. Mahitala Unpar)

KBR - Tiga perempuan pendaki yang tergabung dalam Women of Indonesia‚Äôs Seven Summits Expedition (WISSEMU)  Mahitala Universitas Katolik Parahyangan (Unpar)  segera kembali ke tanah air besok. Tim itu sebelumnya telah menaklukkan 3 dari 7 puncak gunung tertinggi dunia atau yang biasa disebut Seven Summits. 

Tim publikasi WISSEMU Alfons Yoshio mengatakan, sebelum pulang ke tanah air, tim yang terdiri dari Fransiska Dmitri Inkiriwang, Mathilda Dwi Lestari, dan Dian Indah Carolina bertolak dulu ke Arusha, Tanzania sebelum dijemput di Bandara Soekarno Hatta besok.

Puncak Cartenz Pyramid, Papua

Pendakian pertama Fransiska cs dimulai pada Agustus 2014. Saat itu, ketiga mahasiswa aktif Universitas Parahyangan itu berhasil menapaki puncak tertinggi di tanah air yakni Carstensz Pyramid yang terletak di Pegunungan Jaya Wijaya, Papua. Puncak Carstensz Pyramid berada di ketinggian 4.848 meter di atas laut (mdpl). 


Bendera Merah Putih pun berkibar dengan gagahnya di Puncak Carstensz pada hari kemerdekaannya. Saat itu tim bergabung bersama tujuh anggota Mahitala lainnya dalam ekspedisi penggantian jalur tali yang sudah mulai rusak di kawasan puncak Carstensz pyramid.

Puncak Elbrus, Rusia 

Perjalanan trio perempuan pendaki berlanjut ke Rusia dalam rangka menaklukkan gunung tertinggi di benua eropa, yakni Elbrus. Berangkat pada 8 Mei 2015 tim sampai di Moscow untuk kemudian berpindah ke Mineralnye Vody dua hari kemudian (10/5/2015) via maskapai penerbangan lokal. Setelah tiga hari melakukan program aklimatisasi dan satu hari snow exercise untuk mempelajari penggunaan ice axe dan crampon akhirnya pendakian ke puncak (summit attack) dilakukan pada 15 Mei. Gunung Elbrus ini dikenal dengan puncak kembarnya yang memiliki ketinggian diatas 5600 meter diatas permukaan laut (mdpl) dimana Puncak Barat (5642 mdpl) lebih tinggi ketimbang Puncak Timur (5621 mdpl). Selain itu Gunung Elbrus juga memiliki dua jalur utama yaitu Jalur Utara dan Jalur Selatan. Tim WISSEMU mencapai Puncak Barat melalui Jalur Selatan setelah melalui summit attack selama 7 jam 35 menit.

Puncak Uhuru, Kilimanjaro, Tanzania

Usai menaklukkan puncak tertinggi di Eropa, Fransiska cs langsung bertolak ke Tanzania, Afrika Timur. Kali ini, misi mereka adalah menaklukkan Kilimanjaro, gunung tertinggi di Benua Afrika. Nama 'Kilimanjaro' berasal dari Bahasa Swahili yaitu 'kilima' yang berarti 'gunung' dan 'njaro', yang berarti ' bercahaya'. Dalam bahasa Masai, gunung ini juga disebut Kilima Dscharo atau Oldoinyo Oibor yang berarti gunung putih.

Pendakian Kilimanjaro dimulai pada 20 Mei 2015 yang juga bertepatan degan Hari Kebangkitan Nasional. Selama empat hari, Fransisca cs menapaki lereng Kilimanjaro sebelum akhirnya pada Minggu 24 Mei 2015 tiba di Puncak Uhuru, puncak tertinggi Kilimanjaro. Summit attack dimulai pada pukul 00.25 dari Barafu Hut dan berlangsung selama tujuh jam lima menit. Sehingga tepat pukul 07.30 waktu setempat tim berhasil mengibarkan merah putih dan membawa serta angklung ke puncak Gunung Kilimanjaro.

Ketinggian Gunung Kilimanjaro mencapai 5.895 meter di atas permukaan laut (Mdpl).  Gunung api ini memiliki tiga puncak yaitu Kibo, Mawenzi, dan Shira dengan Kibo sebagai puncak tertingginya. Gunung Kilimanjaro memiliki keunikan tersendiri karena memiliki lima zona iklim yang berbeda yaitu Bushland (tropis), Rain Forest (tropis), Heath (semi-alpine), Alpine Desert (iklim gurun), dan artic (salju) karena perbedaan iklim ini maka walaupun berada di daerah iklim tropis namun terdapat ice cap di puncaknya.

Pendakian berlanjut

Tim publikasi WISSEMU Alfons Yoshio, pendakian selanjutnya akan direncanakan tim di Bandung. Kata dia, seluruh rangkaian pendakian tujuh puncak tertinggi di tujuh benua ini ditargetkan selesai pada Juni tahun 2016 mendatang.



Editor: Citra Dyah Prastuti 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!