Pasangan ganda putra Indonesia Angga Pratama (kiri) dan Ricky Karanda Suwardi (kanan) saat berlaga di turnamen BCA Indonesia Open Superseries Premier 2015 di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (3/6). Antara Foto

KBR - Pasangan ganda putra Indonesia, Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi gagal meraih juara dan harus puas menempati posisi runner-up pada ajang SKYCITY New Zealand Open 2016 yang berakhir di Selandia Baru hari ini.

Pada laga partai final yang berlangsung di North Shore Events Centre, Auckland, duet Angga/Ricky yang menempati unggulan dua harus mengakui ketangguhan duet Korea Selatan unggulan dua, Ko Sung Hyun/Shin Baek Cheol. Angga/Ricky takluk dalam laga dua game dengan skor 18-21 dan 14-21.

Kemenangan Ko/Shin atas duet Indonesia memastikan Korea Selatan merebut dua gelar juara di ajang turnamen berkelas grand prix gold dengan total hadiah USD 120 ribu. Gelar pertama Korea Selatan diraih dari nomor tunggal putri lewat andalannya Sung Ji Hyun. Menempati unggulan satu, Ji Hyun naik ke podium juara dengan menaklukkan tunggal putri Jepang, Aya Ohori dua game langsung 21-15 dan 21-17.

Di nomor ganda putri duet Korea Selatan, Chang Ye Na/Lee So Hee yang menempati unggulan dua tak berhasil menyumbangkan gelar juara. Ye Na/So Hee harus puas di posisi runner up setelah takluk di tangan ganda putri Jepang, Yuki Fukushima/Sayaka Hirota dalam laga dua game 13-21 dan 16-21.

Gagal di tunggal putri, Jepang juga tak berhasil meraih gelar juara di nomor tunggal putra lewat andalannya Riichi Takeshita. Takeshita takluk di tangan tunggal Tiongkok, Huang Yuxiang dalam laga dua game 12-21 dan 17-21.

Sementara ganda campuran Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying merebut gelar juara. Di final Chan/Goh menaklukkan pasangan Tiongkok, Zheng Siwei/Li Yinhui dua game langsung 21-19 dan 22-20. (bulutangkis.com) 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!