Kesempatan Terakhir bagi Ranieri

Ranieri diberi kesempatan untuk menyelamatkan klub juara bertahan Liga Inggris itu dari zona degradasi.

Rabu, 08 Feb 2017 14:01 WIB

Bendera klub sepakbola Leicester City. (Foto: fourthandfifteen/Flickr/Creative Commons)

KBR - Klub sepakbola Leicester City tidak akan memecat Claudio Ranieri dari posisi manajer atau pelatih klub, sampai akhir musim.

Ranieri diberi kesempatan untuk menyelamatkan klub juara bertahan Liga Inggris itu dari zona degradasi.

Setelah mengejutkan dunia dengan menjuarai Liga Inggris musim lalu, Leicester City kembali mengejutkan dari perseptif negatif. Tim ini tampil kedodoran. Dari 24 pertandingan di Liga Inggris, Leicester City hanya menang lima kali, imbang enam kali dan menelan kekalahan 13 kali.

Kekalahan terakhir dirasakan Leicester ketika ditekuk Manchester United dengan skor 3-0 di kandang sendiri, 5 Februari lalu.

Musim ini, Ranieri hanya mampu merebut 21 poin dari 72 poin yang diperebutkan, dan Leicester terperosok ke posisi 16 klasemen sementara Liga Inggris. Leicester kini hanya terpaut dua poin dari zona degradasi.

Bandingkan dengan musim 2015-2016 lalu. Dari 38 pertandingan, Leicester menang 23 kali, imbang 12 kali dan hanya tiga kali kalah.

Hasil kontras itu membuat posisi pelatih berjuluk Tinkerman, karena sering mengubah formasi pemain, itu terancam di kursi pelatih.

Hanya satu pembeda yang menjadikan kursi Ranieri sedikit aman. Klub yang dimiliki pengusaha Thailand, Vichai Srivaddhanaprabha itu kini masih bertahan hingga babak 16 besar Liga Champions Eropa.

Sportsmail memberitakan Ranieri sudah berbicara dengan pemilik klub usai kekalahan terakhir atas Manchester United. Dikabarkan Ranieri mendapat jaminan hingga akhir musim.

Namun Sportsmail menulis kepercayaan para pemain terhadap Ranieri mulai berkurang dalam beberapa waktu terakhir, terkait perubahan taktik yang membingungkan dan membuat tingkat kepercayaan menurun.

Pada awal November lalu, misalnya. Hanya beberapa jam sebelum menjalani pertandingan Liga Champions melawan Copenhagen FC, Ranieri mengubah strategi permainan menggunakan menjadi 3-4-3, yang ternyata tidak berhasil baik.

Ranieri hanya memainkan pola 3-4-3 selama 40 menit sebelum kemudian mengubah ke pola lama, 4-4-1-1 atau 4-4-2. Pertandingan hanya berakhir imbang 0-0.

Ranieri kembali membuat kesalahan ketika menghadapi Chelsea pada pertengahan Januari 2017. Saat itu Ranieri menggunakan pola tiga bek menghadapi Chelsea yang juga menggunakan tiga bek. Hasilnya, Leicester ditekuk 0-3 Chelsea di kandang sendiri.

Setelah menelan kekalahan dari Chelsea, Ranieri kembali menggunakan pola empat bek saat bertandang ke markas Southampton. Ranieri melakukan improvisasi dengan menerapkan formasi berlian di lapangan tengah.

Hasilnya? Leicester City kembali menelan kekalahan 3-0 dari Southampton. (Dailymail/Telegraph/ESPN)  

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi

  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

Demi Kesetaraan, Kemenhub Berkeras Batasi Tarif Taksi Online

  • Kasus Hakim Praperadilan Setnov Segera Masuk Sidang Panel KY
  • Kasus Pribumi, Polri Masih Kaji Laporan terhadap Anies Baswedan
  • Pernikahan Usia Anak di NTB Masih Tinggi